Jumat, 10 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Efek Psikologis yang Mendorong Orang "Kecil" menjadi "Super"

MENURUT catatan sejarah, pada tahun 1922 imperium Britania telah meliputi wilayah seluas 33.000.700 kilometer persegi

Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Andrew_Pattymahu

Oleh: Fariz Ohoiwirin
Mahasiwa Sekolah Tinggi Filsafat-Seminari Pineleng

MENURUT catatan sejarah, pada tahun 1922 imperium Britania telah meliputi wilayah seluas 33.000.700 kilometer persegi atau seperempat luas seluruh bumi dan melingkupi penduduk sebanyak 458 juta orang atau sebagian besar populasi dunia saat itu. Dari segi jumlah penduduk dan luas wilayah, imperium Britania (Inggris Raya) adalah imperium terbesar dalam sejarah.
Namun banyak orang akan terperangah ketika mengetahui keadaan sebenarnya dari negara penguasa tersebut. Inggris Raya (negara persatuan antara England, Wales, Skotlandia dan Irlandia Utara, yang dalam bahasa Indonesia sering disebut Inggris saja), hanyalah sebuah negara yang terletak pada kepulauan kecil di sebelah barat Eropa yang besarnya hampir sama dengan Pulau Jawa. Ia terpisah secara gografis dengan bangsa-bangsa Eropa lainnya oleh sebuah selat. Keadaan geografis yang demikian telah membuatnya jauh dari proses interaksi dengan masyarakat Eropa lainnya. Selama beberapa abad, tanah Inggris dijajah dan orang aslinya (bangsa Anglo dan Saxon) harus tunduk kepada kekuasaan orang-orang Perancis di bawah kekuasaan Wiliam sang penakluk.

Selain itu, negara-negara Eropa daratan kadang menggap Inggris sebagai bangsa pinggiran yang berkebudayaan rendah. Bahkan pada peta "map of Regina" yang dibuat di Münster tahun 1570, yang mengambarkan atau mendefinisikan benua Eropa, Inggris bersama Skandinavia dianggap tidak layak dimasukkan ke dalam "Eropa." Artinya, Inggris pernah tak dianggap dan dipandang dengan sebelah mata oleh bangsa Eropa lainnya. Yang lebih menyedihkan, kepulauan Britania Raya (Great Britain) ternyata merupakan kepulauan yang miskin sumber daya alamnya di Eropa. Cuaca dan iklimnya pun tak begitu nyaman dan menguntungkan.

Melihat semua kenyataan itu, orang akan terkagum-kagum bahwa negeri yang sebenarnya penuh susah dan derita serta terpinggirkan itu malah menjadi negeri penguasa yang memiliki jajahan paling luas. Itu sebabnya bahasanya digunakan sebagai bahasa internasional sampai saat ini. Tidak hanya itu, Inggris juga merupakan tempat terjadinya revolusi industri yang telah mengubah dunia untuk selamanya.

Kondisi Inggris yang super sulit telah membentuk orang-orangnya menjadi pribadi yang kreatif dan inovatif. Mereka memiliki "rebelion of soul". Jjiwa masyarakat Inggris memberontak terhadap segala marginalisasi yang dikenakan padanya. Jiwa masyarakat Inggris juga memberontak melawan segala keadaan alam yang tak menguntungkan mereka.

Dan dalam kenyataananya, bangsa Inggris yang telah menghadapai tantangan-tantangan tersebut dengan startegi yang mumpuni. Oleh karena musim dingin yang ekstrem, mereka telah hidup terjadwal serta memiliki perkiraan tentang waktu menuai dan menyimpan hasil panen. Mereka juga membentuk dan menciptakan gudang-gudang penyimpanan makanan. Hal ini disebut sebagai manajemen waktu dalam bekerja, yang merupakan cikal bakal bagi penerapan jadwal kerja pada perusahaan produktif modern. Sistem ini juga telah menimbulkan teknologi maju dalam bidang pertanian. Sementara itu dalam menyikapi berbagai penyakit ganas yang menyerang seperti wabah pes dan kolera, ditemukanlah berbagai penemuan antiseptik dan jenis obat-obatan modern seperti yang dimulai oleh Joseph Lister dengan menemukan pensilin. Kebutuhan akan sanitasi yang baik di negara ini khususnya dalam menangani prajurit korban perang, telah mendorong Florence Nightingle untuk menciptakan suatu sistem keperawatan modern.

Dalam menyikapi bahan baku yang kurang dan miskin, orang Inggris berusaha keras untuk mencari cara mendapatkan sumber energi baru dan mereka berhasil menemukan berbagai mesin industri seperti penemuan mesin uap oleh Jamaes Watt dan kapal uap oleh Robert Fulton. Dapat dikatakan bahwa industrialisasi di Inggris lahir dari kekurangan bahan alam mereka.

Di sisi lain, sebagai suatu masyarakat negara dari pulau yang pernah dikucilkan dari lingkungan peradaban barat, Inggris telah menunjukkan dirinya sebagai penguasa yang tak dapat dipandang sebelah mata. Hal ini dimulai pada 1496, ketika Raja Henry VII naik takhta. Ia merasa iri akan keberhasilan Spanyol dan Portugis dalam merengkuh wilayah jajahan baru. Inggris pun bangkit dan negara yang luasnya hanya sebesar Pulau Jawa itu telah merengkuh dunia yang begitu luas. Penguasaan Inggris atas lautan membuat mereka disebut sebagai "The Ruler of Waves" atau penguasa samudera. Mereka telah mengubah segala kesukaran menjadi peluang

Inilah efek pulau Britania Raya (Great Britain effect). Kami menggunakan istilah ini untuk menamakan efek psikologi pada manusia secara individual, yang dianalogikan dari kenyataan masyarakat Britania Raya yang awalnya terasing dari lingkungan peradabannya dan mengalami kompleksitas problematika hidup, namun kemudian berbalik menjadi masyarakat dan bangsa yang jaya. Great Briatin effect ini dapat terlihat dalam mekanisme psikis manusia secara individual. Manusia-manusia yang paling bermasalah dan miskin perhatian, manusia-manusia yang paling bergumul dan paling dikucilkan oleh sekelilingnya, sesungguhnya adalah bagaikan sebuh pulau yang miskin dan terpisah dari sebuah benua, layaknya pulau Britania Raya. Mungkin seseorang itu secara fisik tidak menarik, dijahui banyak orang, miskin dan depresional karena hal negatif lain yang melekat pada pribadinya.

Namun sebenarnya orang-orang seperti inilah yang memiliki peluang untuk menerima dan mengalamai efek yang sama seperti masyarakat Britania Raya. Keadaan diri mereka yang serba sulit itu justru membuat mereka merasa terdorong untuk berambisi melawan keadaan itu dengan berusaha merebut suatu prestasi untuk mempertontonkan kehebatan diri mereka kepada "para lawannya." Dengan kata lain, si orang "kecil" itu akhirnya dapat berbalik menjadi "superior" berkat dorongan untuk menunjukkan power/kekuatanya. Hal senada sebenarnya telah dikemukakan pula oleh seorang psikolog Austria beraliran Neo-analisis yang benanama Alfred Adler (1870-1937). Ia menelurkan gagasan tentang inferior kompleks.

Teori ini mengatakan bahwa seorang yang merasa rendah diri akan dengan mudah terdorong untuk berbalik menjadi seorarang yang superior. Ia berjuang menghasilkan apa saja yang berprestasi demi mengangkat gengsi dan prestisenya.

Namun jika dikaji lebih dalam, dapat ditemukan bahwa sebenarnya bukan hanya perasaan inferior yang menjadi pendorong seseorang untuk maju, tetapi juga oleh dua hal lain yakni, keinginan untuk keluar dari masalah dan keinginan untuk dihargai. Keinginan untuk keluar dari masalah bukan hanya berkaitan dengan usaha untuk mencari solusi terhadapa masalah yang dihadapi, tetapi juga dapat berkaitan dengan keinginan untuk mengaktualisasikan diri. Keinginan untuk mengaktualisasikan diri adalah kebutuhan yang terbesar dan terdalam dari diri manusia sebagaimana yang dinyatakan oleh seorang psikolog aliran humanistik asal Amerika Serikat bernama Abraham Maslow (1908-1970).

Menurut Maslow, manusia ingin menunjukkan jati dirinya dengan menciptakan atau membuat suatu hal yang merupakan ekpresi dari keberadaan jiwanya. Hal itu dapat terlaksana dengan mencapai atau memproduksi suatu yang berguna dan bermakna bagi dirinya dan orang lain.

Nah, setiap orang dapat saja memperoleh efek ini dalam hidupnya dan terdorong untuk maju. Namun efek ini tidak terjadi begitu saja sejalan dengan kesulitan dan kesusahan yang diperoleh seseorang. Efek positif ini hanya dapat terjadi jikalau seseorang masih memiliki harapan untuk maju. Jika ia tidak memiliki ini, maka segala kesulitan hidup, depresi dan kemiskinan yang dialaminya hanya akan membuatnya makin terbenam dalam keterpurukan. Jadi harapan membuat segalanya berbeda.

Contoh Great Britain effect yang dapat dijadikan contoh adalah Napoleon Bonaparte. Napoleon sering diejek karena fisiknya yang pendek, ia juga sering mengalami banyak depresi akibat putus cinta. Namun harapan, niat dan keinginannya untuk menunjukkan jati dirinya, membuatnya terus melambung dalam karirnya sebagai seorang pemimpin militer. Ia ingin menunjukkan kepada orang lain bahwa ia bukan orang kecil yang pantas diremehkan. Sebaliknya ia berusaha menunjukkan dirinya sebagai seorang pemimpin yang patut disegani. Dan ia berhasil. Dalam umurnya yang ke-38, ia telah menjadi seorang diktator Prancis yang dikenang sebagai salah satu pemimpin paling berpengaruh dalam sejarah.

Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved