Kemeja biasa dan pakaian dinas menjadi pesanan rutin.
Fajar bercerita, pandemi Covid-19 menjadi titik terendah usahanya.
Hampir sebulan, usaha jahit sepi pemesan. Namun, Fajar tak menyerah.
“Saya putar otak. Akhirnya kami buat masker dari kain. Waktu itu sangat dicari karena memang kebutuhan, itu yang bikin bisa bertahan."
"Waktu itu memang sangat sulit, sebulan kadang hanya satu orang yang datang buat jahit," lanjutnya bercerita.
Meski begitu, ia bersyukur bisa melewati semuanya. Kini, hasil kerja kerasnya mulai terlihat.
Dari usaha jahit, ia sudah mampu memenuhi kebutuhan hidup serta membiayai pendidikan anak-anaknya.
Anak pertamanya telah lulus S1 di Unsrat, sementara anak kedua masih menimba pendidikan.
Bagi Fajar, kunci keberhasilan usaha jasa adalah Prinsip.
Yaitu profesionalisme dan menjaga kepercayaan pelanggan.
“Kalau hasilnya bagus, tepat waktu, pasti mereka datang lagi,” katanya.
Ia juga menolak anggapan bahwa tukang jahit dipandang sebelah mata. Menurutnya, jasa penjahit bisa menopang hidup.
Bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga bisa memberi kerja bagi orang lain.
Kepada anak muda, Fajar berpesan agar memiliki prinsip dan tidak mudah menyerah.
“Hidup itu tidak berhenti di satu titik. Harus punya cita-cita, harus hemat. Kalau ada prinsip, pasti bisa maju,” ujarnya menutup pembicaraan.
(TribunManado.co.id/Pet)
Ikuti Saluran WhatsApp Tribun Manado dan Google News Tribun Manado untuk pembaharuan lebih lanjut tentang berita populer lainnya.