MANADO, TRIBUNMANADO.COM – Suasana sederhana tampak di sebuah rumah usaha jahit yang berdiri di Jalan D.I Panjaitan, Calaca, Wenang, Kota Manado, Sulawesi Utara (Sulut) tepat di belakang Klenteng Ban Hing Kiong.
Kamis (28/8/2025) sekira pukul 2 siang, Tribun Manado berkunjung ke tempat tersebut.
Begitu masuk, kondisi di dalam tampak sibuk. Ada beberapa orang yang bekerja.
Disana, ada seorang pria paruh baya terlihat sibuk mengukur kain untuk dijahit.
Dialah Fajar (55), seorang penjahit asal Gorontalo yang merantau sejak tahun 90-an di Manado yang juga merupakan pemilik dari tempat tersebut.
Ia ramah dan murah senyum yang tulus, ia menyapa dengan hangat.
“Dulu saya hanya pekerja di sini. Tapi setelah bos pindah, saya lanjutkan sendiri,” ujarnya sambil mengukur kain di atas meja.
Fajar bercerita, dia bukanlah lulusan sekolah mode atau kursus tukang jahit.
Ia justru menyelesaikan studi Diploma Perbankan di salah satu perguruan tinggi di Teling.
Namun, nasib berkata lain.
“Waktu lulus, krisis moneter melanda. Bank-bank sudah tidak buka lowongan.
Karena ada teman yang ajak belajar menjahit, saya ikut. Awalnya hanya untuk bertahan hidup, karena waktu itu merantau,” kisahnya.
Karena keadaan, ayah dua anak itu berlatih tanpa kenal lelah. Hanya beberapa bulan saja, dia sudah mahir menjahit dengan baik.
Sejak 1998 tempat jahit itu sudah berdiri.
"Saya dulu disini hanya karyawan," kata dia sambil melihat kain yang tengah ia ukur.