Selain awalnya digunakan sebagai tempat bermusyawarah membagi wilayah suku Minahasa, Watu Pinawetengan juga digunakan sebagai tempat pertemuan keluarga Minahasa.
Hal ini dilakukan sebagai ajang untuk mempererat tali kekeluargaan antar sesamanya.
"Dari pertemuan-pertemuan tersebut, tercetus beberapa amanat seperti Masawang-sawangan yang artinya cipta rasa saling tolong menolong. Masasan yang artinya cipta rasa persatuan dan kesatuan, serta maleos-leosan yang berarti saling berbuat baik," ujar Ari Ratumbanua, sang juru kunci.
Cagar budaya yang disahkan melalui Undang-undang Nomor 5 Tahun 1992 ini berdiri megah seolah menatap sebagian besar wilayah Minahasa.
Dari tempat tersebut bisa dilihat Danau Tondano, hamparan perkebunan warga dan beberapa perkampungan. Seolah menjadi tempat ideal untuk membagi daerah seperti yang dikisahkan dalam legenda Toar-Lumimuut.
"Ada tiga alasan kenapa pegunungan Manimporok ini dijadikan lokasi pembagian tersebut. Faktor tersebut antara lain dekatnya lokasi perbukitan dengan sumber mata air, dianggap sebagai lokasi yang berada di tengah-tengah wilayah Minahasa, dan tidak adanya gangguan," ujar Ari lagi.
Situs ini menjadi satu di antara destinasi wisata favorit di Minahasa.
Tak hanya warga Minahasa, wisatawan dari daerah lain, maupun manca negara berkunjung ke sini.
Ada juga kelompok warga yang rutin mengunjungi tempat tersebut.
"Mereka biasanya adalah perkumpulan budayawan yang datang untuk sekadar berdiskusi atau bertemu dengan warga lainnya. Mereka sama-sama memiliki hasrat yang besar untuk mengembangkan dan mempertahankan kebudayaan asli Minahasa," jelasnya Ari.
Permukaan Watu Pinawetengan
Bahkan beberapa orang yang rutin mengunjungi Watu Pinawetengan, ada ritual khusus yang diadakan tiap 3 Januari untuk melakukan ziarah.
Sementara itu, karena nilai sejarah dan budaya yang kental, tiap Tgl 7 Juli dijadikan tempat pertunjukan seni dan budaya yang mulai terkikis di Minahasa.
Saat berkunjung ke sini, di ujung atas batu ini banyak bekas-bekas rokok yang masih menyala.
Itu dipasang oleh warga yang datang berkunjung. Pemasangan rokok tersebut sempat tersaksikan juga. Rokok itu dikeluarkan puntungnya, dan dibiarkan habis begitu saja.