"Kecuali jika Anda ingin hidup dalam kegelapan selama sisa hidup Anda, terisolasi dari seluruh dunia dalam kemiskinan, dan hidup dalam kegelapan, Anda perlu melangkah maju," cuitnya.
Dalam konferensi pers Jumat (4/3/2022) lalu, Sekretaris Pers Gedung Putih Jen Psaki mengutuk pernyataan Graham.
"Itu bukan posisi pemerintah Amerika Serikat dan tentu saja bukan pernyataan yang akan Anda dengar dari mulut siapa pun yang bekerja di pemerintahan ini," jawab Psaki.
Ketika ditanya apakah Presiden Joe Biden memiliki pandangan yang sama dengan Graham, Psaki kembali mengutuk gagasan itu.
Dia mengatakan Biden percaya ada solusi damai untuk invasi yang sedang berlangsung jika Putin memulainya.
"Presiden yakin akan terus ada jalur diplomatik ke depan," kata Psaki.
Psaki mengatakan koridor kemanusiaan atau gencatan senjata akan menjadi langkah yang disambut baik oleh pemerintah AS jika Putin setuju.
"Tapi tidak, kami tidak menganjurkan untuk membunuh pemimpin negara asing atau perubahan rezim," lanjutnya.
"Itu bukan kebijakan Amerika Serikat."
Komentar kontroversial dari Graham juga membuat gusar juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov.
"Tentu saja, akhir-akhir ini tidak semua orang berhasil mempertahankan pikiran yang sadar, saya bahkan akan mengatakan pikiran yang sehat," katanya, menyerukan persatuan nasional dari Rusia.
Publik bereaksi serupa dengan sejumlah pejabat tinggi tersebut.
Dilaporkan Newsweek, di Twitternya sejumlah orang meminta Graham untuk mengundurkan diri atas pernyataan itu.
Saat invasi Rusia ke Ukraina berlanjut, sejumlah tokoh konservatif AS yang sebelumnya memuji Vladimir Putin dihadapkan pada situasi yang rumit.