MTPJ 1 JANUARI 2022 – (KHOTBAH PERMULAAN TAHUN)
TEMA :“Peace Starts With Me (Perdamaian Mulai Dari Diri Sendiri)”
BACAAN ALKITAB: Kejadian 32:1-21
Shalom….
Terpujilah Tuhan Allah yang oleh anugerah-Nya telah memperkenankan kita memasuki tahun baru sebagai tahun rahmat Tuhan bagi orang yang mempercayakan hidupnya kepada Tuhan.
Hari ini juga bertepatan dengan perayaan hari perdamaian dunia. Sehubungan dengan hal itu tema khotbah adalah Peace starts with me (Perdamaian dimulai dari diri sendiri). Tema ini digaungkan untuk menggugah nurani setiap umat manusia agar menyatu bersama membangun perdamaian dunia. Dunia yang bebas peperangan, permusuhan dan kebencian.
Dunia seperti ini digambarkan kitab Kejadian seperti Taman Eden, dimana ada: Hidup harmoni dengan Pencipta, dan sesama ciptaan yaitu seluruh mahkluk di muka bumi ini. Tentu tidak mudah membangun dunia damai di tengah kebisingan, egoisme manusia yang mencari dan meraup kenikmatan yang berpusat pada diri sendiri.
Seorang ibu pernah menjumpai Bunda Theresa, sosok fenomenal peraih Nobel yang mendedikasikan dirinya dalam pelayanan kepada orang-orang miskin. Ibu ini, berkeinginan untuk mengambil bagian di dalam perdamaian dunia. Kata Bunda Theresa, pulanglah ke rumahmu. Artinya perdamaian dunia tidak dimulai dari orang lain melainkan mulai dari keluarga sendiri, diri sendiri.
Bacaan kita hari ini menceritakan tentang Yakub yang begitu ketakutan bertemu dengan saudara kembarnya, Esau. Ia takut karena ia mengambil hak kesulungan saudaranya dengan cara yang tidak jujur atau menipu. Namun kita tidak boleh terjebak di dalam polemik ini, melainkan melihatnya dari persepsi iman, bahwa Allah berdaulat merancangkan apa yang terbaik bagi umat-Nya kendati umat-Nya pernah melakukan kesalahan.
Kembali ke soal Yakub, ia meninggalkan mertuanya, Laban dan melanjutkan perjalanan untuk mengubah kembali masa lalu yang pahit dengan membangun keluarga yang rukun dan damai.
Baca juga: Piala AFF 2020: Hasil Sementara Thailand vs Indonesia, Blunder Kiper, Ricky Cetak Gol, Skor 0-1
Yakub memulaikan perjalanan hidupnya bersama dengan Tuhan. Kita percaya hanya orang yang selalu memulaikan perjalanan hidupnya bersama dengan Tuhan, maka dia dapat mengubah masa lalu yang pahit dan kelam menjadi masa kini dan masa depan yang membahagiakan dan menyejahterakan.
Yakub memiliki rancangan strategis untuk memulaikan perdamaian dengan saudaranya. Metode ini sangat tepat untuk menggugah nurani persaudaraan dan menghilangkan kemarahan atau kebencian. Ia mulai dengan doa, merancang waktu yang tepat langkah demi langkah, menggunakan kata-kata yang bijak untuk mengambil hati atau mendapatkan kasih kakaknya, Esau.
Ia menyuruh utusannya berjalan lebih dahulu dan menyampaikan kepada Esau, pengalaman hidupnya sebagai orang asing dan bagaimana ia berjuang keras untuk mendapatkan isteri, dan menikmati hidup sejahtera di tanah orang. Ia pergi hanya dengan tongkat, kini pulang dengan keluarga dan kekayaan berlimpah.
Ia membagi dua pasukan untuk menjumpai Esau. Dalam kekalutan dan kesesakan hatinya ia berdoa memohon bahwa Tuhan yang menyuruhnya kembali (Pulkam) akan berbuat baik kepadanya. Ia mengaku akan ketidaklayakan terhadap kasih setia Tuhan. Ia percaya bahwa Tuhan akan melepaskan dan menjadikan keturunannya seperti pasir di laut yang tidak dapat dihitung.
Esau yang memiliki 400 orang pasukan yang bersama dengan dia menjumpai. Yakub memiliki prasangka yang buruk, ia berpikir kakaknya Esau akan membunuhnya. Dalam keadaan seperti ini, ia tidak mengandalkan kekuatannya, ia mengandalkan Allah yang berjanji padanya.
Hal ini seringkali juga kita lakukan, jika kita berlutut di hadapan Allah, maka kita dapat berdiri tegak di hadapan siapapun. Ketika kita mengangkat tangan maka Allah akan turun tangan untuk menolong umat-Nya.
Selanjutnya Yakub menyiapkan persembahan atau tanda kasih untuk Esau. Masing masing menurut jenisnya; kambing betina, kambing jantan, domba betina domba jantan, unta, lembu betina, lembu jantan, keledai betina dan keledai jantan. Jadi ada 9 (Sembilan) kumpulan. Yakub sengaja mengatur jarak setiap kumpulan untuk memperlambat waktu pertemuannya dengan Esau.
Cara ini sangat strategis untuk menunjukkan penghormatannya kepada kakaknya, Esau. Cara ini disebutnya sebagai upaya mendamaikan hati orang yang membenci atau memusuhinya.
Baca tanpa iklan