Tiga orang tentara berlari ke arah Sadat dan tiba-tiba saja Jihan yang sedang tertawa-tawa mendengar ledakan granat.
Gelegar granat tertelan raungan jet di udara. Asap mengepul.
Jihan Sadat langsung menoleh ke arah suaminya.
Presiden Anwar Sadat terlihat sedang berdiri menunjuk ke arah pengawalnya.
Itulah terakhir kalinya Jihan melihat suaminya dalam keadaan hidup.
Setelah itu terdengar teriakan-teriakan dan peluru menembusi dinding kaca penutup balkon.
Semua orang yang ada di situ panik, sedangkan cucu-cucu Jihan menangis ketakutan.
Ketika itu, Jihan yakin suaminya pasti selamat, ia pun berusaha menenangkan beberapa istri pejabat.
Setelah keadaan sudah lebih tenang, Jihan pun mencari Anwar yang tidak kelihatan di tempat semula.
"Beliau baik-baik saja, Bu," kata seorang pengawal presiden yang seragam putihnya bernoda darah.
"Cuma luka di lengan. Tadi saya membawanya ke helikopter. Sekarang beliau berada di RS Maadi."
Kemudian Jihan mengumpulkan cucu-cucunya, lalu menyusul dengan helikopter ke rumah sakit.
Sementara, putri-putrinya yang tidak ikut ke stadion sudah berada di rumah sakit bersama suami mereka.
Terlihat Wapres Hosni Mubarak, yang tangannya dibalut karena terserempet peluru, begitu pula para menteri.
Suasana ruang tunggu rumah sakit hening mencekam.
Baca tanpa iklan