Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Harga Daging Babi di Sulut

Harga Daging Babi di Sulut Masih Dianggap Mahal, Akademisi Unsrat Minta Pemerintah Cari Solusi

Harga daging babi di Sulawesi Utara (Sulut) pascawabah African Swine Fever (ASF) masih dianggap mahal.

Tribun Manado/Petrick Sasauw
DAGING BABI - Potret daging babi di Pasar Pinasungkulan, Karombasan, Manado, Sulawesi Utara. Daging babi masih jadi primadona bagi warga Sulut. Harga daging babi di Sulawesi Utara (Sulut) pascawabah African Swine Fever (ASF) masih dianggap mahal meski populasinya sudah naik. Akademisi Usnrat minta pemerintah cari solusi untuk mengatasinya. 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Harga daging babi di Sulawesi Utara (Sulut) pasca wabah African Swine Fever (ASF) masih menjadi sorotan. 

Meski kini sudah turun menjadi sekitar Rp 100 ribu per kilogram.

Tapi harga tersebut masih jauh di atas harga normal sebelum ASF, yang hanya Rp 35–45 ribu per kilogram.

Tingginya harga ini dinilai perlu segera direspons pemerintah. 

Akademisi Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado, Vecky Masinambow, mengatakan bahwa intervensi pemerintah sangat dibutuhkan. Khususnya di sisi hulu peternakan. 

"Pertama, perlu ada sosialisasi menyeluruh soal cara beternak babi agar tidak terjangkit ASF. Ini menyangkut penerapan protokol kesehatan ternak yang standar," ujar Masinambow, Selasa (5/8/2025).

Intervensi kedua, kata dia, adalah fasilitasi bibit ternak yang sehat dan berkualitas. 

Namun hal ini menghadapi beberapa tantangan.

"Peternak sebagian masih trauma. Lalu, bibit babi yang sehat itu mahal dan sulit didapat. Ketiga, makanan ternak juga harus standar dan bebas risiko ASF," tambahnya.

Vecky Masinambow. Akademisi Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado.
AKADEMISI - Vecky Masinambow. Akademisi Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado.

Masinambow menyebut harga daging babi ke depan bisa saja turun, tetapi kemungkinan besar tidak akan kembali ke harga sebelum wabah ASF.

"Biaya usaha peternakan saat ini cenderung meningkat. Jadi wajar bila harga jualnya tidak akan kembali seperti dulu," jelasnya.

Ia pun mendorong pemerintah untuk hadir memberi solusi komprehensif.

"Kebijakan yang mendukung peternak lokal sangat penting untuk pemulihan ekosistem ternak babi di Sulut," tutupnya. (Pet)

Populasi Ternak Babi di Sulut Alami Kenaikan

Populasi ternak babi saat ini di Sulawesi Utara (Sulut) mengalami angka kenaikan yang tinggi.

Hal itu disampaikan Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Sulut Wilhelmina Pangemanan mengatakan bahwa saat ini populasi peternakan babi di Sulut berada di atas 100.000 setelah sebelumnya turun gara-gara wabah ASF.

Sumber: Tribun Manado
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved