Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Wajib Tahu

Akhirnya Terungkap Siapa Pemilik Wilmar Group, Produsen Sawit yang Duitnya Disita Kejagung Rp 11 T

Kejaksaan Agung (Kejagung) mengungkapkan bahwa total dana yang telah disita dari kelompok usaha raksasa ini mencapai Rp 11,8 triliun.

Istimewa/HO
WAJIB TAHU - Akhirnya Terungkap Siapa Pemilik Wilmar Group, Produsen Sawit yang Duitnya Disita Kejagung Rp 11 T. Wilmar Group tengah menjadi perhatian publik nasional setelah lima anak perusahaannya resmi ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi ekspor crude palm oil (CPO) atau minyak sawit mentah. 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Siapa Pemilik Wilmar Group?

Wilmar Group tengah menjadi perhatian publik nasional setelah lima anak perusahaannya resmi ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi ekspor crude palm oil (CPO) atau minyak sawit mentah.

Kejaksaan Agung (Kejagung) mengungkapkan bahwa total dana yang telah disita dari kelompok usaha raksasa ini mencapai Rp 11,8 triliun.

Jumlah fantastis tersebut berasal dari berbagai sumber keuangan milik korporasi sebagai bagian dari penyidikan dugaan praktik korupsi yang merugikan negara.

Baca juga: Akhirnya Terungkap Siapa Pemilik Gudang Garam, Raksasa Rokok yang Berdiri Sejak 1958, Kini Anjlok

Dari total uang yang disita, Rp 2 triliun ditampilkan dalam bentuk uang tunai. Pecahan Rp 100.000 itu ditumpuk tinggi dan memenuhi hampir setengah ruang Gedung Bundar Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus), yang belum lama ini selesai direnovasi.

Pemandangan tersebut memicu kehebohan publik dan viral di berbagai media sosial.

Penyitaan ini menjadi salah satu tindakan tegas Kejagung dalam mengusut skandal ekspor CPO yang selama ini dinilai sarat penyimpangan.

Kejagung menegaskan bahwa penetapan lima anak usaha Wilmar Group sebagai tersangka korporasi merupakan langkah penting dalam penegakan hukum atas kasus yang melibatkan sektor strategis nasional tersebut.

Kasus ini juga menandai fase baru dalam penindakan terhadap tindak pidana korupsi korporasi berskala besar, khususnya di sektor perkebunan dan ekspor komoditas unggulan Indonesia.

Dalam kasus korupsi CPO terdakwa PT Wilmar Group dituntut untuk membayar denda sebesar Rp 1 miliar dan uang pengganti sebesar Rp 11.880.351.802.619.

Wilmar awalnya terseret kasus korupsi penerbitan persetujuan ekspor kepada eksportir seharusnya tidak mendapat izin karena tidak memenuhi syarat DMO (Domestic Market Obligation) dan DPO (Domestic Price Obligation).

Dalam perkembangannya, Majelis Hakim menyatakan perbuatan itu bukan merupakan suatu tindak pidana (ontslag van alle recht vervolging) sehingga para terdakwa dilepaskan dari tuntutan JPU.

Belakangan terungkap, saat Kejagung mengajukan kasasi atas putusan pengadilan, majelis hakim yang menangani perkara ini sebelumnya diketahui menerima suap dari Wilmar.

Pemilik Wilmar Group

Wilmar Group atau Wilmar International tercatat sebagai salah satu produsen sawit terbesar di dunia.

Selain di Indonesia, perkebunan kelapa sawitnya juga berada di Malaysia.

Namun ketimbang di Indonesia, perusahaan ini memilih mencatatkan diri di Bursa Efek Singapura atau Singapore Stock Exchange (SGX). Wilmar International Ltd pernah masuk sebagai perusahaan sawit terbesar dunia pada tahun 2018.

Dikutip dari laman resmi SGX, Wilmar International Limited terdaftar di Bursa Efek Singapura sejak 20 Juli 2000. Kantor pusatnya berada di 28 Biopolis Road Wilmar International, Singapore 138568.

"Wilmar International Limited, didirikan pada tahun 1991 dan berkantor pusat di Singapura, saat ini merupakan grup agribisnis terkemuka di Asia," tulis SGX di situs resminya.

Masih menurut informasi dari SGX, Wilmar berada di antara perusahaan-perusahaan tercatat terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar di Bursa Efek Singapura.

Sementara dilihat dari laman resmi Wilmar International, pemegang saham mayoritas Wilmar Group adalah Kuok Group dan Archer Daniels Midland Company (ADM).

Kuok Group awalnya bernama Kuok Brothers Private Limited yang didirikan pada tahun 1949 di Johor Bahru, Malaysia. Bisnis awalnya adalah perdagangan beras, gula, dan tepung terigu.

Namun kini Kuok Group menjelma menjadi perusahaan multinasional yang bisnisnya berkembang di sektor properti, hotel, logistik, media, pelayaran, dan kelapa sawit.

Dalam situs resminya disebutkan, awal terbentuknya Wilmar International bermula dari kerja sama pemilik Kuok Group Kuok Khoon Hong dengan Martua Sitorus yang berasal dari Indonesia.

Keduanya mendirikan perusahaan patungan Wilmar Trading Pte Ltd pada 1 April 1991.

Kala itu modal awalnya hanya sebesar 100.000 dollar Singapura dengan 5 orang karyawan.

Titik balik perusahaan ini adalah ketika membuka perkebunan kelapa sawit di Sumatera, Indonesia.

Proyek pertama perusahaan tersebut adalah pendirian PT Agra Masang Perkasa (AMP).

Perusahaan ini mengelola perkebunan kelapa sawit seluas 7.000 hektare di Sumatera Barat. Kini, Wilmar merupakan salah satu pemilik perkebunan kelapa sawit terbesar di dunia dengan operasi hulu di Indonesia, Malaysia, Uganda, Pantai Gading, Ghana, dan Nigeria.

Bisnis sawit Wilmar Group ini kemudian terus membesar.

Tak hanya mengelola kebun sawit, perusahaan ini kemudian masuk ke hilir dengan mendirikan pabrik penggilingan inti sawit berkapasitas 50 MT/hari di Sumatera Utara dan kilang berkapasitas 700 MT/hari di Dumai.

Kilang yang dibangunnya di Dumai mulai beroperasi pada tahun 1993, dan terus diperluas hingga berkapasitas 2.400 MT/hari pada tahun 1995.

"Bisnis di Indonesia berkembang pesat dan kini kami menjadi penyuling minyak sawit, penggilingan inti sawit dan kopra terbesar, serta produsen lemak khusus, oleokimia, biodiesel, dan minyak kemasan konsumen di negara ini," tulis Wilmar International dalam situs resminya.

Wilmar Group kini menjadi salah satu perusahaan pengolahan minyak sawit terkemuka di Asia.

Perusahaan ini berfokus pada budidaya kelapa sawit, penghancuran biji minyak, penyulingan minyak nabati, penggilingan tepung dan beras, penggilingan dan penyulingan gula, manufaktur produk konsumen, makanan siap saji, produk dapur pusat, lemak khusus, oleokimia, biodiesel dan pupuk serta operasi taman makanan. 

Pemilik Wilmar Group yang baru

Untuk terus mengembangkan bisnisnya, Matua Sitorus dan Kuok Group kemudian menggandeng investor besar lainnya masuk ke dalam Wilmar, yakni Archer Daniels Midland (ADM) Amerika Serikat pada 1993.

Dengan sokongan keuangan tambahan dari ADM, Wilmar International terus menambah jumlah pabriknya. Perusahaan membuka banyak pabrik baru termasuk di China, Bangladesh, Australia, dan Afrika.

Perusahaan juga merambah bisnis kepemilikan kapal tanker dengan kapasitas 6.000 metrik ton, dan kini sudah berkembang menjadi 5 kapal tanker yang bila digabung berkapasitas 2.8 juta metrik ton.

Hingga sekarang, total saham ADM adalah sebesar 20 persen di Wilmar Group. Perusahaan AS ini menjadi pemegang saham dominan bersama dengan Kuok Group.

Di Indonesia, produk minyak goreng paling terkenal dari Grup Wilmar adalah Sania dan Fortune. Kedua merek ini menguasai pasar minyak goreng kemasan sangat besar di Tanah Air.

"Grup ini memiliki lebih dari 1.000 pabrik di lebih dari 30 negara dan wilayah. Jaringan distribusi yang luas meliputi China, India, Indonesia, dan sekitar 50 negara dan wilayah lainnya," tulis Wilmar Group di laman resminya. 

Artikel ini telah tayang di Kompas.com

-

Ikuti Saluran WhatsApp Tribun Manado dan Google News Tribun Manado untuk pembaharuan lebih lanjut tentang berita populer lainnya.

Baca berita lainnya di: Google News

WhatsApp Tribun Manado: Klik di Sini

 

Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved