Opini
Qurban: Melawan Nafsu Rakus Manusia
Gaya hidup kapitalistik yang menuhankan kepemilikan mendorong manusia untuk terus menumpuk, menguasai, bahkan mengeksploitasi tanpa batas.
Oleh:
Arhanuddin Salim
Dosen di IAIN Manado
SETIAP tahun umat Islam merayakan Idul Adha dengan menyembelih hewan qurban. Ritual ini tidak hanya menjadi bentuk ketaatan kepada Allah, tetapi juga merupakan momentum reflektif terhadap sifat dasar manusia-terutama sifat rakus dan egoistik yang kerap merusak tatanan sosial.
Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada amal anak Adam pada hari Nahr (Idul Adha) yang lebih dicintai Allah selain menyembelih hewan qurban.” (HR. Tirmidzi).
Di balik amalan ini, tersimpan pesan moral yang dalam: belajar memberi, berbagi, dan menahan diri dari kerakusan.
Rakus adalah tabiat lama manusia. Sejak kisah Habil dan Qabil, kita diperlihatkan bahwa kecintaan berlebihan terhadap dunia, kekuasaan, dan kepemilikan bisa mengantarkan manusia pada kehancuran.
Namun di era modern, ia mengambil bentuk baru: kerakusan terhadap harta, kuasa, dan pengaruh. Gaya hidup kapitalistik yang menuhankan kepemilikan mendorong manusia untuk terus menumpuk, menguasai, bahkan mengeksploitasi tanpa batas.
Hidup menjadi perlombaan tanpa ujung: siapa punya lebih, dialah yang dianggap berhasil.
Ibadah qurban hadir sebagai bentuk pelatihan spiritual untuk memotong “nafsu hewani” dalam diri manusia.
Sapi, kambing, atau domba yang disembelih bukan sekadar simbol pengorbanan, tapi juga perlambang bahwa dalam diri manusia ada sifat-sifat hewani yang mesti dikendalikan: tamak, serakah, dan mementingkan diri sendiri.
Sayangnya, ibadah qurban hari ini tak jarang terjebak dalam simbolisme. Orang berlomba-lomba menunjukkan hewan qurban yang paling besar, paling mahal, tanpa benar-benar memahami esensi spiritualnya.
Padahal, nilai qurban sejatinya terletak pada keikhlasan memberi dan distribusi manfaat kepada yang membutuhkan.
Dalam konteks sosial kita di Manado yang majemuk dan damai, ibadah qurban bisa menjadi jembatan solidaritas dan empati lintas batas.
Ia bisa menjadi ruang perjumpaan kemanusiaan, tempat solidaritas lintas iman dan budaya bisa tumbuh.
Berbagi daging bukan hanya kepada sesama muslim, tetapi juga kepada tetangga yang berbeda keyakinan, sebagai wujud Islam rahmatan lil alamin bukan sekedar slogan belaka.
| Ketika AI Semakin Akurat dari Dokter: Apa yang Terjadi pada Profesi Medis dan Kemanusiaan? |
|
|---|
| Warisan Budaya Tak Benda Harus Diapakan? |
|
|---|
| Catatan Seorang Jurnalis: We Shall Overcome |
|
|---|
| Dari Prestasi ke Dampak: Menguji Arah Baru Digitalisasi Daerah |
|
|---|
| Paskah dari Staurosimon ke Anastasimon, Keniscayaan Kehidupan Kekal |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/Tulisan-opini-oleh-Arhanuddin-Salim.jpg)