Selasa, 28 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Inilah Tanda-tanda Awal Orang Mengalami Demensia

Meskipun kebanyakan orang melihat hilangnya ingatan sebagai indikasi awal dari penurunan kognitif.

Editor: Arison Tombeg
Kolase TM/Shutterstock
DEMENSIA - Ilustrasi. Meskipun kebanyakan orang melihat hilangnya ingatan sebagai indikasi awal dari penurunan kognitif, gejala demensia dapat muncul beberapa tahun lebih awal dan mencakup perubahan perilaku, gangguan tidur, dan hilangnya empati; ini adalah hal-hal yang perlu diwaspadai. 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Meskipun kebanyakan orang melihat hilangnya ingatan sebagai indikasi awal dari penurunan kognitif, gejala demensia dapat muncul beberapa tahun lebih awal dan mencakup perubahan perilaku, gangguan tidur, dan hilangnya empati; ini adalah hal-hal yang perlu diwaspadai. 

Lupa nama atau di mana kunci mobil sering digambarkan sebagai "pasti demensia," dan begitulah kebanyakan orang memandang proses neurodegeneratif, tetapi sebagai seorang psikiater, saya tahu rahasianya. 
Buku Pegangan Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental – DSM-5, dalam edisi terbarunya, mengatakan bahwa kehilangan ingatan hanyalah bagian dari cerita demensia dan terkadang bahkan bukan gejala paling awal atau paling kentara. Menurut DSM, demensia dapat didiagnosis berdasarkan gejala lain seperti perubahan perilaku.

Dikutip YNet, Dr Oren Tene adalah ketua dari Sayap Psikiatri di Pusat Medis Tel Aviv Sourasky – Rumah Sakit Ichilov menjelaskan, gejala awal demensia dapat muncul dalam cara yang tidak terduga, terkadang dijelaskan secara keliru, dan karenanya mengarah pada diagnosis yang salah dan intervensi yang tertunda.

Sebuah artikel yang baru-baru ini diterbitkan di New York Times menyoroti gejala-gejala selain kehilangan ingatan, termasuk perubahan kepribadian yang tidak dapat dijelaskan dan pola tidur yang terganggu. Gejala-gejala ini sering muncul bertahun-tahun sebelum penurunan daya ingat terlihat. 

Dari sudut pandang psikiatris, gejala-gejala ini mudah disalahartikan sebagai depresi, kecemasan, atau bahkan gangguan bipolar lanjut.

Gejala awal demensia dapat muncul sebagai kondisi kejiwaan umum seperti mudah marah, impulsif, atau isolasi sosial, sehingga sering disalahartikan. Pasien dengan degenerasi frontotemporal (FTD), khususnya, dapat menunjukkan perilaku sosial yang tidak pantas, seperti paman yang tiba-tiba memukul anak perempuan dalam keluarga atau nenek yang secara tidak biasa dan tidak pantas mulai menceritakan lelucon yang kasar.

Pasien tersebut mungkin juga menunjukkan hilangnya empati yang dapat menyebabkan perilaku menyinggung orang lain atau keputusan keuangan yang terburu-buru.  

Selama bertahun-tahun berpraktik, saya menemui pasien yang didiagnosis mengalami depresi setelah menarik diri dari interaksi sosial atau menunjukkan ketidakpedulian terhadap orang lain. 

Namun, pemeriksaan lebih lanjut mengungkapkan bahwa fungsi eksekutif mereka terganggu, dan mereka kesulitan dalam perencanaan dan pengambilan keputusan. Kesulitan kognitif ini menunjukkan proses neurodegeneratif sebagai penyebab utama kondisi tersebut.   

Tidur terganggu

Gangguan tidur merupakan tanda bahaya lainnya. Meskipun gangguan tidur umum terjadi pada usia lanjut, perubahan drastis pada pola tidur, seperti terbangun berulang kali pada pukul 3 pagi atau merasa sangat lelah di siang hari, dapat mengindikasikan perubahan neurologis.

Misalnya, Demensia dengan badan Lewy (DLB) terkenal karena dampaknya pada tidur REM, yang menyebabkan pasien sering kali memerankan mimpi mereka dengan cara yang kasar. Hal ini sering disalahartikan sebagai Gangguan Stres Pascatrauma (PTSD).

Kesalahan keuangan

Keputusan finansial yang salah dapat menjadi tanda peringatan dini penurunan kognitif, bahkan sebelum kehilangan memori yang signifikan muncul. Pasien dapat mulai terlambat membayar, mungkin mulai berbelanja impulsif, atau rentan terhadap penipuan yang sebelumnya dapat dengan mudah dideteksi oleh mereka. Hal ini terjadi ketika demensia memengaruhi area otak yang bertanggung jawab atas penilaian, penilaian risiko, dan pengendalian impuls.

Di belakang kemudi

Mengemudi merupakan tugas kognitif yang juga dapat mengindikasikan tanda-tanda awal demensia. Melewatkan lampu merah, berhenti mendadak, atau disorientasi bahkan di lingkungan yang sudah dikenal dapat mengindikasikan penurunan fungsi eksekutif atau persepsi motorik. Sementara pengemudi yang lebih tua biasanya lebih berhati-hati, pasien dengan demensia mungkin mengambil lebih banyak risiko.

Saya sarankan agar keluarga memperhatikan kecelakaan yang nyaris terjadi, keraguan yang berlebihan atau kesulitan dalam mengemudi di malam hari yang dapat menjadi tanda peringatan dini dari penurunan kognitif.

Deteksi dini

Tantangan dalam diagnosis dini demensia adalah bahwa tanda-tandanya sering kali samar dan dikaitkan dengan usia tua, stres, atau kondisi mental lainnya. Sebagai seorang psikiater, saya mencoba mempertahankan pendekatan holistik yang mempertimbangkan perubahan kognitif, emosional, dan perilaku daripada hanya berfokus pada hilangnya ingatan.

Kesalahan dalam penilaian, perubahan pola tidur, perubahan kepribadian dan perilaku merupakan alasan untuk mencari evaluasi medis. Deteksi dini memungkinkan perencanaan yang lebih baik, akses ke perawatan baru, dan kemampuan untuk mempertahankan kualitas hidup yang aman untuk jangka waktu yang lebih lama.

Demensia lebih dari sekadar kehilangan ingatan; demensia adalah penurunan bertahap kemampuan otak untuk mengatur emosi, mengendalikan perilaku, dan membuat keputusan yang tepat. Tanda-tanda awal adalah kunci untuk diagnosis dan pengobatan dini. (Tribun)

 

Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved