Jumat, 24 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Analisa di Balik Kenaikan dan Penurunan Gunung Everest

Kekuatan tektonik mendorong gunung seperti Everest ke atas sementara erosi dan pencairan gletser membentuk kembali benua.

Editor: Arison Tombeg
Kolase TM/Shutterstock
KENAIKAN - Gunung Everest. Kekuatan tektonik mendorong gunung seperti Everest ke atas sementara erosi dan pencairan gletser membentuk kembali benua, memperlihatkan keseimbangan dinamis Bumi antara pengangkatan, pembusukan, dan perubahan yang disebabkan oleh iklim. 

Hal ini mirip dengan bagaimana bebek karet mengapung di bak mandi atau patung logam tenggelam ke dasar. Sejauh mana sebuah benua "mengapung" atau "tenggelam" bergantung pada massa dan kepadatannya relatif terhadap material di bawahnya—sama seperti kapal kargo yang berada lebih rendah di dalam air saat bermuatan berat.

Hal ini menjelaskan mengapa bagian benua yang paling padat dan berat—yang terbuat dari batuan basal—terletak lebih rendah di dataran tinggi dibandingkan wilayah yang sebagian besar terdiri dari granit, yang memiliki berat jenis lebih rendah dan karenanya “mengapung” lebih tinggi.

Benua terus-menerus menyesuaikan posisinya untuk mempertahankan keseimbangan isostatik, yaitu keadaan keseimbangan antara berat kerak dan gaya apung ke atas dari mantel. Ketika berat dihilangkan—seperti melalui erosi atau pencairan gletser di akhir zaman es, benua akan naik lebih tinggi.
Pengangkatan beberapa wilayah di Kanada, misalnya, merupakan hasil dari penyusutan gletser yang signifikan yang pernah menutupi wilayah yang luas selama Zaman Es terakhir.

Di Pegunungan Alpen bagian barat, aktivitas tektonik sangat minimal: meskipun erosi secara bertahap mengikis gunung, kompensasi isostatik mengangkatnya kembali ke atas, mempertahankan ketinggian yang relatif stabil. Sebaliknya, erosi di Pegunungan Alpen bagian timur lebih cepat, dan gunung-gunung di sana secara bertahap kehilangan ketinggian.

Sebuah studi baru-baru ini meneliti kenaikan permukaan Antartika, yang disebabkan oleh hilangnya massa gletser yang terus berlanjut. Para peneliti memperkirakan bahwa kenaikan bertahap ini—yang disebabkan oleh mencairnya es—dapat memengaruhi permukaan laut. Menurut studi tersebut, kenaikan ini dapat menyebabkan kenaikan permukaan laut hingga dua puluh meter.

Mengenali bahwa Bumi itu dinamis dan terus berkembang—dan mempelajari proses di balik perubahan ini—memungkinkan kita untuk mengantisipasi dan mempersiapkan diri dengan lebih baik terhadap perubahan yang dapat memengaruhi kehidupan kita sekarang dan di masa depan yang lebih jauh.

Memantau kecepatan dan arah pergerakan lempeng, serta mengidentifikasi wilayah yang aktif secara tektonik, dapat membantu melindungi kehidupan manusia, melestarikan sumber daya alam, dan menjaga lingkungan. (Tribun)

Sumber: Tribun Manado
Halaman 2/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved