Breaking News
Senin, 18 Mei 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Analisa di Balik Kenaikan dan Penurunan Gunung Everest

Kekuatan tektonik mendorong gunung seperti Everest ke atas sementara erosi dan pencairan gletser membentuk kembali benua.

Tayang:
Editor: Arison Tombeg
Kolase TM/Shutterstock
KENAIKAN - Gunung Everest. Kekuatan tektonik mendorong gunung seperti Everest ke atas sementara erosi dan pencairan gletser membentuk kembali benua, memperlihatkan keseimbangan dinamis Bumi antara pengangkatan, pembusukan, dan perubahan yang disebabkan oleh iklim. 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Kekuatan tektonik mendorong gunung seperti Everest ke atas sementara erosi dan pencairan gletser membentuk kembali benua, memperlihatkan keseimbangan dinamis Bumi antara pengangkatan, penurunan, dan perubahan yang disebabkan oleh iklim.

Tantangan mendaki puncak-puncak Himalaya, khususnya Gunung Everest , menjadi sedikit lebih besar dari waktu ke waktu—karena alasan sederhana: gunung-gunung ini masih menjulang, meskipun hanya beberapa milimeter setiap tahunnya. Proses serupa terjadi di Pegunungan Andes di Amerika Selatan dan Pegunungan Rocky di Amerika Utara bagian barat.

Sebaliknya, Pegunungan Ural dan Pegunungan Appalachian secara bertahap semakin rendah dari waktu ke waktu. Pengangkatan dan penurunan tanah diukur di seluruh wilayah planet ini, tidak hanya di wilayah pegunungan. Misalnya, sebagian wilayah Kanada naik beberapa milimeter per tahun secara rata-rata, dan bahkan benua Antartika pun perlahan naik.

Sifat Bumi yang dinamis ini mencerminkan fakta bahwa benua-benua—yang tampak stabil dan berlabuh—sebenarnya lebih seperti rakit yang mengapung di atas lapisan kental di bawah kerak bumi. Sejak abad ke-17, filsuf Inggris Francis Bacon mencatat bahwa tepi benua-benua Bumi saling menyatu seperti potongan-potongan puzzle. Misalnya, pantai barat Afrika bagian selatan sejajar dengan pantai timur Amerika Selatan, dan bagian utara Afrika Barat sesuai dengan kontur wilayah Karibia di Amerika Tengah.

Pada abad ke-20, ahli meteorologi Jerman Alfred Wegener mengembangkan pengamatan ini dengan teorinya tentang pergeseran benua. Ia mengusulkan bahwa semua benua dulunya bergabung dalam satu benua raksasa yang luas, yang ia sebut Pangaea (dari bahasa Yunani yang berarti "semua daratan"). Seiring berjalannya waktu, daratan ini terpecah, dan pecahan-pecahannya perlahan-lahan menjauh satu sama lain di seluruh dunia.

Gagasan pemisahan benua ini menjadi dasar bagi teori lempeng tektonik, yang menyatakan bahwa lapisan luar Bumi yang padat - kerak - terbagi menjadi beberapa lempeng besar, bersama dengan beberapa lempeng yang lebih kecil. Lempeng-lempeng ini membawa benua dan samudra serta mengapung di atas lapisan batuan cair yang disebut magma.

Saat ini, gagasan bahwa benua bergerak sudah mapan, tetapi pada masa Wegener, gagasan itu disambut dengan skeptisisme—bahkan ejekan. Manusia, yang hidup dengan kecepatan yang jauh lebih cepat daripada waktu geologis, merasa sulit untuk memahami gagasan bahwa kita hidup di tanah yang terus bergerak, meskipun gerakan itu sangat lambat.

Selain itu, Wegener tidak memiliki bukti dan pemahaman ilmiah yang diperlukan untuk menjelaskan mekanisme yang menggerakkan benua. Kemudian pada abad tersebut, ahli geologi dan geofisika mampu menunjukkan keberadaan lapisan magma kental di bawah kerak Bumi, tempat benua mengapung—sehingga memberikan penjelasan atas gerakannya.

Dikutip YNet, salah satu akibat dari lempeng tektonik yang bergerak di atas lapisan yang fleksibel adalah bahwa lempeng-lempeng tersebut terkadang saling bertabrakan, yang menyebabkan fenomena geologi berskala besar. Gunung Everest, misalnya, terbentuk oleh tabrakan Lempeng India dengan Lempeng Eurasia. Tabrakan ini menghasilkan tekanan luar biasa yang terus mendorong tanah ke atas, itulah sebabnya gunung tersebut naik sekitar setengah sentimeter setiap tahun.

Namun, puncak-puncak Pegunungan Himalaya juga mengalami pelapukan terus-menerus akibat angin dan hujan. Perubahan ketinggian gunung merupakan hasil dari dua gaya yang berlawanan ini, dan dalam kasus Pegunungan Himalaya, pengangkatan lebih cepat daripada erosi. 

Ahli geologi percaya bahwa jajaran pegunungan tidak dapat terus naik selamanya. Menurut perhitungan mereka, gaya-gaya lain di Bumi—seperti gravitasi—membatasi ketinggian gunung dan mencegah pengangkatan lebih lanjut melampaui titik tertentu.

Menariknya, gunung-gunung lain yang terbentuk akibat tumbukan lempeng justru kehilangan ketinggiannya. Salah satu contohnya adalah Pegunungan Ural di Rusia, yang pernah mengalami aktivitas tektonik serupa dengan Himalaya tetapi tidak lagi terpengaruh oleh proses tersebut.

Akibatnya, erosi secara bertahap menurunkan ketinggiannya. Berakhirnya tumbukan tektonik dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti pergeseran arah pergerakan lempeng atau melemahnya gaya penggeraknya. Dalam kasus seperti itu, keseimbangan baru terbentuk, dan tumbukan pun terhenti.

Hukum daya apung

Konsekuensi lain dari pergerakan lempeng adalah menentukan ketinggian benua itu sendiri dalam kaitannya dengan lapisan di bawahnya. Karena lempeng kerak Bumi mengapung di atas lapisan batuan cair yang kental, maka lempeng tersebut mematuhi hukum daya apung.

Hal ini mirip dengan bagaimana bebek karet mengapung di bak mandi atau patung logam tenggelam ke dasar. Sejauh mana sebuah benua "mengapung" atau "tenggelam" bergantung pada massa dan kepadatannya relatif terhadap material di bawahnya—sama seperti kapal kargo yang berada lebih rendah di dalam air saat bermuatan berat.

Hal ini menjelaskan mengapa bagian benua yang paling padat dan berat—yang terbuat dari batuan basal—terletak lebih rendah di dataran tinggi dibandingkan wilayah yang sebagian besar terdiri dari granit, yang memiliki berat jenis lebih rendah dan karenanya “mengapung” lebih tinggi.

Benua terus-menerus menyesuaikan posisinya untuk mempertahankan keseimbangan isostatik, yaitu keadaan keseimbangan antara berat kerak dan gaya apung ke atas dari mantel. Ketika berat dihilangkan—seperti melalui erosi atau pencairan gletser di akhir zaman es, benua akan naik lebih tinggi.
Pengangkatan beberapa wilayah di Kanada, misalnya, merupakan hasil dari penyusutan gletser yang signifikan yang pernah menutupi wilayah yang luas selama Zaman Es terakhir.

Di Pegunungan Alpen bagian barat, aktivitas tektonik sangat minimal: meskipun erosi secara bertahap mengikis gunung, kompensasi isostatik mengangkatnya kembali ke atas, mempertahankan ketinggian yang relatif stabil. Sebaliknya, erosi di Pegunungan Alpen bagian timur lebih cepat, dan gunung-gunung di sana secara bertahap kehilangan ketinggian.

Sebuah studi baru-baru ini meneliti kenaikan permukaan Antartika, yang disebabkan oleh hilangnya massa gletser yang terus berlanjut. Para peneliti memperkirakan bahwa kenaikan bertahap ini—yang disebabkan oleh mencairnya es—dapat memengaruhi permukaan laut. Menurut studi tersebut, kenaikan ini dapat menyebabkan kenaikan permukaan laut hingga dua puluh meter.

Mengenali bahwa Bumi itu dinamis dan terus berkembang—dan mempelajari proses di balik perubahan ini—memungkinkan kita untuk mengantisipasi dan mempersiapkan diri dengan lebih baik terhadap perubahan yang dapat memengaruhi kehidupan kita sekarang dan di masa depan yang lebih jauh.

Memantau kecepatan dan arah pergerakan lempeng, serta mengidentifikasi wilayah yang aktif secara tektonik, dapat membantu melindungi kehidupan manusia, melestarikan sumber daya alam, dan menjaga lingkungan. (Tribun)

Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved