Selasa, 28 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Media Asing Sorot Indonesia: Tarif Trump hingga Rupiah Anjlok

Mata uang Indonesia berada pada rekor terendah di kisaran Rp 16.508 terhadap dolar AS di tengah kekhawatiran atas kebijakan Presiden Prabowo Subianto.

Editor: Arison Tombeg
Kolase TM/AP/Evan Vucci
TARIF - Trump meninggalkan kantor setelah menandatangani perintah eksekutif di sebuah acara pengumuman tarif baru di Gedung Putih pada bulan April. Mata uang Indonesia berada pada rekor terendah di kisaran Rp 16.508 terhadap dolar AS di tengah kekhawatiran atas kebijakan Presiden Prabowo Subianto. 

TRIBUNMANADO.CO.ID, Jakarta - Mata uang Indonesia berada pada rekor terendah di kisaran Rp 16.508 terhadap dolar AS di tengah kekhawatiran atas kebijakan Presiden Prabowo Subianto.

Nilai tukar rupiah Indonesia diperdagangkan pada rekor terendah terhadap dolar AS, mengingatkan pada krisis keuangan Asia tahun 1997-98.

Sementara rupiah telah terpukul oleh ketidakpastian pasar yang berasal dari tarif besar-besaran Presiden AS Donald Trump, kemerosotan mata uang tersebut dimulai beberapa minggu sebelum pengumuman “Hari Pembebasan” pada hari Rabu.

Sejak pelantikan Presiden Indonesia Prabowo Subianto pada bulan Oktober, nilai tukar rupiah telah merosot sekitar 8 persen terhadap dolar di tengah kekhawatiran mengenai kepemimpinan mantan jenderal tersebut terhadap ekonomi terbesar dan negara berpenduduk terpadat di Asia Tenggara.

Anjloknya nilai tukar rupiah mencerminkan jatuhnya mata uang pada tahun 1998, yang menyebabkan krisis keuangan yang turut mengakhiri tiga dekade pemerintahan otoriter Presiden Soeharto.

“Apa yang terjadi di Indonesia sekarang mencerminkan betapa yakinnya investor dan pasar global terhadap keputusan ekonomi kepemimpinan saat ini,” kata Achmad Sukarsono, seorang analis yang meliput Indonesia di firma konsultan Control Risks di Singapura, kepada Al Jazeera.

Nilai tukar rupiah telah jatuh terus menerus sejak sebelum Prabowo menjabat, mencapai titik terendah sepanjang masa di 16.850 pada hari Selasa.

Meskipun rupiah telah mengalami pasang surut selama 28 tahun terakhir – termasuk selama pandemi COVID-19 – penurunannya di bawah ambang batas 1998 secara psikologis penting bagi masyarakat Indonesia karena peran mata uang tersebut dalam penggulingan Soeharto, menurut Hal Hill, seorang profesor emeritus ekonomi Asia Tenggara di Universitas Nasional Australia (ANU).

"Masih ada ingatan bahwa jika nilai tukar rupiah Indonesia merosot cukup dalam, orang-orang akan mulai gelisah dan berpikir hal itu akan terulang kembali seperti krisis sebelumnya," tutur Hill kepada Al Jazeera.

Mata uang terdepresiasi karena beberapa alasan, termasuk ketidakpastian politik, inflasi, ketidakseimbangan perdagangan dengan negara lain, dan spekulasi oleh investor.

Dalam kasus Indonesia, kebijakan Prabowo – termasuk program makan siang gratis senilai 30 miliar dolar, rencana untuk melemahkan independensi bank sentral, dan pembatasan terhadap perusahaan asing seperti Apple – telah mengguncang kepercayaan investor terhadap perekonomian.

“Ini semua tentang meningkatnya ketidakpastian” dan “penurunan signifikan dalam kepercayaan pasar”, Arianto Patunru, seorang ekonom dan peneliti di ANU Indonesia Project, mengatakan kepada Al Jazeera.

Pendirian dana kekayaan negara Danantara oleh Prabowo dengan menggunakan dana pemerintah sebesar 20 miliar dolar, dan dorongannya untuk mengizinkan anggota militer menduduki lebih banyak jabatan sipil – sebuah langkah yang menurut para kritikus mengingatkan kita pada pemerintahan diktator Soeharto – juga telah memicu kekhawatiran.

Bulan lalu, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, yang secara luas diakui atas perannya dalam mengarahkan Indonesia melewati krisis keuangan global 2007-09, terpaksa menghilangkan rumor bahwa ia berencana mengundurkan diri di tengah gejolak di pasar keuangan dan mata uang.

Di samping tantangan dalam negerinya, Indonesia, seperti banyak negara berkembang lainnya, pada saat yang sama tengah bergulat dengan pukulan ganda berupa perlambatan ekonomi Tiongkok dan dampak perang dagang Trump yang meningkat.

Dalam pengumuman “Hari Pembebasan” pada hari Rabu, Trump mengumumkan tarif sebesar 32 persen terhadap impor dari Indonesia.

Indonesia, negara berpenghasilan menengah dengan produk domestik bruto (PDB) per kapita sebesar 4.960 dolar pada tahun 2024, telah menyaksikan pertumbuhan ekonomi yang solid dalam beberapa tahun terakhir.

PDB naik lebih dari 5 persen tahun lalu, setelah ekspansi serupa pada tahun 2023 dan 2023.

Tetapi angka-angka utama tersebut tidak menggambarkan kemerosotan nyata dalam taraf hidup sebagian besar penduduk Indonesia.

Jumlah orang Indonesia yang diklasifikasikan sebagai kelas menengah oleh Badan Pusat Statistik Jakarta – yang didefinisikan sebagai mereka yang pengeluaran bulanan antara 2 juta rupiah (118 dolar) dan 9,9 juta rupiah (585 dolar) – turun dari 57,3 juta pada tahun 2019 menjadi 47,8 juta tahun lalu , penurunan ini disebabkan oleh faktor-faktor termasuk inflasi yang lebih tinggi dan efek COVID-19 yang masih ada. (Tribun)

Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved