Minggu, 17 Mei 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Jutaan Orang Berkumpul di Istanbul untuk Memprotes Presiden Turki Erdogan

Ratusan ribu demonstran antipemerintah berunjuk rasa di Istanbul, Sabtu, menuntut agar demokrasi dipertahankan setelah penangkapan Wali Kota Ekrem.

Tayang:
Editor: Arison Tombeg
Kolase TM/AP/Francisco Seco
DEMONSTRASI - Para pendukung mengibarkan bendera Turki dan partai CHP selama unjuk rasa memprotes penangkapan Wali Kota Istanbul Ekrem Imamoglu di Istanbul, Turki, 29 Maret 2025. Ratusan ribu demonstran antipemerintah berunjuk rasa di Istanbul, Sabtu, menuntut agar demokrasi dipertahankan setelah penangkapan Wali Kota Ekrem. 

TRIBUNMANADO.CO.ID, Istanbul — Sambil melambaikan bendera dan meneriakkan slogan-slogan, ratusan ribu demonstran antipemerintah berunjuk rasa di Istanbul, Sabtu, menuntut agar demokrasi dipertahankan setelah penangkapan wali kota Ekrem Imamoglu yang memicu kerusuhan jalanan terburuk di Turki dalam lebih dari satu dekade.

Di bawah langit biru tak berawan, kerumunan besar berkumpul di Maltepe di sisi Asia kota terbesar Turki pada malam perayaan Idul Fitri yang dimulai Minggu, menandai berakhirnya Ramadan.

Ozgur Ozel, pemimpin partai oposisi utama CHP yang mengorganisir unjuk rasa tersebut, mengatakan ada 2,2 juta orang di kerumunan, tetapi AFP tidak dapat mengonfirmasi angka tersebut secara independen.

“Saya tidak takut. Saya hanya punya satu kehidupan, saya siap berkorban demi negara ini,” kata seorang perempuan berusia 82 tahun berjilbab, sambil membawa foto Imamoglu dan bendera Turki.

Dia tidak mau menyebutkan namanya “kalau-kalau mereka mengetuk pintu rumahku.”

“Dia orang jujur, dialah yang akan menyelamatkan Republik Turki,” katanya tentang walikota yang ditangkap lalu dipenjara karena penyelidikan korupsi atas tuduhan yang secara luas diyakini palsu dikutip ToI.

Protes massa, yang dimulai dengan penahanan Imamoglu pada 19 Maret, telah memicu tanggapan represif pemerintah yang dikutuk keras oleh kelompok-kelompok hak asasi manusia dan menuai kritik dari luar negeri.

Secara luas dipandang sebagai satu-satunya politisi Turki yang mampu menantang Presiden Recep Tayyip Erdogan di kotak suara, Imamoglu terpilih sebagai kandidat oposisi CHP untuk pemilihan presiden 2028 pada hari ia dipenjara.

Ia terpilih kembali sebagai wali kota tahun lalu untuk ketiga kalinya. Kemarahan atas penangkapannya dengan cepat menyebar dari Istanbul ke seluruh Turki.

Aksi protes malam hari di luar Balai Kota Istanbul menarik banyak orang dan sering kali berubah menjadi pertempuran dengan polisi antihuru-hara, yang menggunakan gas air mata, semprotan merica, dan peluru karet untuk membubarkan para pengunjuk rasa.

"Kami di sini hari ini untuk tanah air kami. Kami, rakyat, memilih pemimpin kami," tegas Melis Basak Ergun yang berusia 17 tahun, sambil bersumpah bahwa para pengunjuk rasa tidak akan pernah gentar "oleh kekerasan atau gas air mata."

“Kami mendukung walikota kami, Imamoglu.”

Saat menuju lokasi demonstrasi, para pengunjuk rasa di atas feri yang menyeberangi Selat Bosporus terdengar meneriakkan: “Taksim ada di mana-mana, perlawanan ada di mana-mana!”

Itu merujuk pada Lapangan Taksim yang ikonik di Istanbul, pusat gelombang protes besar terakhir pada tahun 2013.

"Saya ikut demonstrasi di luar Balai Kota selama empat hari bersama mahasiswa. Saya katakan kepada mereka untuk tidak menyerah," kata pengunjuk rasa Cafer Sungur, 78 tahun, kepada AFP.

Sumber: Tribun Manado
Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved