Selasa, 28 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Ramadan

Menghadirkan Rasa Ramadan

Meski Ramadhan datang setiap tahun, namun tetap saja memunculkan “rasa” yang lebih dan kurang pada setiap tahunnya.

Editor: Rizali Posumah
freepik.com
RAMADAN: Ilustrasi suasana ramadan. Gambar ini diunduh Tribun Manado pada Selasa 4 Maret 2025. Ramadhan pasti akan datang setiap tahunnya namun tidak pernah ada jaminan untuk bisa menemuinya di tahun depan. Islam memberikan solusi dengan beragam bentuk ibadah baik yang wajib maupun sunah. 

Semakin tinggi dan kuat iman orang yang berpuasa, akan semakin nyaman pula “rasa” puasa yang dijalankan.

Sebaliknya, lemahnya iman orang yang berpuasa akan menjadikan dirinya merasa berat dalam menjalani hari-harinya di bulan Ramadhan.

Rahasia pahala yang tidak terungkap secara nominal, sesungguhnya menjadi sebuah pemicu bagi orang yang beriman untuk semakin serius memaksimalkan ibadah Ramadhannya.

Semua pahala dan kebaikan serba dilipatgandakan secara unpredictable.

Tak bisa dihitung secara matematis karena sesuai hadis Nabi Muhammad saw. bahwa puasa itu untuk Allah dan Dia sendiri yang akan membalasnya.

Soal besarannya, lagi-lagi menjadi rahasia sepanjang umur manusia. Misalnya ada dua kegembiraan yang diberikan untuk mereka yang berpuasa.

Rasa gembira adalah persoalan batiniyah yang tidak sama “rasa”nya untuk setiap orang.

Kegembiraan yang dialami orang yang berpuasa saat tiba waktunya berbuka sungguh sangat sulit diungkap dengan kata apalagi angka.

Sebab hal ini merupakan anugerah Allah swt. khusus bagi mereka yang berpuasa.

Kegembiraan lain yang dianugerahkan Allah bagi yang berpuasa yaitu kelak ketika bertemu Tuhannya.

Orang yang bertemu dengan artis idola saja rasanya sangat bahagia. Begitupun bertemu orang yang sedang dirindukan bisa membuat hati berbunga-bunga. Apalagi kelak akan bertemu Tuhannya.

Nuansa Ramadhan pada setiap tahunnya, tidak saja berbeda secara individual, namun juga secara sosial.

Karenanya orang beriman yang berpuasa harusnya mampu untuk terus memaknai dan menyikapi setiap ibadah Ramadhan dengan sangat bijak dan hati-hati agar tidak jatuh dalam berbagai prasangka, fitnah, dan hal buruk yang memperkeruh nuansa Ramadhan.

Mulai dari kegiatan buka puasa bersama, tadarus al-Qur’an, salat tarwih keliling, atau bahkan sahur on the road, semuanya perlu dijaga “rasa”nya demi kebaikan bersama.

Hal ini agar tidak ada kerugian dan kesia-siaan dalam menjalani Ramadhan.

Sumber: Tribun Manado
Halaman 2/3
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved