Kamis, 23 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Warga Sulut di Kamboja

Warga Sulut Ditipu Perusahaan Online Scam di Kamboja, Kerja Tanpa Gaji, Pemerintah Diminta Bertidak

Relawan Kemanusiaan Kamboja, Christie Saerang, mengungkapkan setiap hari para korban selalu mempertanyakan nasib meraka.

Penulis: Ferdi Guhuhuku | Editor: Rizali Posumah
Dokumentasi Tribun Manado
PODCAST: Christie Saerang dan Lidya Tirajoh saat menjadi narsumber di Tribun Podcast, Kantor Tribun Manado, Jalan AA Maramis, Kairagi Dua, Mapanget, Manado, Sulawesi Utara, Jumat (28/2/2025). Christie Saerang mengungkapkan para pekerja setia hari selalu mempertanyakan nasib mereka. Pemerintah diminta bertindak. 

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Sampai saat ini 17 warga Sulawesi Utara yang ditipu perusahaan online scam (penipuan berbasis daring) di Poipet, Kamboja masih belum tau nasibnya untuk kembali ke Indonesia.

Relawan Kemanusiaan Kamboja, Christie Saerang, mengungkapkan setiap hari para korban selalu mempertanyakan nasib meraka.

"Setiap hari para korban selalu bertanya di whatsapp kepada saya gimanaa langka pemerintah untuk memulangkan mereka," ujar Christie saat menjadi narsumber di Tribun Podcast, Jumat (28/2/2025).

Christie menjelaskan, para korban sampai saat ini masih terlantar di depan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Phnom Penh.

"Yang mirisnya juga ada anak-anak kecil disitu dan untuk makan dan tidur mereka sangat menderita sekali.

Saya sampai menangis karena tidak tahan melihat kondisi mereka waktu bertemu di Kamboja dan saya persilahkan kalau warga Sulut ingin cari tau informasi keluarganya di Kamboja silakan hubungi saya di akun facebook Thie Thie Marissa," jelasnya.

Sementara itu, Lidya Tirajoh menjelaskan untuk memulangkan para korban butuh perjuangan panjang.

Bahkan akan sangat sulit kalau tidak ada campur tangan pemerintah untuk mengurus masalah ini.

"Saya sudah merasakan gimana ribetnya memulangkan jenazah adik saya Marco Tirayoh dari Kamboja urusannya sangat ribet sekali.

Bahkan kalau tidak ada campur tangan beberapa orang jenazah Marco tidak bisa kembali ke Sulut," ungkapnya.

Menurutnya, ketika sudah masuk dalam perusahaan ini tidak ada jalan keluar karena dijaga ketat.

"Gaji besar tidak benar, hanya ada kerja paksa tidak digaji berbulan-bulan jadi jangan sampai tergiur dengan tawaran kerja di Kamboja," terangnya.

Dia berharap pemerintah pusat maupun daerah bisa membantu kepulangan 17 warga Sulut ini.

"Kami beharap pemerintah secepatnya bertidak jangan sampai ada korban lain baru bertidak," pungkasnya.

Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved