Senin, 13 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Pilpres AS

Harris Berusaha Belajar dari Kemenangan Trump atas Hillary

Calon Presiden Partai Demokrat Kamala Harris belajar dari kemenangan Donald Trump atas Hillary Clinton pada Pilpres 2016.

Editor: Arison Tombeg
Getty/CNN
Hillary Clinton dan Donald Trump. Calon Presiden Partai Demokrat Kamala Harris belajar dari kemenangan Donald Trump atas Hillary Clinton pada Pilpres 2016. 

TRIBUNMANADO.CO.ID, Washington DC - Calon Presiden Partai Demokrat Kamala Harris belajar dari kemenangan Donald Trump atas Hillary Clinton pada Pilpres 2016.

Para Demokrat sempat meragukan Harris, jangan sampai mimpi buruk mereka pada 2016 terulang, ketika Trump mengalahkan Hillary.

"Kami berada di tempat yang gelap dan banyak dari kami berpikir Hillary Clinton tidak akan menang. Apa yang membuat kami percaya Kamala bisa menang?" kata seorang ahli strategi Demokrat.

Keraguan tersebut kini sebagian besar telah sirna karena Harris telah mengambil alih kendali dari Biden dan hampir pasti menjadi calon partai.

Amie Parnes dari The Hill melaporkan, namun, sejak awal, Harris terbukti menjadi kandidat yang berbeda dari Hillary.

Harris berhasil memecahkan rekor penggalangan dana dan dalam beberapa hal telah mencuri perhatian dari Trump.

Ia telah memberi semangat pada partainya dan memenuhi arena kontestasi.

Hal ini membuat banyak Demokrat berharap bahwa kali ini, Trump akan dikalahkan.

"Dia bukan Hillary," kata sang ahli strategi. "Itu bukan berarti meremehkan Hillary dengan cara apa pun. Dia jelas membantu membuka jalan dan menciptakan momen ini dalam banyak hal. Kita berutang banyak rasa terima kasih kepada Hillary untuk ini," katanya.

Harris mengandalkan banyak mantan ajudan Clinton. Kepala stafnya, Lorraine Voles, menjabat sebagai ajudan komunikasi Clinton. Direktur komunikasi pada kampanye Harris, Brian Fallon, menjabat sebagai juru bicara utama untuk pencalonan Clinton tahun 2016.

Namun, menurut para ahli strategi Demokrat, perbedaan antara kampanye-kampanye hingga saat ini sangat mencolok.

Sebagai permulaan, Hillary mengandalkan sifat historis kampanyenya dengan slogan-slogan seperti "Saya Bersamanya."

Dalam kampanye 2016, Partai Demokrat menyimpulkan bahwa itu adalah taktik yang salah bagi pemilih di tengah situasi yang ramai.

Harris, yang bukan hanya wakil presiden wanita pertama tetapi juga orang Amerika kulit hitam dan Asia Selatan pertama yang memegang jabatan tersebut.

Dia belum banyak berbicara tentang bagaimana kampanyenya dapat mengukir sejarah.
Sebaliknya, ia berbicara tentang kebebasan — dengan lagu Beyoncé dengan judul yang sama diputar keras di rapat umum — dan masa depan.

Sumber: Tribun Manado
Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved