Rabu, 22 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Pilpres AS

Kekuatan Harris Hadapi Trump: Seimbang Meskipun Belum Kampanye Capres

Kamala Harris tertinggal tipis (seimbang secara statistik masih batas margin of error) dari mantan Presiden Donald Trump dalam sejumlah jajak pendapat

Editor: Arison Tombeg
Kolase Tribun Manado
Wakil Presiden Kamala Harris dan mantan Presiden Donald Trump. Kamala Harris tertinggal tipis (seimbang secara statistik masih batas margin of error) dari mantan Presiden Donald Trump dalam sejumlah jajak pendapat nasional terkini. 

TRIBUNMANADO.CO.ID, Washington DC - Wakil Presiden Kamala Harris tertinggal tipis (seimbang secara statistik masih batas margin of error) dari mantan Presiden Donald Trump dalam sejumlah jajak pendapat nasional terkini — mirip dengan Presiden Joe Biden.

Harris belum memulai kampanye. Beberapa elite Partai Demokrat yakin survei akan membaik setelah ia berhadapan langsung dengan Trump.

Trump mengungguli Harris dengan 1,5 poin persentase dalam rata-rata 11 jajak pendapat nasional yang dilakukan sejak bencana debat Biden pada 27 Juni, menurut Washington Post.

Rata-rata yang sama menunjukkan Biden tertinggal dari Trump dengan 1,9 poin persentase.

Dikutip Axios pada Selasa 23 Juli 2024, sebelum debat presiden bulan Juni, sejumlah jajak pendapat menunjukkan Biden mengungguli Harris melawan Trump.

Namun, survei pascadebat cenderung menunjukkan Harris bernasib sedikit lebih baik daripada Biden.

Jajak pendapat Reuters/Ipsos yang dilakukan minggu lalu menunjukkan Harris imbang dengan Trump dan Biden tertinggal 2 poin di antara pemilih terdaftar.

Sementara jajak pendapat CBS/YouGov yang juga dilakukan minggu lalu menunjukkan Harris tertinggal 3 poin dan Biden 5 poin di kalangan pemilih potensial.

Harris memiliki peringkat persetujuan terburuk yang pernah tercatat untuk seorang Wakil Presiden dalam jajak pendapat bulan Juni dari NBC, dengan 32 persen persetujuan dan 49 persen ketidaksetujuan.

Keunggulannya, Harris pasti akan mampu melancarkan kampanye yang lebih gencar ketimbang Biden.

Sifat historis pencalonannya mungkin akan lebih memberi energi pada akar rumput ketimbang upaya Biden untuk terpilih kembali.

Kini ia akan memiliki kesempatan untuk memperkenalkan dirinya kembali kepada para pemilih dan mendefinisikan visinya bagi negara.

Namun, ia juga akan menjadi sasaran utama serangan Partai Republik terhadap isu-isu seperti imigrasi.

Salah satu pertanyaan kuncinya adalah apakah dia dapat memenangkan kelompok yang menjauh dari Biden — seperti pemilih muda dan pemilih kulit hitam — tanpa kehilangan demografi seperti pemilih kulit putih yang lebih tua yang mana Biden tetap relatif populer, catat Economist.

Kelemahan Biden bukanlah defisitnya yang sedikit dalam jajak pendapat nasional, tetapi jalannya yang sempit menuju mayoritas elektoral.

Sumber: Tribun Manado
Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved