Jamaah Islamiyah Bubar
Ceritakan Proses di Balik Bubarnya Jamaah Islamiyah, Ustaz Abu Fatih: Bismillah Tawakal kepada Allah
Keputusan itu diambil setelah adanya pertemuan para tokoh Jamaah Islamiyah, dihadiri 119 perwakilan yang datang dari berbagai daerah.
Nah, karena jawaban tidak menyangkut keimanan, saya merasa itu sesuatu yang menarik. Selanjutnya kami banyak berdiskusi dengan Pak Fino dan Pak Wawan. Setelah itu, tatkala saya sudah membuat surat pernyataan, saya kira sudah tidak ada masalah. Saya diminta tidak ke mana-mana, tidak pergi jauh-jauh. Saya di rumah saja. Paling ke kebun, ke masjid.
Kemudian setelah diajak Mas Bambang (Ustad Bambang Sukirno) diskusi-diskusi, saya merasa tidak cukup kalau kita hanya diam. Kemudian Pak Arif (Ustad Arif Siswanto), beliau bebas dan memaparkan yang intinya JI itu perlu dibubarkan. Saya malah berpikir dan bicara waktu itu, Antum (Ustad Siswanto) bubarkan saja, lalu kita bikin organisasi apa yang kita bisa duduk-duduk bareng, ngaji bareng atau kenduri bareng…hehehehehe!
Lalu ternyata muncul masalah ketika ada orang K*r*m mendengar info ini, dan terjadi kesalahpahaman, seolah-olah saya hendak membuat organisasi JI baru. Sehingga terjadi kehebohan di dunia intelijen. Tapi alhamdulillah kemudian bisa diredam dan dijelaskan segala sesuatunya. Bukan mau mendirikan JI baru, tapi organisasi terbuka yang menyelaraskan dengan perjalanan pemerintah dan tuntutan negara. Tapi waktu itu kan kita belum bicara lebih jauh, konsepnya saja belum disusun.
Kemudian muncul deklarasi Abu Rusydan yang menjelaskan begini-begini, yang poin 642 itu (semacam risalah pendapat pandangan Abu Rusydan). Nah, saya lalu berpikir kalau begitu ini klir, dari situ saja kita sosialisasikan dan ternyata memang sudah ada perintah sosialisasi. Saya mendampingi setiap sosialisasi, sebagai orang yang dipandang tua, senior, walau sudah tidak aktif. Saya mungkin masih dianggap tokoh yang memiliki ideologis selaras. Maka saya perlu untuk menunjukkan kepada ikhwan-ikhwan yang membubarkan diri, bahwa itu sikap yang benar. Karena tidak mempertimbangkan, misalnya takut hukum, takut densus, tapi dengan kesadaran dengan bimbingan ilmu, ternyata ruang secara syarii dan dien, ternyata tidak ada manfaatnya kalau membangun konflik dengan pemerintah Indonesia. Pemerintah Indonesia itu representasi kaum muslimin, dan bangsa yang rakyatnya Islam juga.
Jadi membubarkan diri itu artinya mengislahkan diri. Banyak kalimat dalam Quran, mengatakan kesepakatan tersembunyi itu tidak akan membawa kebaikan, kecuali perintah kebaikan, perintah sedekah, atau mengajak berislah. Maka apa yang dilakukan di Sentul itu khususnya islah, mengishlahkan diri, dan betapapun sebagai bagian dari bangsa, kita mengislah diri. Baik mengingat kesejarahan, peran ulama, pertimbangan revolusi dan proklamasi, perjalanan panjang kita rekonstruksi, akhirnya sudahlah, Bismillah, tawakal kepada Allah, kita terima apa yang dikatakan Ustad Abu Rusydan. Ini momentum yang sepertinya sama-sama dirindukan.
Sehingga tatkala kita sosialisasi mendampingi Ustad Bambang dan Ustad Arif Siswanto, sudah 15 kali, dan ternyata tidak ada yang menolak. Dulu ada yang lari-lari jauh (buron/DPO), setelah mendengar ini berbondong-bondong datang.
T : JI menyatakan diri bubar dan ini menerbitkan pertanyaan kalau begitu JI memang benar-benar ada selama ini. Sebab sebelumnya ada bantahan-bantahan organisasi ini tidak ada?
Jadi tahun 1993 akhir, itu saya bebas dari penjara Cipinang dalam kasus usroh yang kemudian mungkin agak nyerempet peristiwa Tanjungpriok. Sekitar seminggu setelah bebas, ada teman yang datang ke rumah menyampaikan ustad (Abdullah Sungkar) mau telepon, dan silakan. Beliau telepon dan saya yang megang telepon berikutnya. Saya lalu komunikasi langsung dengan ustad Abddullah Sungkar.
Beliau intinya bilang, “Yai, saya kangen sama antum. Tapi kondisi saya belum memungkinkan untuk pulang. Jadi tolonglah antum usaha untuk bisa mengunjungi saya di sini (Malaysia)”. Saya jawab inshaalalah, saya usahakan. Saya usaha bikin paspor di Jaktim, tiga hari selesai. Seminggu kemudian saya berangkat sendiri lewat Singapura, lalu naik kereta ke Malaysia. Ketemulah saya dengan ustad Abdullah Sungkar.
Pada waktu itu beliau menjelaskan, “yai, antum sudah denger bahwa saya melepas baiah (baiat) saya pada NII. Kemudian sejak bulan Januari 1993, saya mendirikan Al Jamaah Al Islamiyah. Kemudian keperluan saya panggil antum ke sini, itu saya mau minta tolong. Bantulah saya. Adik antum itu, maksudnya Abdurochim (adik Abu Fatih), dia seorang guru yang baik yang tulus ikhlas, tapi dia murni guru, pendidik. Yang saya perlukan itu yang bisa mengelola. Jadi satu, gantikan adikmu itu. (Abdurochim saat itu diserahi memimpin JI wilayah Indonesia. Nama aliasnya Nuaim alias Abu Irsyad).”
“Kedua, bantulah ana (Abdullah Sungkar) memiliki (membangun) pondok pesantren itu 100 jumlahnya.” Saya ketawa. Saya katakan, saya bukan ahli pondok ustad. Beliau menukas, nanti saya jelaskan teknis-teknisnya. Satu lagi, kata Abdullah Sungkar, bantulah saya melanjutkan program yang dulu dirintis sama antum, maksudnya hal-hal terkait kaderisasi askari”.
Sebelum masuk penjara saya waktu itu sudah melaksanakan kaderisasi, pengiriman ke Afghanistan, seperti Abu Tholut, Abu Rusydan. Itu yang saya kirimkan sampai angka 59 orang, baru saya ditangkap (di Jakarta).
Saya diambil dan masuk Cipinang karena memimpin halaqoh-halaqoh. Waktu itu belum terdeteksi kalo saya melakukan pengiriman kader askari ke Afghanistan.
Akhirnya saya pulang, saya temui adik saya, pengurus dikumpulkan dan menjelaskan misi yang dibawa. Saya waktu itu intinya mengatakan, untuk pengelolaan yang dulu namanya majelis dahiliyah, diganti jadi majelis qiyadah mantiqiyah. Itu saya bilang sekarang pekerjaan kita untuk qiyadah mantiqiyah adalah konsolidasi ke dalam.
Artinya kita akan merumuskan konsep yang jelas. Kedua, kita harus membenahi persoalan pembinaan personal dari dakwah, tarbiyah, tandfid, rekrutmen, dan itu sudah harus terpikirkan detailnya. Kemudian pembinaan selanjutnya apakah diklat atau apa kita pikirkan matang.
Lalu persoalan tandzim, itu kan amanahnya tandzim siri (rahasia), artinya kita tak perlu open, kita jalankan apa yang bisa kita lakukan. Kira-kira itulah. Sebelumnya (tandzim askari) juga sudah dilakukan, oleh namanya Broto, dia NII. Tapi kan Ustad Abdullah Sungkar sudah melepas baiat atau pisah dengan NII. Akhirnya kan terbelah alumninya, ada yang ke NII ada yang ikut JI. Tak lama setelah itu Broto meninggal, dan karena saya sudah di luar, saya tidak ikut ngurus yang NII.
Saya mengurus di JI dan apa yang kita rintis muaskar ke Filipina, di Mindanao. Tapi tahap awal kita tidak memanfaatkan fasilitas itu.. Kita tawarkan membantu tadrib mujahidin MILF dipimpinan Syekh Selamat Hasim. Waktu itu sampai tahun kedua, sudah meluluskan alumnus muaskar dan mujahidin sana sudah 1.500 sampai 2.000 muqotil atau petempur.
T : Saat pertama bertemu Ustad Abdullah Sungkar, apa waktu itu dijelaskan detil organisasinya JI seperti apa, strukturnya dan lain-lain?
AF: Nggak, kan waktu itu ibaratnya masih embrio. Jadi yang di pusat ada 11 orang sebagai pencetus, saya bukan termasuk pencetus, tapi sebagai pelaksana di mantiqoh taniah mulai tahun kedua. Jadi baru masa itu ada yang terekrut ikhwan alumni pondok sekira 2.000. Dari dua ribu itulah modalnya yang kami olah dan kami sisir, mana jadi mualim, dai, murobi, mana yang tamqis atau penyeleksi.
Abu Mahmudah: 2 Hal yang Jadi Dasar hingga Organisasi Jamaah Islamiyah Bubar |
![]() |
---|
Cerita Sabarno Mantan Anggota Jamaah Islamiyah, 10 Tahun Pelarian, Sempat Dengar Tentang Sabarno KW |
![]() |
---|
Jamaah Islamiyah Bubar, Tokoh Senior JI Ustad Abu Fatih Minta Maaf: Pikiran Kami Akhirnya Terbuka |
![]() |
---|
Ustad Qasdi Akui Ponpes Darusy Syahadah Sejak Lama Berafiliasi dengan Kelompok Jamaah Islamiyah |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.