Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Jamaah Islamiyah Bubar

Ceritakan Proses di Balik Bubarnya Jamaah Islamiyah, Ustaz Abu Fatih: Bismillah Tawakal kepada Allah

Keputusan itu diambil setelah adanya pertemuan para tokoh Jamaah Islamiyah, dihadiri 119 perwakilan yang datang dari berbagai daerah.

Tribunnews.com
Ustaz Abu Fatih alias Abdullah Anshori alias Ibnu Muhammad Thoyib, tokoh Jamaah Islamiyah, saat ditemui tim Tribunnews, Rabu (17/7/2024). 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Tokoh senior sekaligus Mantan Ketua Mantiqi II, Ustaz Abu Fatih alias Abdullah Anshori alias Ibnu Muhammad Thoyib, menceritakan tentang hal yang melatarbelakangi bubarnya Jamaah Islamiyah (JI).

Seperti diketahui, organisasi Jamaah Islamiyah menyatakan diri bubar melalui Deklarasi Sentul 30 Juni 2024.

Keputusan tersebut diambil setelah adanya pertemuan para tokoh Jamaah Islamiyah.

Pertemuan itu dihadiri 119 perwakilan, yang datang dari Jateng, Jabar, Bekasi, Banten, Medan, Sumbar, Lampung, NTB, Sulteng dan Sulsel.

Abu Fatih, tokoh senior Jamaah Islamiyah, mengungkapkan hal yang mendasari keputusan penting JI untuk membubarkan diri.

Menurutnya, keputusan untuk bubar atau mengislahkan diri adalah hal yang tepat.

"Saya kira islah ini akan baik bagi kami bersama khususnya, dan juga bangsa Indonesia," ungkapnya kepada Tribunnews, dalam wawancara eksklusif.

Tak hanya berbicara tentang dasar pemikiran yang menghasilkan keputusan Jamaah Islamiyah untuk membubarkan diri.

Ustaz Abu Fatih juga mengungkapkan tentang langkah selanjutnya yang akan ditempuh mantan anggota JI setelah organisasi mereka bubar.

Berikut selengkapnya.

TRIBUN (T): Jamaah Islamiyah dalam Deklarasi Sentul 30 Juni 2024 menyatakan bubar atau membubarkan diri. Ini JI bubar beneran atau ganti kulit saja dan tetap di jalan perjuangan semula ustad?

ABU FATIH (AF) : Yaaa..sebenarnya saya secara pribadi, itu sejak ustad Abdullah Sungkar wafat dan posisinya sebagai Amir JI, saya merasa JI itu sudah tidak ada. Jadi JI itu istilahnya ada dan tiadanya sama. Kalaupun kemudian muncul generasi penerus yang mencoba menjabarkan menjalankan kegiatan dengan nyerempet JI, itu anak-anak muda. Karena Para Wijayanto tatkala saya sudah berakhir (memimpin Mantiqi II) posisinya masih Sekretaris Wakalah Jateng. Sementara saya waktu itu membawahi 9 wakalah.

Jadi kembali ke soal bubarnya JI ini, kalau tidak salah tahun 2021, ada petugas dari Densus, datang ke rumah saya. Di antaranya Kombes Sodik, kemudian Pak AKBP Fino, Pak Wawan, dan temen-teman lain. Yaa waktu itu mau mengambil saya. Saya sih pasrah saja. Apa yang diinginkan saya siap kalau harus mempertanggungjawaban secara hukum adanya sesuatu.

Lalu beliau-beliau hanya meminta surat pernyataan bahwa saya sudah keluar dari JI. Saya jelaskan waktu itu kalau saya sudah tidak aktif sejak Ustad Abdullah Sungkar wafat. Kalaupun ada sedikit itu hanya proses aja. Kemudian saya tanya, kepada Pak Fino dan Pak Sodik, apa keluar dari JI artinya saya keluar dari Islam atau murtad. Kemudian dijawab tidak ada hubungan dengan keimanan dan keislaman seseorang.

Tetapi upaya mereka itu terkait dengan keputusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan bulan sekian tahun sekian yang menetapkan JI adalah organisasi terlarang.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Solo
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved