Yulius Selvanus Komaling
Kisah Yulius Komaling: Bermimpi Jadi Pangdam, Dipilih Prabowo Jadi Bakal Calon Gubernur Sulut
Kali ini yang menjadi tamu adalah Ketua Gerindra Sulawesi Utara sekaligus bakal Calon Gubernur Sulut, Yulius Selvanus Lumbaa-Komaling.
Penulis: Rhendi Umar | Editor: Isvara Savitri
TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Segmen menarik tersaji di acara Tribun Manado Podcast, Kamis (18/7/2024).
Kali ini yang menjadi tamu adalah Ketua Gerindra Sulawesi Utara sekaligus bakal Calon Gubernur Sulut, Yulius Selvanus Lumbaa-Komaling.
Yulius berbagi cerita suka duka berkarier di militer hingga akhirnya terjun ke dunia politik.
Berikut wawancara lengkap Yulius Selvanus Komaling bersama Pemimpin Redaksi Tribun Manado, Jumadi Mappanganro.
TM: Kesibukan apa yang Anda dijalani belakangan ini?
YSK: Sejak saya terima surat keputusan (SK) dari pak Prabowo Subianto, Ketua Umum Gerindra, memang saya sangat sibuk sekali. Selaku Ketua Gerindra Sulut saya akan melakukan konsilidasi partai di 15 kabupaten/kota di Sulut. Lalu di pengurus DPD kita perlu duduk bersama sehingga mereka tahu visi dan misi DPP dan DPD itu harus sinergi. Pastinya juga mereka harus tau pemimpin yang baru itu. Bagaimana mau, bagaimana karakternya untuk mendukung saya sebagai calon gubernur, karena sampai saat ini masih ada DPC yang masih belok kanan dan kiri. Perlu ketegasan juga yang tidak mau ikut saya silakan tinggalkan.
TM: Bagaimana kehidupan Anda semasa kecil hingga remaja?
YSK: Papa saya ini tentara angkatan udara yang bernama Daud Lumbaa, asli dari Toraja, nenek kami Pongtiku. Beliau merantau di umur 16 tinggalkan kampung halaman dan mendaftar angkatan udara di Makassar. Dari sana, pertama kali beliau ditempatkan tugas di Desa Tounelet, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara. Mami saya adalah seorang perawat di desa tersebut, tempat kerja mereka hanya bersebelahan. Hingga akhirnya jadilah pernikahan Toraja dan Kakas. Kakak pertama, kedua, dan ketiga lahir di Sulut; kakak keempat di Jakarta; kakak kelima di Morotai. Lalu saya lahir di Semarang. Kebetulan papi akan pindah tugas di sana. Mereka berdua ke Semarang dengan kondisi yang sudah hamil besar. Kemudian saat papi saya bertugas, mami saya tinggal di Hotel Singapura. Tak menyangka saya akhirnya lahir di situ. Hotelnya sampai sekarang masih ada. Sekira satu minggu di Semarang, lalu saya dibawa pulang ke Morotai. Namun karena di situ ada masalah antara TNI satu dan lainnya maka saya diungsikan ke Kakas selama 3 tahun. Baru di situ saya pindah lagi ke Semarang. Di sana saya dibesarkan dan sekolah dari TK, SD, sampai pertengahan SMP. Lalu karena tugas papi pindah ke Solo, maka kami pindah ke sana dan melanjutkan sekolah hingga lulus SMA. Kemudian kami pindah di Cepu, Jawa Timur. Di sana kami hidup lama di situ hingga almarhum papi dan mami dimakamkan di sana.
TM: Bagaimana ceritanya hingga Anda mendaftar Akabri?
YSK: Tidak mudah menjadi seorang Akabri ternyata. Saya tiga kali gagal baru lulus. Mendaftar pertama saya gagal, kedua saya masuk pra-akmil saya juga gagal, dan yang ketiga Tuhan izinkan saya lulus pada tahun 1985 dengan angkatan ke-88. Dari sana kemudian saya masuk di Kopassus, sesuai permintaan papi saya. Seleksinya cukup ketat. Waktu taruna kami diseleksi masuk, kemudian selesai lulus dilantik, kami dites lagi dari 83 orang yang tersisa hanya 24. Di situ kami ikuti pendidikan selama 7 bulan, lalu tersisa 16 orang, kemudian terseleksi lagi hingga sisa 10 orang. Saya termasuk di Satuan 1 Grup Kopassus bersama Prabowo Subianto, Sintong Panjaitan, Agum Gumelar, dan banyak jenderal yang dari situ. Lalu di sana, kami mendapat penugasan di daerah konflik Indonesia seperti Timor-Timur, Poso, dan di luar negeri kurang lebih ada 18 kali. Itu juga merupakan mimpi saya karena saya juga suka bepergian.
TM: Dari sejumlah pengalaman Anda, apa yang membentuk karakter jenderal seperti saat ini?
YSK: Saya dicetak oleh orang-orang hebat. Dulu komandan saya pertama itu pak Pramono Edhie Wibowo. Kedua, yang mencetak saya adalah Sjafrie Sjamsoeddin. Ketiga adalah Prabowo Subianto. Mereka mencetak saya menjadi seorang prajurit yang militan dan tidak pernah kenal kehidupan sipil. Pokoknya tugas, tugas, tugas, dan tugas tidak boleh menolak. Jadi karakter militansi dibentuk di situ.
TM: Setelah menjadi Kopassus, Anda kemudian bertugas di mana?
YSK: Saya pernah menjadi dosen Seskoad setelah bertugas dari Kopassus. Saya dosen yang membidangi Olah Yudha materinya. Di situ saya mengajar tentang mengolah cara pertempuran. Jadi kalau saya masuk di Sulawesi Utara saya anggap ini medan pertempuran saya. Dari situ saya pindah tugas sebagai Kepala BIN Daerah Kepulauan Riau. Lalu bertugas sebagai danrem di Papua, dan terakhir saya ditarik pak Prabowo di Kementerian Pertahanan. Tahun 2021 saya pensiun, lanjut sampai hari ini saya asisten khusus pak Prabowo Subianto.
TM: Bagaimana perasaan Anda ketika Anda ditugaskan masuk bergabung di partai politik?
YSK: Memang agak susah, saya beradaptasi dari dunia militer ke dunia sipil. Awalnya saya belajar ketika ditugaskan menjadi ketua perhimpunan masyarakat Toraja Indonesia. Di situ saya belajar beradaptasi dengan masyarakat dan menjadi masyarakat sipil. Dalam perjalanan, Pak Prabowo sampaikan akan maju presiden, dia minta bantu saya dan saya nyatakan siap, itu pada tahun 2021. Tak sampai di situ, pak Prabowo minta saya berangkat ke Sulawesi Utara pada bulan Agustus tahun 2022 untuk jadi calon gubernur. Mudah-mudahan tugas saya mendapat dukungan dari masyarakat.
Baca juga: Doa Bapa Kami - Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris
Baca juga: 4 Berita Populer Sulawesi Utara Kamis 18 Juli 2024: Doger Anjing Bawa Samurai, Sulut Diguncang Gempa
TM: Bagaimana dukungan anak dan keluarga setelah tau Anda maju sebagai calon Gubernur Sulut?
YSK: Dulu keluarga saya di rumah tidak percaya, kayak Thomas begitu. Kalau ndak dapat SK mereka tidak percaya gitu. Baru kemarin, istri saya bawa satu koper besar itu ke Manado dan katanya siap mendampingi calon gubernur. Padahal saya juga sudah punya baju tiga lemari yang akan digunakan selama saya menjadi gubernur selama lima tahun. Jadi tidak perlu belanja lagi.
TM: Apakah sebelumnya sudah ada bayangan Anda akan menjadi seorang gubernur?
YSK: Tidak ada di bayangan saya mau menjadi calon gubernur. Cita-cita saya menjadi seorang pangdam, tapi tidak kesampaian karena pak Prabowo keburu tarik saya di Kementerian Pertahanan menjadi staf hingga pensiun.(*)
Ikuti Saluran WhatsApp Tribun Manado dan Google News Tribun Manado untuk pembaharuan lebih lanjut tentang berita populer lainnya.
Gubernur Sulut YSK Menangis Saat Anak Dimarahin Istri, Cerita Pria yang Berdinas 33 Tahun di Militer |
![]() |
---|
Gubernur Sulut Yulius Komaling: ASN Jangan Cuma Suka Makan Tulang, Mohon Maaf Saya Tindak Tegas |
![]() |
---|
Gubernur Sulut Yulius Komaling Sebut Fasilitas Olahraga KONI di Manado Banyak Rusak: Kita Perbaiki |
![]() |
---|
Tunjang Pariwisata, Gubernur Sulut Yulius Komaling Bakal Buka Penerbangan Manado - Toraja Juli 2025 |
![]() |
---|
Gubernur Sulut Yulius Selvanus Ingin Olahraga Freefall Berjaya: Kita Ciptakan Penerus Mandagi |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.