Breaking News
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Beda Pembantu Jokowi soal Program UKT, IKN hingga Tapera, Pengamat: Terburu-buru, Kurang Perhitungan

Beda pandangan beberapa pembantu Presiden Joko Widodo atau Jokowi terhadap program UKT, IKN dan Tapera dinilai akibat kurang perhitungan dan terburu.

Editor: Arison Tombeg
Kolase Tribun Manado
Ilustrasi Tapera. Beda pandangan beberapa pembantu Presiden Joko Widodo atau Jokowi terhadap program UKT, IKN dan Tapera dinilai akibat kurang perhitungan dan terburu. 

TRIBUNMANADO.CO.ID, Jakarta - Beda pandangan beberapa pembantu Presiden Joko Widodo atau Jokowi terhadap program Uang Kuliah Tunggal, Ibu Kota Nusantara dan Tambungan Perumahan Rakyat dinilai akibat kurang perhitungan dan terburu-buru.

Pengamat politik Lingkar Madani Indonesia, Ray Rangkuti beberkan sejumlah alasan pendukung atau pembantu Presiden Jokowi mulai nyatakan sikap berbeda.

Menurut Ray Program Presiden Jokowi di akhir masa jabatannya cenderung terburu-buru dan seperti ambisi pribadi.

Diketahui pada Mei 2024, Prabowo, Menteri Pertahanan sekaligus ketua partai Gerindra dan presiden terpilih 2024 menyatakan menolak kenaikan UKT. Bahkan, Prabowo menjanjikan menggratiskan biaya kuliah.

Bukan hanya Prabowo, bahkan semua fraksi di DPR baik yang pro Jokowi maupun oposisinya juga bersikap sama. Akhirnya kebijakan UKT ditunda.

Kemudian belum lama ini kepala IKN dan wakil kepala IKN menyatakan mundur dari jabatannya.

Lalu kini yang terbaru dua menteri Jokowi juga menyatakan sikap berbeda dengan Jokowi terkait program Tapera.

Baca juga: Pantas Menteri Pendidikan Nadiem Makarim Mendadak Batalkan UKT, Ternyata Baru Dipanggil Presiden

Keduanya tidak menduga bahwa kebijakan Tapera diberlakukan lebih cepat dari desain awalnya. Sehingga membuat keduanya merasa keberatan.

"Makin banyak orang yang merasa bahwa program-program Presiden Jokowi terlalu terburu-buru, ambisius dan kurang perhitungan. Salah satunya kurang sensitif dengan kondisi yang tengah dialami oleh masyarakat. Ambisi Jokowi yang menggebu-gebu bahkan terlihat seperti menerobos berbagai ketentuan, aturan atau fatsun yang berlaku," kata Ray, Jumat (7/6/2024).

Ray melanjutkan semakin banyak lingkaran Jokowi yang sadar bahwa kebijakan-kebijakannya akhir-akhir ini, terlihat sebagai ambisi dan proyek pribadi dibandingkan dengan tujuan mengutamakan kepentingan rakyat.

"Salah satunya adalah pembangunan IKN yang terlihat terlalu dipaksakan untuk dapat diresmikan pada masa kekuasaan Jokowi," terangnya.

Kemudian Ray mengungkapkan dalam banyak hal, pencapaian-pencapain reformasi, satu persatu, rontok di era kekuasaan Jokowi.

"Sebut saja KPK, MK, MA, pemilu/pilpres terburuk sepanjang sejarah reformasi di tahun 2024, kembalinya bukan hanya dwi fungsi malah multi fungsi TNI, kriminalisasi masyarakat kritis, tata cara pembuatan UU yang melabrak UU, nepotisme politik keluarga Jokowi dan banyak lainnya," tutur Ray.

(Tribunnews.com Rahmat W Nugraha)

Sumber: Tribun Manado
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved