Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Cap Go Meh di Manado

70 Penari Kabasaran, Musik Bambu dan Masamper Kawal Proses Cap Go Meh di Manado

Sebanyak 70 penari Kabasaran yang dipimpin Tonaas Rinto Taroreh menjadi pembuka prosesi.

Penulis: Fernando_Lumowa | Editor: Alexander Pattyranie
Tribunmanado.co.id/Fernando Lumowa
Proses Cap Go Meh 2575 Kongzili melibatkan atraksi budaya lokal Sulawesi Utara seperti Kabasaran, musik bambu hingga Masamper, Sabtu (24/02/2024). 

TRIBUNMANADO.CO.ID - 70 penari Kabasaran mengawal prosesi Cap Go Meh 2575 Kongzili Manado, Sulawesi Utara (Sulut).

Sebanyak 70 penari Kabasaran yang dipimpin Tonaas Rinto Taroreh menjadi pembuka prosesi.

Kelompok Pinaesaan Ne Kawasaran ini merupakan kumpulan kelompok tari Kabasaran.

Pesertanya dari Manado, Tomohon dan Minut.

Selain Kabasaran, berbagai kelompok atraksi budaya bergabung dalam arak-arakan non-ritual tahun ini.

Ada sejumlah kelompok musik bambu. Satu di antaranya Musik Bambu Gema Manguni Tara-Tara, Kota Tomohon.

Ada juga kelompok Musik Orkes Kelurahan Bahu, Malalayang, grup Masamper dan Kesatuan Mahasiswa Hindhu Dharma Indonesia Sulut.

Selain itu, masuk dalam barisan non-ritual ini, marching band siswa IPDN Kampus Sulut, Paskibraka Kota Manado 2023 dan kereta hias yang ditumpangi pemuda pemudi yang mengenakan pakaian pemuka enam agama di Indonesia.

Setelah barisan non-ritual, baru arak-arakan ritual yang terdiri dari kendaraan hias dan kuda yang ditumpangi anak sekolah minggu yang berpakaian dewa dewi.

Setelah itu, urut-urutan tangshin dari beberapa klenteng yang ada di Manado dan sekitarnya.

Sebelas tangshin, dari yang paling muda 22 tahun hingga yang sudah lansia tampil.

Atraksi para tangshin ini paling ditunggu. Ribuan warga rela berdesakan demi menyaksikan aksi para tangshin.

Perayaan Cap Go Meh di Manado salah satu yang paling menarik karena menyuguhkan atraksi perkawinan lintas budaya.

Akulturasi budaya lokal Sulawesi Utara dan Tionghoa menjadi kesatuan. Simbol kerukunan dan perdamaian warga Bumi Nyiur Melambai.

Mereka yang turut dalam perayaan ini senang sekaligus bahagia.

"Kami senang karena dilibatkan dalam kegiatan ini. Orang juga tahu ada organisasi ini," ujar Pusvita Parwita dari IMHDI Sulut.

Senada dikatakan James Pontoluli, pemain string bas orkes Bahu.

"Ini wujud toleransi dan kerukunan torang di Sulawesi Utara," ujar James.

(ndo)

Baca Berita Lainnya dari Tribun Manado di Google News

Sumber: Tribun Manado
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved