Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Pilpres 2024

Prabowo-Gibran Tembus 50 Persen versi Economist, Pengamat: Pilpres 2024 Sulit Diprediksi

Unggulnya duet Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming bisa dimaklumi karena didukung dari beberapa aspek seperti logistik dan mesin politik.

Editor: Lodie Tombeg
Tribunnews/Jeprima
Komunitas Ondel-ondel berkeliling menyapa warga di Gang Sayuti Kelurahan Rawasari, Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Sabtu (20/1/2024). Komunitas ondel-ondel pendukung pasangan calon presiden dan wakil presiden Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka melakukan sosialisasi kampanye GEMOY untuk Pemilu Damai serta membagikan makanan ringan untuk warga. Unggulnya duet Prabowo-Gibran bisa dimaklumi karena didukung dari beberapa aspek seperti logistik dan mesin politik. 

TRIBUNMANADO.CO.ID, Jakarta - Pengamat politik Hendri Satrio alias Hensat mengatakan, unggulnya duet Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming bisa dimaklumi karena didukung dari beberapa aspek seperti logistik dan mesin politik.

Menurut survei media Inggris, The Economist, Paslon 02 Prabowo-Gibran memiliki elektabilitas 50 persen, butuh satu suara lagi untuk memenangkan kontestasi 5 tahunan.

"Kalaupun kemudian hampir melewati 50 persen, pasangan nomor 2 ini, ini memang bisa dimaklumi karena mereka punya semua. Logistik paling kuat, kemudian mesinnya paling banyak, gitu ya," kata Hensat.

Dia menyebut kubu 02 juga punya kreativitas serta didukung gerakan politik yang kuat sehingga jika hasil survei menembus 48,5 persen (survei Indikator Politik Indonesia) dinilainya tak mengejutkan.

"Gerakan-gerakan mereka juga kuat sehingga saat mencapai 48,5 persen hari ini itu juga tidak mengejutkan. Justru yang mengejutkan kenapa belum lewat 51 persen + 1?" jelas dosen Universitas Paramadina tersebut.

Menurut Hensat, bakal ada ada lagi turning out di Pilpres 2024 yang bisa mempengaruhi berjalan satu atau dua putaran. Tapi, bagi dia, pilpres kali ini sulit diprediksi.

Dia menyinggung aturan pemenang pilpres yaitu mesti menembus angka 50 persen plus 1.

"Dan, jangan lupa bahwa di aturan kita selain 50 persen plus 1, harus ada kemenangan di 20 provinsi," lanjut Hensat.

"Walaupun luar biasanya Pak Jokowi, dia sudah tambah 4 provinsi lagi di Papua. Bisa jadi itu salah satu strategi untuk mempermudah satu putaran," ujarnya.
Pun, dia bilang dengan beberapa alasan itu akhirnya sulit menduga soal pilpres kali ini.

"Jadi, beberapa hal ini yang memang akhirnya kita sulit menduga, kan ini di ujung nih. Apakah lewat ini atau kemudian berbalik arah," sebut Hensat.

Dia juga menyinggung soal hasil survei Indikator Politik Indonesia bahwa pasangan Prabowo-Gibran sempat turun sedikit.

"Kita lihat survei terakhirnya, kalau gak salah pernah turun di Indikator. Yang memang terkadang pemilu di Indonesia ini sulit diprediksi," kata pendiri lembaga survei Kedai Kopi tersebut.

Maka itu, ia tak sepaham jika ada anggapan pilpres di Indonesia mudah diprediksi seperti pandangan pengamat luar negeri.

"Kalau ada pengamat luar negeri yang mengatakan pemilu paling mudah diprediksi itu Indonesia, kali ini tidak. Minimal tentang satu atau dua putaran," ujarnya.

Survei Asing

Halaman
12
Sumber: Tribun Manado
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved