Pelipat Surat Suara
Pengakuan Petugas Sortir Lipat Surat Suara Capres Cawapres, Tak Dapat Bayaran Padahal Sudah Kerja
Lilis mengaku sudah melipat sekitar 2.000 surat suara. Dia sortir dan lipat. Namun dia tak mendapat upah dari KPU.
TRIBUNMANADO.CO.ID - Berikut ini cerita, curahan hati atau curhat seorang warga yang mengaku petugas sortir lipat surat suara calon presiden dan wakil presiden atau capres dan cawapres Republik Indonesia.
Katanya sudah melipat ribuan surat suara tapi tak mendapat upah dari Komisi Pemilihan Umum atau KPU.
Warga tersebut bernama Lilis (51), Tinggal di Meruya Jakarta Barat.
Saat ditemui wartawan Wartakotalive.com (grup tribunmanado.co.id) pada Kamis (11/1/2024) Lilis (51) terduduk lesu di trotoar sekitar Gelanggang Olahraga Remaja (GOR) Tanjung Duren, Jakarta Barat.
Lilis saat itu baru saja dikeluarkan sebagai petugas sortir lipat surat suara dan belum diberi upah, padahal kata Lilis, dia sudah bekerja melipat ribuan surat suara.
"Udah hampir dua dus, enggak dibayar, orang udah langsung disuruh keluar sama petugasnya, alasannya katanya enggak ada nomor, padahal dari awal udah masuk," kata Lilis saat ditemui di lokasi, Kamis (11/1/2024).
Lilis sudah melipat dua kardus surat suara yang masing-masingnya berjumlah 1.000 lembar. Jadi totalnya sudah 2.000 surat suara ia sortir dan lipat.
Lilis mengaku heran dengan perlakuan kepada dirinya. Kenapa setelah bekerja melipat ribuan surat suara barulah dikeluarkan. Sebelumnya kata Lilis, dia telah diizinkan masuk dan mendapat tanda pengenal sebagai petugas penyortir dan pelipat surat suaea.
Cerita Lilis
Lilis bercerita, dirinya telah menjadi petugas sortir lipat surat suara sejak lokasi untuk melipat surat suara masih di GOR Kebon Jeruk.
Terjadi perpindahan tempat untuk melipat surat suara, dari GOR Kebun Jeruk ke GOR Tanjung Duren.
Lilis pun diminta datang ke tempat baru tersebut.
Dia pun berangkat dari rumahnya di Meruya ke GOR Kebon Jeruk sekira pukul 07.00 WIB menggunakan ojek online.
Alih-alih mendapat pemasukan untuk makan dan ongkos, Lilis justru menelan pil pahit lantaran ia tak mendapatkan bayaran sama sekali.
"Sampai sini, di sini kan berebut begitu, pakai name tag aja kan ada yang enggak masuk gitu, alasannya enggak ada nomor, penuh," ungkap Lilis.
"Mana ke sini kami naik ojek, saya dari Meruya ongkos Rp 30.000, balik lagi," lanjutnya.
Wanita yang sehari-hari mengurusi rumah tangga itu berujar, ia mencari pekerjaan tambahan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Meski sebenarnya, uang yang didapat dari hasil melipat surat suara itu tidaklah seberapa.
"Intinya namanya kami punya kebutuhan ya kan kami nyari kerjaan lagi susah, ya kami ke mana aja yang penting menghasilkan uang," ungkap Lilis lirih.
"Udah bela-belain ke sini ya kan. Kalau kemarin di Kebon Jeruk mendingan, masih tertib. Di sini serabutan begini, jadi kayaknya gimana ya yang masuk itu yang kenal-kenal orang dalam aja, padahal kami niat kerja," imbuhnya.
Menurutnya, ia dibayar Rp 100.000 apabila berhasil melipat satu box kardus.
Yang mana dalam sehari, Lilis bisa melipat 9 dus surat suara dalam sehari bersama tiga temannya yang lain.
"Waktu itu kami Rp 900.000 berempat. Uang makan Rp 15.000, satu orangnya Rp 225.000, jadi tambahan Rp 15.000, jadi ya Rp 250.000," kata dia.
Lilis menyampaikan, satu dus terdiri dari 500 lembar surat suara.
Sehingga total ia pernah melipat 4.500 surat suara dalam sehari.
Kendati demikian, hari ini ia mengalami nasib apes lantaran dua kotak surat suara yang telah ia lipat tak mendapatkan bayaran sama sekali.
Bahkan, dirinya luntang lantung tanpa kepastian di depan GOR Tanjung Duren, Jakarta Barat.
"Kan untuk pembayaran setiap sore, kan off-nya (selesai) pukul 17.00 WIB, itu dari situ kami harus udah dapet pembayaran. Sedangkan kemarin pembayaran ditunda belum dapat," kata Lilis.
"Akhirnya sekarang pulang aja, gimana kami suruh nunggu-nunggu tapi kan kami belum tentu masuk," imbuhnya.
Di akhir, Lilis mengaku kecewa dengan apa yang terjadi hari ini kepadanya.
Padahal, ia hanya ingin mencari nafkah untuk makan dan kebutuhan sehari-harinya.
"Tolonglah dikasih peluang, kasihan juga kan berharap ibarat kata jumlahnya enggak seberapa mereka berharap, sekarang cari kerja susah," kata Lilus.
"Yang penting petugasnya dikasih ketertiban, teratur, kasih peraturan yang bagus. Daripada kayak gini kasihan," imbuhnya.
Penjelasan Ketua KPU Jakarta Barat
Ketua KPU Jakarta Barat, Endang Istianti menyebut bahwa semua petugas sortir lipat akan memperoleh bayaran sesuai hasil kerjanya masing-masing bersama timnya yang berjumlah 4 orang.
"Tetap (dibayar), semua yang sudah melipat itu, ini kan kerjanya satu tim empat orang, nah berbaginya di situ," kata Isti saat ditemui di lokasi, Kamis.
"Jadi kardus itu dinamai sesuai dengan kelompok itu, nanti mereka berbagi hasilnya di sana. Berapapun yang mereka dapat kami akan membayar sesuai hasil kerjanya," lanjut Isti.
Kendati demikian, Isti membenarkan jika pihaknya memiliki hak untuk mengeluarkan petugas yang kiranya melanggar aturan dan tak bisa mengikuti ritme kerjanya.
Pasalnya, ada target yang harus dipenuhi tiap harinya dalam pelipatan surat suara.
"Perlu kami periksa, pertama apakah mereka sudah mendaftar, apakah sudah punya id (tanda pengenal) sebagai petugas sortir lipat kedua itu yang ketiga mereka bagian dari evaluasi dari petugas," pungkasnya. (m40)
(Tribunmanado.co.id/WartaKotalive.com)
Pajak, Korupsi, dan Krisis Kepercayaan |
![]() |
---|
Aksi Unjuk Rasa di Sekitar Mako Brimob Membara, Halte Transjakarta Central Senen Terbakar Hebat |
![]() |
---|
Operasi Pencarian Nelayan Basaan Mitra Ditutup, Korban Ditemukan Tewas Mengapung |
![]() |
---|
Mahasiswa Bolmong Raya Sampaikan Tuntutan, Rencana Gelar Aksi Lanjutan di Polres Kotamobagu |
![]() |
---|
Rothfink Industries, UMKM di Sun Bay Bahu Manado Sajikan Kuliner Favorit |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.