Tajuk Tamu
Optimalisasi Peran Tenaga Kesehatan untuk Pencegahan Stunting
Permasalahan stunting di Indonesia menjadi ancaman terbesar bagi generasi penerus masa depan bangsa
Penulis: Linda Mahundingan
* Mahasiswa Bidang Minat AKK Fakultas Kesehatan Masyarakat Unsrat
* Juara 1 Lomba Nasional Essay Medical Dies Natalis ke-22 Poltekkes Kemenkes
Riau
PERMASALAHAN stunting di Indonesia menjadi ancaman terbesar bagi generasi penerus masa
depan bangsa. Pada tahun 2022, prevalensi stunting Indonesia berada di angka 21,6 persen, masih
jauh dari target prevalensi stunting di tahun 2024 sebesar 14 % (SSGI, 2022).
‘’Stunting di negara kita menjadi pekerjaan rumah yang sangat besar yang harus segera diselesaikan’’ Presiden RI Joko Widodo dalam sambutannya pada Rapat Kerja Nasional Penurunan Stunting di Auditorium BKKBN Halim Perdanakusuma Jakarta pada awal tahun 2023 (Kemenkes RI, 2023).
Hal ini menjadi tanggung jawab bagi semua pihak khususnya bagi para tenaga kesehatan.
Pada zaman sekarang ini, dunia kesehatan seharusnya memikirkan pelayanan kesehatan tidak
hanya pada orang sakit, tetapi juga pada orang sehat demi mempertahankan generasi
selanjutnya yang jauh lebih sehat.
Bidang kesehatan sudah saatnya memikirkan era preventif dan promotif sebagai salah satu upaya yang dapat menekan angka prevalensi stunting di Indonesia.
Penerapan upaya preventif dan promotif memiliki sasaran utama yaitu masyarakat luas.
Sumber daya manusia yang dibutuhkan dalam hal ini haruslah yang memiliki dan menguasai
bidang keilmuan kesehatan masyarakat yang tidak lain adalah tenaga kesehatan masyarakat.
Namun, sampai saat ini para tenaga kesehatan masyarakat yang sebenarnya merupakan prime
mover (penggerak utama) di era preventif dan promotif belum sepenuhnya mendapatkan
perhatian dari masyarakat maupun pemerintah.
Stunting sebagai salah satu dampak kurang gizi, perlakuan yang salah serta dampak lingkungan
pada balita menyebabkan terhambatnya proses tumbuh kembang anak dan berisiko terjangkit
berbagai penyakit kronis.
Selain itu, peningkatan anak yang menderita stunting dapat berujung pada kualitas SDM yang semakin buruk di masa depan.
Kejadian ini tidak bisa lagi dianggap masalah yang sepeleh, melainkan harus mendapatkan perhatian serius semua pihak Tenaga kesehatan masyarakat memiliki peran yang sebetulnya mampu untuk mengendalikan dampak dan mencegah faktor risiko stunting.
Sebagai prime mover, tenaga kesehatan masyarakat memiliki bidang 7 (tujuh) bidang keilmuan yang akan mampu mengidentifikasi faktor risiko, mencegah serta melindungi masyarakat, mengedukasi masyarakat, mengembangkan kebijakan berbasis bukti serta menjamin lingkungan yang sehat bagi masyarakat dan terhindar dari masalah kesehatan stunting.
Mengingat keberadaan tenaga kesehatan masyarakat yang begitu penting, peningkatan
perannya dalam penanggulangan masalah kesehatan khususnya stunting perlu untuk dilakukan.
Peningkatan peran yang dimaksudkan yaitu dengan adanya dukungan penuh dari pemerintah
serta kepercayaan dari masyarakat untuk para tenaga kesehatan masyarakat agar mampu
menjalankan perannya sesuai bidang keilmuan yang dimiliki. Optimalisasi peran tenaga
kesehatan masyarakat ini akan mendukung upaya pencegahan stunting menuju SDM unggul
Indonesia maju.
A. Siapa saja yang termasuk tenaga kesehatan masyarakat?
Berdasarkan UU RI No. 36 Tahun 2014 Tentang Tenaga Kesehatan dijelaskan bahwa tenaga
kesehatan masyarakat terdiri dari epidemiolog kesehatan, tenaga promosi kesehatan dan ilmu
perilaku, pembimbing kesehatan kerja, tenaga administrasi dan kebijakan kesehatan, tenaga
biostatistik dan kependudukan, serta tenaga kesehatan lingkungan.
Para tenaga kesehatan masyarakat tersebut, masing-masing memiliki peran dan keahlian sesuai bidang keilmuan yang dianutnya.
B. Bagaimana tenaga kesehatan masyarakat dapat menjadi prime mover di era preventif
dan promotif pencegahan stunting?
Stunting merupakan salah satu masalah kesehatan yang terjadi pada balita. Stunting biasanya
ditandai dengan gangguan pertumbuhan pada anak yaitu tinggi badan anak yang lebih rendah
atau kerdil dari standar usianya.
Selain itu, stunting juga dapat membuat balita lebih rentan terhadap penyakit degenerative serta mempengaruhi kecerdasan. Terdapat beberapa aspek yang menyebabkan kejadian stunting pada balita. Namun, penyebab paling mendasar berasal dari tingkatan individu dan juga rumah tangga. Faktor rumah tangga atau keluarga mencakup nutrisi yang kurang pada sepanjang masa kehamilan, tinggi badan ibu yang rendah, infeksi, kehamilan pada usia remaja, kesehatan mental, jarak kehamilan yang pendek dan juga hipertensi.
Selain itu, faktor lingkungan keluarga yang mencakup pola asuh pada anak yang salah, ketersediaan pangan yang kurang, serta kondisi sanitasi yang buruk. Tidak hanya sampai disitu saja, kejadian anemia pada remaja putri juga berpengaruh terhadap kejadian stunting mengingat kesehatan remaja putri sebagai calon ibu sangat penting.
Upaya preventif dan promotif merupakan salah satu upaya kesehatan yang tengah marak
dilakukan oleh pemerintah akhir-akhir ini dalam rangka pencegahan stunting. Meskipun
begitu, tenaga kesehatan masyarakat belum sepenuhnya dilibatkan secara optimal.
Layaknya seperti sebuah mesin penggerak utama atau prime mover tenaga kesehatan masyarakat dengan bidang keilmuan yang dimiliki akan mampu mengoptimalkan pemberdayaan masyarakat
terkait kesehatan. Tenaga kesehatan masyarakat akan menjadi pelopor dan pusat dalam upaya
preventif dan promotif pencegahan stunting, mulai dari menyusun strategi kebijakan pencegahan stunting, promosi kesehatan terkait pencegahan stunting, pemantauan kejadian dan
faktor risiko stunting, perbaikan sanitasi lingkungan, serta kesehatan dan keselamatan dalam
bekerja.
Para tenaga kesehatan masyarakat memiliki kemampuan serta keahlian yang berbeda
dengan tenaga kesehatan lainnya dalam berinteraksi dengan masyarakat. Kemampuan serta
keahlian tersebut hanya dapat dilihat ketika dilibatkan langsung dalam upaya kesehatan yang
ada. Kemampuan dalam berinteraksi dengan masyarakat, serta keahlian dalam bidang
pencegahan dan peningkatan kesehatan untuk pencegahan stunting membuat tenaga kesehatan
masyarakat mampu untuk menjadi prime mover di era preventif dan Promotif pencegahan
stunting.
C. Optimalisasi peran seperti apa yang ditawarkan?
Peran tenaga kesehatan masyarakat dalam rangka pencegahan stunting melalui preventif dan
promotif mencakup 2 (dua) optimalisasi peran yang ditawarkan yaitu:
1. Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) Menuju Generasi Bebas Stunting
Tingkatan pengetahuan masyarakat terkait factor risiko stunting sangat pengaruh terhadap
peningkatan kejadian stunting.
Peran tenaga kesehatan masyarakat di sini sangat dibutuhkan
dalam berkomunikasi kepada masyarakat tentang informasi factor risiko yang dapat
menyebabkan stunting, prevalensi stunting dari masa ke masa, serta mengedukasi masyarakat
untuk bersama mencegah peningkatan prevalensi stunting. Metode yang dapat dilakukan yaitu
dengan:
a. Penyuluhan Pencegahan Stunting
Penyuluhan dilakukan untuk memberikan pengetahuan kepada masyarakat terkait factor risiko
stunting dalam hal ini tenaga kesehatan masyarakat akan menjadi pelaku utama dalam
mengedukasi masyarakat.
Adapun sasaran dalam kegiatan ini yaitu remaja, calon pasangan usia subur/calon pengantin, ibu hamil, ibu menyusui, dan ibu dengan anak usia 0-59 bulan. Kegiatan
ini akan dilakukan secara rutin berdasarkan perencanaan yang telah dilakukan oleh para tenaga
kesehatan masyarakat dengan bantuan dukungan dan fasilitas dari pemerintah sebagai
pemangku kepentingan. Terkait materi yang diberikan akan disesuaikan dengan sasaran
penyuluhan yang akan dilakukan.
b. Literasi Kesehatan
Kemampuan literasi merupakan salah satu hal yang wajib dikembangkan oleh masyarakat dari
berbagai kalangan. Adanya budaya literasi dapat membantu masyarakat menemukan berbagai
informasi penting serta meningkatkan kemampuan berpikir kritis masyarakat. Literasi
kesehatan menjadi salah satu bentuk literasi yang dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat
tentang kesehatan terutama terkait stunting. Hadirnya tenaga kesehatan masyarakat diharapkan
mampu mengajak masyarakat untuk semakin meningkatkan budaya literasi kesehatan terkait
pencegahan stunting demi mendukung pembangunan kesehatan.
2. Peningkatan Usaha Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM)
UKBM merupakan salah satu upaya pemberdayaan masyarakat yang telah dibentuk
sebelumnya yang dikelola oleh masyarakat dan untuk masyarakat dengan bimbingan petugas
puskesmas, lintas sector dan lembaga terkait lainnya.
UKBM ini sendiri perlu dikelola tidak hanya oleh petugas puskesmas saja, melainkan oleh para tenaga kesehatan masyarakat Pelaksanaan UKBM dengan mengutamakan upaya preventif dan promotif haruslah digerakkan langsung oleh tenaga kesehatan masyarakat yang memiliki keahlian serta kemampuan dalam hal pengabdian kepada masyarakat.
Adapun jenis UKBM yang perluh untuk di tingkatkan yaitu posyandu balita, posyandu remaja, poliklinik kesehatan desa, pos gizi, pos penyuluhan KB, serta kegiatan lain sesuai kesepakatan antara tenaga kesehatan masyarakat dan juga masyarakat dengan difasilitasi oleh pemerintah
D. Apa tujuan yang ingin dicapai?
Optimalisasi peran tenaga kesehatan masyarakat dalam rangka pencegahan stunting dapat
mengoptimalkan upaya preventif dan promotif pencegahan stunting yang tengah marak
dilakukan saat ini.
Hal ini didukung oleh adanya keahlian dan kemampuan yang dimiliki oleh
para tenaga ahli kesehatan masyarakat yang tidak hanya mampu mengedukasi masyarakat
tentang pencegahan stunting tetapi juga mempunyai keahlian dalam berkomunikasi kepada
masyarakat sehingga informasi yang diberikan dapat diterima dengan baik oleh masyarakat.
Peningkatan peran ini dengan menjadikan tenaga kesehatan masyarakat sebagai prime mover
diharapkan mampu membantu pemerintah dalam pencegahan stunting di era preventif dan
promotif.
Penutup
Tenaga kesehatan masyarakat merupakan salah satu tenaga kesehatan yang mempunyai peran
penting dalam pembangunan kesehatan di Indonesia.
Peran tenaga kesehatan masyarakat di era preventif dan promotif pencegahan stunting perlu untuk ditingkatkan, mengingat keahlian dan kemampuan para tenaga kesehatan masyarakat akan mampu menjadi prime mover dalam upaya preventif dan promotif pencegahan stunting.
Optimalisasi peran yang dilakukan tersebut akan mampu meningkatkan pemberdayaan masyarakat terkait kesehatan menuju generasi yang terbebas dari stunting. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/linda-mahundingan.jpg)