Catatan Wartawan
Manchester City versus Inter Milan, Cermin Kehidupan Manusia
Minggu dini hari, Manchester City akan berhadapan dengan Inter Milan. Pertandingan mereka bak kehidupan manusia.
Penulis: Arthur_Rompis | Editor: Isvara Savitri
TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Di era tiga negara atau Sam Kok di Tiongkok kuno, Cao Cao yang punya kekuatan besar dapat mengalahkan Liao Biao dengan mudah.
Namun, Cao Cao dikalahkan oleh pasukan kecil yang dipimpin Liu Bei dan Chuke Liang.
Itulah seni perang.
Yang kuat dapat mengalahkan yang lemah, sebaliknya, yang lemah dapat mengalahkan yang kuat.
Ahli perang Cina kuno, Sun Tzu, mengatakan kerajaan besar dapat menelan kerajaan kecil jika dapat menyatukan segenap potensi kekuatan dan menyerang lawan di tempat yang lemah, bagai membenturkan batu dan telur.
Tapi sebuah pasukan kecil dapat mengalahkan kerajaan besar lewat perang gerilya dan membuat mereka lelah dengan serangan tak terduga.
Laga puncak Liga Champion antara Manchester City dan Inter Milan di Ataturk Olympic Stadium, Istanbul, Turki, pada Minggu (11/6/2023) pukul 02.00 WIB, bakal menyajikan duel sengit antara tim beda kekuatan.
Manchester City dengan permainan hebat dan skuad luar biasa serta prestasi gemilang, melawan Inter Milan dengan skuad medioker, agak terpuruk, namun punya pengalaman berlaga di Liga Champion.
Manchester City adalah hegemoni, sukar menaklukkan mereka.
City bermain dengan gaya Total Football yang kekinian, elok di lihat dan berorientasi kemenangan.
Saat menyerang, pemain City memainkan umpan-umpan pendek sembari bergerak cepat, dengan tiga penyerang dan seorang pemain lubang yang selalu tukar posisi.
Gaya menyerang itu adalah pertahanan City.
Mereka terbiasa bermain di garis pertahanan tinggi.
Saat kehilangan bola, para pemain City langsung melakukan pressing yang membuat lawan mati kutu.
Mau menyerang tak bisa, bertahan pun tak mampu.
Skema City yang digarap pelatih Pep Guardiola tersebut ditunjang pemain-pemain yang lagi on fire.
Di depan ada sang monster Erling Haaland.
Di belakang Halland, ada Kevin De Bruyne yang dikenal sebagai playmaker, dengan umpan kelas satu.
Di belakang De Bruyne ada Ilkay Gundogan, sang sniper yang terus bersinar.
Di belakang Gundogan ada John Stones yang cemerlang di posisi baru sebagai gelandang bertahan.
Posisi sayap yang jadi andalan Guardiola juga ditempati pemain-pemain yang lagi on fire seperti Jack Grealish, Silva, Alvarez, maupun Foden.
Baca juga: Kisah Inah Sainah TKW di Arab Saudi, 18 Tahun Hilang Usai Pindah Majikan, Kini Digugat Cerai Suami
Baca juga: Jemaat GMIM Baitani Paslaten Minut Raih Juara Umum Minawerot One Youth Festival
Di atas kertas, adu kekuatan akan dimenangkan City.
Namun, hidup bukan matematika, 1+1 bisa jadi 5.
Menarik menyimak analisis Arrigo Sacchi.
Pelatih kawakan Italia ini menyebut Inter Milan dapat menang jika menerapkan Cattenacio dengan murni dan konsekuen.
Cattenacio adalah produk asli Italia.
Namun dewasa ini, kebanyakan tim Italia sudah meninggalkan Cattenacio.
Nah Inter musti kembali mengenakan Cattenacio di partai final.
"Kuncinya adalah pressing, pressing, dan pressing. Jangan biarkan pemain City punya ruang gerak bebas," katanya.
Kemudian, lanjut Sacchi, Inter musti memanfaatkan skema serangan balik.
Nah Inter punya banyak pemain untuk mendukung skema ini.
Di line tengah mereka punya Nicollo Barella yang punya jiwa Cattenacio.
Ia tangguh dalam merebut bola dan piawai mengalirkan bola.
Barella akan jadi pemain kunci karena dialah komandan gerilya Inter Milan.
Sebagai wakil komandan, ada Brozovic yang merupakan ball winner sejati.
Di depan, Inter Milan punya banyak pemain dengan kemampuan berlari cepat.
Ada Lautaro Martinez dan Rumelu Lukaku.
Martinez adalah gelandang licin yang punya naluri gol tinggi.
Dia dapat menghukum City jika Diaz dan Walker terlalu asyik menyerang.
Siapa yang bakal menang?
Pertarungan City versus Inter Milan ini adalah dunia dan segenap anomalinya.
Baca juga: Program Jumat Bacerita di Desa Boyong Pante, Polres Minsel Sulawesi Utara Serap Aspirasi Warga
Baca juga: Kecelakaan Maut Hari Ini, Seorang Pedagang Tewas, Sopir Truk Tabrak Belakang Gerobak Sepeda Korban
City adalah wujud dari idealisme, kemapanan, keluhuran, serta keutuhan.
Sementara Inter Milan mewakili pragmatisme, kedaifan, serta ketidakberdayaan.
Tapi siapa yang berjaya di bumi manusia ini, semuanya bergantung pada strategi, usaha, dan takdir.
Yang punya banyak belum tentu menang.
Yang punya sedikit belum tentu kalah.
Yang ganteng belum tentu bisa menggaet wanita cantik.
Yang berwajah jelek bisa saja beruntung dalam percintaan.
Yang cerdas belum tentu kaya, dan yang bodoh belum tentu miskin.
Yang berpendidikan belum tentu berakhlak, dan yang tidak sekolah belum tentu tidak paham budaya.
Manusia punya potensi, tapi potensi ditentukan usaha, dan usaha bergantung takdir.
Itulah keadilan dunia.(*)
Baca berita lainnya di: Google News.
Berita terbaru Tribun Manado: klik di sini.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/final-liga-champion-manchester-city-versus-inter-milan-56y7.jpg)