Sosok ES Pria yang Ditangkap Densus 88, Kerap Pindah Masjid, Sering Terima Tamu Bukan Warga Setempat
Tak menunggu lama Densus 88 berhasil menangkap dan membuka siapa sosok yang diduga teroris.
Informasi yang dihimpun SURYA.CO.ID, ABU ditangkap oleh anggota kepolisian saat hendak bepergian menggunakan fasilitas layanan ojek online (Ojol) sekitar pukul 08.30 WIB.
Penangkapan terhadap ABU, dilakukan oleh anggota kepolisian tepat di depan gang utama permukiman rumahnya, atau tepat di gapura depan bertuliskan Jalan Kalimas Madya III.
Setelahnya, ABU diamankan ke dalam mobil kepolisian untuk dibawa ke suatu tempat.
Sekitar pukul 09.30 WIB, anggota kepolisian berjumlah lebih banyak melakukan penggeledahan dan penyitaan sejumlah barang di dalam rumah ABU.
Ketua RT 02 Nyamplungan, M Abri membenarkan, bahwa salah seorang tetangganya berinisial ABU diamankan oleh anggota kepolisian sekitar pukul 08.00 WIB, Jumat (2/6/2023) kemarin, di dekat rumahnya.
"Diamankan, setengah 8 sudah ditangkap,
Setahu saya di rumahnya. Iya sekitar rumahnya. Jam setengah 10 mereka jemput saya ke sini," ujar Abri saat ditemui di kediamannya, Sabtu (3/6/2023).
Setelah proses penangkapan tersebut, Abri menambahkan, dirinya diajak anggota kepolisian untuk menyaksikan proses penggeledahan dan penyitaan sejumlah barang bukti di rumah ABU.
Proses penggeledahan dan penyitaan tersebut berlangsung sekitar dua jam,
Sebelum jarum jam menunjukkan angka 12, sebagai tanda masuk ibadah salat Jumat, proses penggeledahan yang dimulai sejak pukul 09.30 WIB itu rampung.
"Saya ditunjukkan surat perintah penggeledahan. Kemudian mereka masuk ke dalam kamar," jelasnya.
Berdasarkan pengamatan dan proses penggalian informasi selama dilibatkan oleh anggota kepolisian menyaksikan mekanisme penggeledahan tersebut, Abri menyebutkan, anggota kepolisian menyita sekitar 43 buku yang bertemakan jihad, Negara Islam dan beberapa buku bacaan karangan Abu Bakar Ba'asyir.
Ia mengetahui tema buku-buku yang disita tersebut, karena sempat melihat sampul buku-buku tersebut seusai digeledah dari beberapa sudut ruangan rumah ABU, seperti ruang kamar anak ABU dan area ruang tamu depan.
Buku-buku yang disita itu, dikemas dalam wadah plastik menyerupai karung berwarna hitam berukuran besar.
Lalu diangkut dalam mobil anggota kepolisian.
Selain buku, lanjut Abri, anggota kepolisian juga mengamankan sebuah benda busur dan anah panahnya.
Sesuai pengamatannya di lokasi, hanya satu busur dan lima anak panah yang disita.
"Iya ada panah. Ujungnya memang sangat tajam,
Tapi tadi saya lihat di ujung kampung pas ada lomba. Artinya menurut saya, panah ya wajar, olahraga. Itu juga kalau tidak salah diamankan," lanjutnya.
Selama kurun waktu dua jam melakukan penggeledahan, tidak ada tindakan offensif yang dilakukan oleh anggota keluarga ABU.
Hanya saja saat anggota kepolisian mulai menyita dan membawa buku-buku tersebut, Abri mengungkapkan, kakak kedua ABU bernama Said meminta agar buku-buku tersebut segera dikembalikan jika urusan perkara hukum adiknya rampung.
Pernyataan yang disampaikan oleh kakak ABU itu, juga didengar oleh anggota kepolisian.
Dan beberapa orang anggota menyampaikan jawaban secara normatif.
Bahwa proses penyitaan yang dilakukan, merupakan bagian dari langkah hukum. Dan, benda-benda sitaan tersebut akan dikembalikan sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku.
"(Perlawanan secara sporadis) itu enggak ada. Iya hanya protes, ini buku beli, kalau sudah selesai mohon dikembalikan,
Polisinya bilang, ya kami periksa kalau memang tidak terbukti kami kembali. Kalau terbukti ya kami lanjutkan," pungkas Abri.
Sementara itu, kakak kedua ABU, Said Umar mengatakan, adiknya itu ditangkap anggota kepolisian saat hendak mengantar pakaian untuk anak ABU yang sedang bersekolah di salah satu SD swasta di kawasan Jalan Benteng, Ujung, Semampir, Surabaya.
ABU ditangkap saat berada di atas boncengan ojol yang dipesan oleh sang adik dari depan rumah. Dan disergap saat melintas keluar dari gapura depan gang permukiman rumahnya, berjarak kurang dari 50 meter.
"Dia mau ke pondok anaknya. Tapi saya curiga ojol itu intel," ujar Said saat ditemui awak media di kediamannya, Sabtu (3/6/2023) malam.
Mengenai buku-buku yang disita, Said mengaku tidak mengetahui alasan anggota kepolisian menyita tersebut, termasuk beberapa lembar dokumen. Padahal, beberapa buku yang di sita itu ada juga milik pribadinya.
"Enggak ngerti,
Buku-buku cerita yang dibawa, ya sudah,
Campur,Satu lemari itu campur. Ada buku dia, ada buku saya,
Iya kitab-kitab, ada lembaran-lembaran kertas apa enggak tahu. Saya lihat 5 biji, saya enggak tahu," jelasnya.
Kemudian mengenai busur dan anak panah yang disita, Said menegaskan benda itu bukan senjata milik adiknya, melainkan alat olahraga di sekolah dari anak ABU atau keponakannya yang memang sudah lama tidak terpakai.
"Panah itu, punya anaknya sekolah di AR (inisial sekolah),
Di suruh gurunya. Ada (panah) yang plastik, tapi gak dibawa. Iya alat olahraga di sekolahan. Sudah enggak dipakai sejak lama. Ya 1 set itu," ungkap Said.
Said tak menampik, bahwa adiknya itu ditangkap atas kasus dugaan tindakan terorisme.
Namun, mengenai langkah hukum yang dilakukan oleh pihak keluarga. Dirinya memilih pasrah dan berserah diri kepada Tuhan.
"Gak ada, kami kehabisan uang. Saya cuma mau ngomong sama Allah. Mudah-mudahan dihancurkan yang menyuruh. Anaknya, turunannya,
Kalau sudah dihancurkan, mudah-mudahan gila," pungkasnya. (Kompas.com/ Muhammad Syahrial)
Artikel ini telah tayang di TribunNewsmaker.com
Kecelakaan Maut, Seorang Imam Masjid Meninggal, Truk Rem Blong Tabrak Korban |
![]() |
---|
Sedihnya Ustaz Dasad Latif, Uang yang Ditabung buat Bangun Masjid Diblokir PPATK: Menyusahkan Rakyat |
![]() |
---|
Terekam CCTV Detik-detik Seorang Pria Curi Kotak Amal Masjid, Awalnya Pelaku Sempat Lakukan Ini Dulu |
![]() |
---|
Akhirnya Terungkap Dua ASN Terduga Teroris di Aceh Merupakan Petinggi Jaringan dan Pengelola Dana |
![]() |
---|
Akhirnya Terungkap Peran Dua Terduga Teroris di Aceh yang Ditangkap Densus 88, Terlibat Pendanaan |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.