Senin, 27 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Trilogi Pembangunan Jemaat

MTPJ 30 April – 6 Mei 2023 – Umat Tuhan Milik Kristus

Kita akan menemukan karakter orang yang berbeda-beda dalam persekutuan jemaat dan masyarakat. Perbedaan karakter dapat memperkaya dan memperindah

Penulis: Aswin_Lumintang | Editor: Aswin_Lumintang
Kolase Foto Tribunmanado/Istimewa
Paulus Berpisah dengan Penatua di Efesus, Jemaat Menangis Tersedu-sedu 

Persekutuan bagai sebuah bangunan kekuatannya sangat ditentukan apa dasar yang telah diletakkan. Dasar persekutuan umat Allah ialah Yesus Kristus, karena itu entahkah orang akan membangun di atasnya dengan emas, perak, batu permata, kayu, rumput kering atau jerami kelak pekerjaan masing-masing akan nampak.

Benda-benda ini sebagai ilustrasi yang menggambarkan sesuatu yang kuat, tahan lama atau sebaliknya mudah musnah. Emas, perak, batu permata benda yang berkualitas dan kokoh, tidak mudah musnah, sedangkan kayu, rumput kering dan jerami sesuatu yang tidak bertahan lama dan mudah dimusnahkan.

Oleh karena itu Paulus berkata masing-masing akan diuji oleh api, jika pekerjaan seseorang tahan uji, akan mendapat upah.

Tidak dapat dipungkiri orang kadang membangun pelayanan karena kepentingan tertentu yang memicu konflik. Ada yang memisahkan diri dan membangun kelompok tersendiri.

Hendaklah pelayan Tuhan dan jemaat Tuhan melakukan pekerjaannya dengan baik dan benar serta hams tahan uji sabar, tekun, tahan bantingan menghadapi tantangan baik dalam keluarga maupun dari luar keluarga. Orang yang tahan uji akan mendapat upah.

Ada hal yang menarik dari ayat 15, yaitu “Jika pekerjaan terbakar, ia akan menderita kerugian, tetapi ia sendiri akan diselamatkan.” Di awal (ay.10) Paulus mengingatkan tentang harus memperhatikan bagaimana membangun di atasnya, tetapi bangunan di atasnya bisa saja terbakar, akan ada kerugian, tetapi keselamatan akan ia dapatkan, sekalipun dalam penderitaan, karena apa?

Tentu karena dasar dari bangunan itu Yesus Kristus. Kerugian pasti akan ada dalam pelayanan, tetapi keselamatan jangan sampai diambil dari kehidupan kita. Karena itu tetaplah hidup dalam pelayanan di dalam dan di atas dasar Yesus Kristus (ay 10 ­15).

Tentang keselamatan, lebih lanjut Paulus berkata: “Kamu adalah bait Allah”. Bait Allah tidak hanya berbicara tentang persekutuan orang percaya, tetapi juga berbicara tentang diri, tubuh manusia.

Konsep ini adalah bagian dari jawaban Paulus tentang kepercayaan lama orang-orang Yunani yang mengajarkan allah ada dan berdiam di dalam kuil-kuil tempat mereka beribadah.

Umat Allah menjadi tempat kediarnan Allah, karena itu bait Allah itu hams dipelihara, bait Allah adalah kudus, bait Allah adalah orang percaya. Orang percaya akan terus-menerus menyampaikan berita keselamatan yang telah dikerjakan oleh Yesus Kristus.

Jika ada yang akan membinasakan bait Allah, maka Allah akan membinasakan dia.

Bukan sebagai bentuk pembalasan yang terdorong oleh dendam melainkan penolalckan terhadap berita keselamatan adalah penolakan pada keselamatan itu sendiri. Itulah kebinasaan yang di alami oleh orang-orang yang menolak keselamatan dari Yesus Kristus (ay 16 – 17).

Sebagai bait Allah, manusia hams menjadi orang yang rendah hati. Paulus mengingatkan orang-orang yang merasa diri berpengetahuan, merasa diri berhikmat padahal hikmat menurut dunia, agar bertobat.

Orang yang angkuh, sombong, mengaku berhikmat padahal hikmat dunia adalah sikap yang menipu diri sendiri, sebab hikmat dunia adalah kebodohan bagi Allah. Sebaiknya orang yang demikian menjadi “bodoh” dalam pengertian merasa perlu banyak belajar.

Orang yang merasa ada banyak hal yang belum diketahui, mau mencari tahu, mau belajar, maka is akan beroleh hikmat. Tuhanlah yang memberikan hikmat.

Sumber: Tribun Manado
Halaman 2/3
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved