RHK Senin 17 April 2023
Renungan Harian Keluarga – Yohanes 20:12-13 Hindari Prasangka
Prasangka berbeda dengan asumsi. Asumsi adalah dugaan dengan landasan berpikir benar atau masuk akal.
Penulis: Aswin_Lumintang | Editor: Aswin_Lumintang
Yohanes 20:12-13
(12) dan tampaklah olehnya dua orang malaikat berpakaian putih, yang seorang duduk di sebelah kepala dan yang lain di sebelah kaki di tempat mayat Yesus terbaring.
(13) Kata malaikat-malaikat itu kepadanya: “Ibu, mengapa engkau menangis?” Jawab Maria kepada mereka: “Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan.”
----------------------------------
TRIBUNMANADO.CO.ID - Keluarga Kristen yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus.
Kehadiran malaikat Tuhan di kubur Yesus Kristus, sebenarya memberi jawab atas kegalauan Maria. Malaikat Tuhan bertanya: “Ibu Mengapa engkau menangis?” Jawab Maria: “Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan.” Ungkapan diambil orang adalah pendapat yang kurang baik berdasarkan emosi atau prasangka.
Prasangka berbeda dengan asumsi. Asumsi adalah dugaan dengan landasan berpikir benar atau masuk akal. Prasangka adalah anggapan negatif berdasarkan emosi.
Berprasangka bukanlah cara yang tepat mencari solusi dan masalah yang dihadapi. Justru akan menimbukan masalah baru. Masalah baru bagi yang berprasangka seperti kegalauan, kebingungan, kemarahan, kesedihan dan menangis.
Sedangkan bagi pihak yang tertuduh pasti akan bereaksi dengan sikap yang tidak menyenangkan. Prasangka muncul karena cara berpikir negatif dan emosional serta kurang pengalaman.
Baca juga: Bacaan Alkitab - Yohanes 20:11-12 Perempuan Untuk Kemuliaan Tuhan
Baca juga: MTPJ 16-22 April 2023 Yohanes 20:11-18 – Aku Telah Melihat Tuhan
Keluarga Kristen yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus.
Prasangka adalah manusiawi atau sering dialami banyak orang. Orang berprasangka karena kurang pengetahuan dan tidak memiliki keyakinan yang kuat. Prasangka sering terjadi pada orang yang labil emosi dan cara berpikimya.
Memang tidak ada manusia yang sempurna (no body’s perfect) karena setiap manusia memiliki keterbatasan insani. Malaikat Tuhan di dalam kubur sangat memahaminya. Terkesan Maria Magdalena menuduh siapa saja yang dia temui, termasuk Malaikat Tuhan.
Yang menarik adalah respon Malaikat Tuhan tidak merasa tertuduh dan emosi. Mereka justru berempati dengan bertanya, “Ibu Mengapa engkau menangis?” Empati adalah kemampuan memahami apa yang dipikirkan, dirasakan dan dipahami orang lain.
Malaikat Tuhan berempati terhadap keadaan Maria Magdalena.
Keluarga Kristen yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus.
Ada dua hal yang dapat menjadi pelajaran dari sikap Maria Magdalena dan sikap Malaikat Tuhan. Pertama, galau, panik, sedih dan menagis adalah wajar bagi setiap manusia kehilangan yang dicintainya.
Dalam keadaan seperti itu banyak orang yang lemah iman dan kurang pengetahuan berprasangka dan melakukan tindakan yang menyakiti dan tidak menyenangkan orang lain.
Bahkan menyakiti diri sendiri. Mengalami keadaan seperti Maria Magdalena, maka sebagai keluarga Kristen, kita diingatkan untuk berusaha mengendalikan emosi, tenang, sabar dan bijaksana menilai persoalan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/kisah-maria-magdalena-saksi-mata-penyaliban-yesus-dihormati-sebagaiorang-kudus-121212.jpg)