Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Renungan Harian

Renungan Harian, Amsal 24:16, Bangkitlah dan Menjadi Kuat

Renungan harian hari ini terdapat dalam Amsal 24:16 mengenai Bangkitlah dan Menjadi Kuat.

Editor: Tirza Ponto
thegoodbook.com
Renungan Harian, Amsal 24:16, Bangkitlah dan Menjadi Kuat 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Renungan harian hari ini mengenai Bangkitlah dan Menjadi Kuat yang terdapat dalam Amsal 24:16,

"Sebab tujuh kali orang benar jatuh, namun ia bangun kembali, tetapi orang fasik akan roboh dalam bencana."

Tribunners,

Sesulit apapun, hidup ini harus dijalani. Walaupun harus jatuh-bangun, tidak mengapa, tidak perlu berkecil hati. Semuanya itu merupakan dinamika hidup yang sering dialami banyak orang.

Sebagai orang percaya, kitapun harus memahaminya; bahwa orang-orang benar dapat juga mengalami kejatuhan (kegagalan) seperti orang lain pada umumnya. Bahkan bukan hanya satu kali, tetapi bisa berkali-kali. Bukan berapa kali jatuhnya yang kita perhatikan, tetapi bagaimana kita harus bangkit setiap kali jatuh.

Kejatuhan/kegagalan bisa terjadi karena kesalahan dan kelalaian kita sendiri, tetapi juga bisa terjadi karena kejahatan orang lain atau karena musibah. Namun apapun sumber penyebabnya, firman Tuhan mengajarkan agar kita bangkit dan tetap kuat.

Salah satu arti dari kata “bangun kembali” dalam ayat renungan hari ini, adalah to arise, become powerful (muncul menjadi kuat). Jadi, saat kita jatuh, kita harus bangkit dan menjadi lebih kuat dari sebelumnya.

Dalam pertandingan tinju, kita mengenal istilah “ boleh knock down, tetapi tidak boleh knock out”. Seorang petinju bisa jatuh, tetapi ketika ia bisa bangkit kembali, maka ia diperbolehkan melanjutkan pertandingan. Tetapi jika ia jatuh tergeletak tidak bisa bangkit lagi (KO), maka ia dinyatakan kalah.

Mazmur 37:23-24 menegaskan: TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya; apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya. Ketika orang benar jatuh, ia tidak jatuh sampai tergeletak! Artinya ia masih bisa bangkit untuk melanjutkan pertandingan. Mengapa? Sebab Tuhan yang menopang tangannya. Inilah kunci mengapa kita harus bangkit dari kejatuhan/kegagalan. 

Ada sebuah nasehat bijak dalam tradisi keluarga Tiongkok, yang diajarkan turun-temurun kepada anak-cucu, yaitu: “Bangkitlah di tempat di mana kamu jatuh”.  Ketika seorang anak kecil terjatuh saat belajar naik sepeda, maka orangtuanya mengingatkan dia dengan nasehat tersebut; sehingga si anak langsung bangkit berdiri dan mencoba mengayuh sepeda lagi. Semangat yang terkandung dalam nasehat tersebut, membuat si anak tidak mempedulikan rasa sakit yang dialaminya. 

Saat si anak sudah dewasa dan menjalankan bisnis, nasehat itu tetap menjadi semangatnya. Ketika usahanya jatuh/gagal karena ditipu orang atau karena kebakaran, ia bangkit dan tidak menyerah, ia tetap berusaha di bidang yang sama. Kisah ini sangat menginspirasi banyak orang, sehingga muncullah pepatah yang terkenal: “keberhasilan terbesar bukanlah karena tidak pernah gagal, tetapi bagaimana bisa bangkit setiap kali mengalami kegagalan.”

Saudara yang terkasih, mari renungkan, saat kita jatuh, apakah yang akan kita perbuat? Kebanyakan orang menjadi patah semangat, menyerah, mengasihani diri, cengeng, dan menyalahkan orang lain. Sebagai anak Tuhan, kita harus berani bangkit dan tetap kuat. Jangan fokus dengan rasa sakitnya, tetapi fokuslah memandang Tuhan yang siap menopang Anda.

Puji Tuhan. God bless your day…

Baca Berita Lainnya di: Google News

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved