Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Gorontalo

Mengenal Tradisi Dulialo dan Dembulo di Gorontalo, Budaya Menghibur Keluarga yang Berduka

Menurut Ali Mobiliu, Dulialo adalah budaya Gorontalo untuk menghibur keluarga yang berduka.

Editor: Alpen Martinus
Wikipedia
Peta Provinsi Gorontalo 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Gorontalo merupakan pemekaran dari Provinsi Sulawesi Utara dikenal memiliki sangat banyak budaya.

Namun tak sedikit pula yang sudah punah atau sedang menuju kepada kepunahan.

Satu di antaranya adalah tradisi Dulialo dan Dembulo.

Baca juga: Siaga Nataru, PLN Terjunkan 2.451 Personel Amankan Keandalan Listrik di Sulut, Sulteng dan Gorontalo


Ilustrasi  Warga sedang memasak bersama. (Kompas.com)

Tradisi tersebut sudah ada di Gorontalo sangat lama dan dilakukan turun temurun.

Tradisi itu sangat berkaitan dengan acara duka cita.

Ya, ternyata dua tradisi tersebut merupakan bentuk acara penghiburan.

Namun belakangan tradisi tersebut sudah agak jarang dilakukan.

Baca juga: 2061 Kepala Keluarga di Boalemo Gorontalo Terkena Dampak Banjir Bandang, Kabar Mereka Kini

Sekian banyak tradisi dan budaya Gorontalo yang disebut-sebut terancam punah. Dua di antaranya ada Dulialo dan Dembulo. 

Menurut Ali Mobiliu, Dulialo adalah budaya Gorontalo untuk menghibur keluarga yang berduka.

Ini merupakan tradisi para tetangga dan keluarga di hari pertama kedukaan. Biasanya masyarakat berbondong-bondong datang di kediaman kedukaan dengan membawa berbagai bahan-bahan masakan, seperti beras, rempah, sayuran serta lauk pauk lainnya.

Apa yang dibawa oleh para tetangga dan kerabat ini lalu dimasak bersama dan disajikan kepada keluarga yang berduka serta para pelayat. 

Baca juga: Lima Desa di Boalemo Gorontalo Diterjang Bajir Dari Luapan Dua Sungai, Warga Butuh Air Bersih

“Wujud nyata tradisi dulialo ini dapat dilakukan oleh kaum Ibu-ibu untuk membawa bahan-bahan makanan untuk dimasak di rumah keluarga yang berduka.” jelasnya, (19/12/2022)

Lanjut Pemerhati budaya Gorontalo itu, Dulialo sangatlah penting dilakukan, karena keluarga yang berduka masih terpukul atas kehilangan anggota keluarganya.

“Sehingga tidak memungkinkan menyajikan makanan bagi para pelayat terutama keluarga pelayat yang berasal dari kampung yang jauh,” katanya.

Halaman
12
Sumber: Tribunnews
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved