Hari Guru Nasional
Mengabdi di Perbatasan, Nasib Guru Honorer di Kepulauan Talaud Sulawesi Utara Perlu Diperhatikan
Di tengah Hari Guru Nasional dan HUT ke-77 PGRI, nasib guru honorer di Kepulauan Talaud masih tidak menentu. Mereka tetap mengabdi untuk mencerdaskan.
Penulis: Ivent Mamentiwalo | Editor: Isvara Savitri
TRIBUNMANADO.CO.ID, TALAUD - Pahlawan tanpa tanda jasa memang julukan yang pantas bagi sosok guru, terlebih untuk guru honorer.
Tak sedikit kisah yang memilukan muncul dari mereka.
Gaji tak seberapa, namun dedikasinya untuk generasi bangsa tak diragukan lagi.
Nasib para guru honorer di perbatasan ujung utara NKRI, memprihatinkan.
Sebut saja Maya Melato, salah satu guru honorer di Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara.
Meski umurnya sudah mendekati batas usia menjadi aparatur sipil negara (ASN), namun tekadnya untuk mengajar tak pernah pudar.
Jiwa dan raganya dihabiskan untuk mengajar para murid di perbatasan NKRI.
Buktinya, tak kurang dari empat tahun dirinya mengabdi sebagai guru honorer di salah satu sekolah dasar (SD) di Kecamatan Salibabu.
Ia berharap ada perhatian pemerintah padanya, namun faktanya justru terbalik.
Dia tidak masuk dalam daftar Tenaga Harian Lepas (THL) dan hanya berstatus honorer biasa.
Baca juga: Wali Kota Manado Andrei Angouw Cerita Kisah Guru Jepang dalam Peringatan Hari Guru Nasional
Baca juga: Neymar Menangis, Pincang Saat Keluar Lapangan, Pelatih Brasil Ungkap Hal Ini
Nasib yang sama juga dialami Sintia Wayong yang juga berstatus guru honorer.
Sudah memasuki empat tahun mengabdikan diri sebagai guru honorer, sampai saat ini belum ada kejelasan terkait nasib kedepannya.
Di momen Hari Guru Nasional 2022 dan HUT ke-77 PGRI ini, guru honorer tersebut hanya bisa berupaya melakukan tugas dengan penuh pengorbanan.
Peran mereka sebagai guru sering dianggap sederhana.
Padahal apa yang dilakukan memiliki dampak besar terkait mencerdaskan kehidupan bangsa.
