Senin, 8 Juni 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

RHK Selasa 8 November 2022

BACAAN ALKITAB - Keluaran 20:7 Hormati dan Agungkan Nama Tuhan

Dalam tradisi orang Timur, apalagi orang Manado (Sulut), tidak dibenarkan memanggil ayah atau ibu (orangtua) dengan namanya.

Tayang:
Penulis: Aswin_Lumintang | Editor: Aswin_Lumintang
pixabay.com
Bacaan Alkitab 

  Keluaran 20:7
TRIBUNMANADO.CO.ID - Dalam tradisi orang Timur, apalagi orang Manado (Sulut), tidak dibenarkan memanggil ayah atau ibu (orangtua) dengan namanya.

Haruslah papa-mama, mami-papi, ayah-ibu, atau sebutan terhormat lain lagi. Akan dianggap bersalah, tidak beretika dan tidak bermoral, jika seorang anak memanggil ayah dengan namanya. Pasti ada sanksi moral menyertainya.

Bahkan untuk memanggil kakak pun tidak boleh menyebut namanya. Haruslah dengan kata ganti yang menjadi tanda penghormatan.

Allah adalah nama yang Agung dan Indah
Allah adalah nama yang Agung dan Indah (iStock.com)

Misalnya kakak, bung, sist, bang, dll. Kepada adikpun menggunakan kata ganti sebagai tanda sayang sekaligus ungkapan mengayomi melindungi yang bersangkutan, yakni mas, dik, dinda dll. Hal yang sama juga kepada paman, bibi, kakek, nenek, orang yang lebih tua dan sebagainya.

Sangat tidak pantas bagi kita untuk menyapanya dengan menyebut namanya. Apalagi kalau dia seorang atasan kita.

Memanggil dengan kata ganti itu dimaksudkan untuk menyatakan rasa hormat, kagum, sayang, mengasihi bahkan melindunginya, entah itu orangtua, anak, kakak, adik, saudara, tetangga, teman sekerja, mitra kerja, atasan maupun bawahan dll.

Artinya, manusia pun tidak sembarangan menyebut atau memanggil nama sesamanya. Ada tatakrama ataupun etika sebagai kearifan lokal dalam menyebut nama ataupun memanggil seseorang.

Meski masing-masing orang ada nama, tidak berarti kita sembarangan menyebut dan memanggil nama orang. Sangat tidak etis dan tidak bermoral jika seorang anak kecil menyebut atau memanggil orang dewasa apalagi orang tua dengan menyebut namanya, meski ada sebagian masyarakat yang menjadikannya biasa. Tapi itu tak lumrah.

Manusia saja demikian, apalagi kepada Tuhan. Tuhan yang menciptakan kita. Tuhan yang memelihara, menjaga dan melindungi serta memberkati kita.

Dia pemilik kehidupan kita seutuhnya dan seluruhnya. Bahkan bumi di mana kita pijak, oksigen yang kita hirup gratis dan berbagai keajaiban dunia lainnya, adalah buatan tangan-Nya dan milik kepunyaan-Nya. Masakkan kita bisa seenaknya menyebut nama-Nya yang agung, kudus dan mulia itu?

Baca juga: Renungan Kristen, Senin 7 November 2022, 1 Yohanes 3:4 TB: Apa yang Kita Tabur, Itu yang Akan Dituai

Baca juga: RENUNGAN MALAM - Mazmur 94: 12 Teguran Allah Adalah Sebuah Berkat

Kalau kepada kakak, atasan, orangtua atau orang lain kita segan menyebut atau memanggil namanya karena rasa hormat, apalagi kepada Sang Khalik semesta alam dan jagat raya ini.

Pantaskah kita menyebut nama Tuhan dengan sia-sia, sembarangan dan sembrono? Layakkah kita disebut orang beriman kalau kita menyebut nama Tuhan seenaknya, semua kita, sesuka hati kita?
Inilah yang Allah maksudkan dengan hukum-Nya yang ketiga, yakni tentang: _"jangan menyebut nama Tuhan Allah dengan sembarang."_ Orang saja memandang bersalah kepada orang lain yang memanggilnya seenaknya. Apalagi Tuhan. Sudah pasti itu suatu kesalahan. Tuhan pasti memandang bersalah orang yang salah menggunakan nama Allah, terutama dalam menyebut dan manggil-Nya.

Demikian firman Tuhan hari ini.
 "Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan." (ay 7)_

Apakah berarti tidak boleh menyebut dan memanggil nama Tuhan Allah? Jelaslah boleh! Sebab yang Allah maksudkan bukan tidak boleh, tapi jangan menyebut sembarangan nama Tuhan Allah dengan sembarangan. Artinya kita boleh bahkan harus menyebut nama Tuhan dengan cara yang benar, baik dan tepat.

Kita harus menyebut dan manggil nama Tuhan dalam kesantunan, rasa hormat dan dalam kerendahan hati. Ketika kita menyebut nama Tuhan, ungkapkanlah dalam rasa kagum dan pengagungan nama-Nya yang mulia. Kita menyebut nama-Nya sebagai tanda syukur dan dan ungkapan pujian serta penyembahan kepada-Nya. Kita menyebut nama Tuhan sebagai ungkapan kasih kita yang sungguh disertai cinta yang tulus dalam ketaatan dan kesetiaan kepada-Nya.

Sumber: Tribun Manado
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved