Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Sulawesi Utara

Dunia Pendidikan Sulawesi Utara ‘Mandi Duit’, Tembus Rp 1 Triliun, Apa Hasilnya?

Dunia Pendidikan Sulawesi Utara (Sulut) mandi duit.Pemerintahan Gubernur Olly Dondokambey dan Wagub Steven Kandouw memberi porsi besar di APBD

Penulis: Ryo_Noor | Editor: Chintya Rantung
ryo noor/tribun manado
Kepala Dinas Pendidikan Sulawesi Utara, dr Grace Punuh 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Dunia Pendidikan Sulawesi Utara (Sulut) mandi duit.

Pemerintahan Gubernur Olly Dondokambey dan Wagub Steven Kandouw memberi porsi besar di APBD.

Kepala Dinas Pendidikan Sulut, dr Grace Punuh mengatakan, sudah sejak lama Gubernur Olly Dondokambey dan Wagub Steven Kandouw memprioritaskan sektor pendidikan, saking jumbonya anggaran pendidikan, bahkan melebihi anggaran infrastruktur di dinas lainnya.

“Kalau Sulut anggaran pendidikan itu lebih 20 persen, bahkan 30 persen,” ujar dia kepada tribunmanado.co.id, Rabu (4/10/2022).

Anggaran Pendidikan bisa tembus Rp 1 Triliun, kata Grace Punuh itu akumulasi dari APBD dan APBN

“Misalnya dana BOS (Bantuan Operasional Siswa) dan DAK (Dana Alokasi Khusus) sumbernya dari APBN, itu APBN yang di-APBD-kan,” katanya.

Dana BOS dan DAK itu langsung ditransfer ke rekening sekolah, namun tetap terhitung sebagai dana pendidikan.

“Dana BOS itu bisa tembus Rp 200 Miliar (SMA/SMK),” kata Mantan Kadis Kesehatan Sulut ini.

Selain itu ada lagi sumber dana pendidikan dari Dana Alokasi Umum (DAU).

Akumulasi anggaran itu pun bisa tembus Rp 1 Triliun.

Dana jumbo itu pun harusnya berimplikasi ke prestasi di dunia pendidikan Sulut.

Namun ada kritik soal peringkat pendidikan Sulut disebut di jajaran terbawah nasional.

Kadis Pendidikan Daerah pun sudah mendengar kritisi dimaksud. Ia mengatakan, kritisi peringkat harusnya mengacu pada hasil Ujian Nasional, padahal hal itu tak lagi relevan menguji peringkat dunia pendidikan. Pasalnya sejak 2021 tidak ada lagi penggunaan peringkat Ujian Nasional.

“Sudah dihapus Kementerian Pendidikan,” katanya.

Ekses negatifnya penggunaan peringkat Ujian Nasional, prestasi akhirnya hanya mengacu pada kelulusan saja, fokusnya lulus dengan peringkat.

“Kalau sekarang kan yang jadi acuan assessement nasional. Itu lebih fair, dan lebih komprehensif indikatornya,” ujarnya. (Ryo)

Sumber: Tribun Manado
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved