Manado Sulawesi Utara
Kisah Badut Lampu Merah di Manado Sulawesi Utara
Kisah Badut Lampu Merah di Kota Manado Provinsi Sulawesi Utara (Sulut). Jalan sambil goyang setiap kendaraan berhenti.
Penulis: Arthur_Rompis | Editor: Rizali Posumah
Selama itu ia musti terus berjoded. Bila panas gerah.
Peluh membasahi sekujur tubuhnya.
Sang badut terus memburu lampu merah.
Sepi di suatu tempat, ia musti pindah ke tempat lain.
"Pernah kami cari lampu merah di Minut," katanya.
Siang dia makan. Tapi dalam kondisi terbatas. Makan secukupnya.
"Dan masih harus pakai kaos badut," kata dia.
Saat bekerja, ia sering keserempet kendaraan.
Ada pula warga yang sengaja menyentuh untuk melecehkannya.
Untuk semua penderitaan itu, ia beroleh upah yang hanya cukup makan sehari.
"Tak banyak yang kami dapat, hanya untuk cari makan," katanya.
Gemerincing uang mendatangkan sukacita baginya.
Namun ada yang lebih tinggi dari sukacita yang sifatnya fana itu.
"Melihat orang tersenyum melihat kami, saat mereka stres, apalagi anak anak, itulah yang membuat kami senang," katanya. (Art)
• Harapan Ibu Gading Marten Tak Terwujud, Inginkan Hal Ini Saat Masih Jalani Perawatan
• Operasi Zebra Samrat 2022 Hari Pertama, Satlantas Polres Sangihe Sulawesi Utara Jaring 15 Pelanggar
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/kisah-badut-lampu-merah-di-manado-sulawesi-utara.jpg)