Sabtu, 11 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Waspada, Rokok Elektrik Picu Penyakit Jantung Usia Muda, Ini Penjelasannya

Terjadi peningkatan hampir 200 persen untuk yang merokok menggunakan rokok elektrik

Editor: Alpen Martinus

TRIBUNMANADO.CO.ID - Sudah banyak warga Indonesia yang mengganti rokok biasa dengan rokok elektrik.

Banyak yang beranggapan bahwa rokok biasa lebih berbahaya dibanding rokok elektrik.

Bahkan ada yang tadinya tak merokok, malam memilih rokok elektrik.

Baca juga: Aldo Ditangkap Polisi, Curi Rokok Elektrik di Vape Store Langowan, Kerugian Capai Rp.11 Juta

namun nyatanya, rokok elektrik tak beda berbahaya dari rokok biasa.

Perubahan gaya hidup yang berkembang pesat membuat penyakit jantung kini tidak hanya menyerang mereka yang berusia tua.

Tren menunjukkan, terjadi peningkatan kasus penderita penyakit jantung pada usia yang lebih muda.

Perubahan ini terjadi sebagai akibat dari peningkatan prevalensi obesitas darah tinggi merokok dan kolesterol tinggi di usia muda.

Baca juga: Mengenal Jenis-jenis Rokok Elektrik dan Bahayanya Bagi Saluran Pernapasan

Ilustrasi rokok elektrik.
Ilustrasi rokok elektrik. (NET)

“Terdapat peningkatan prevalensi serangan jantung pada usia kurang dari 40 tahun sebanyak 2 persen setiap tahunnya dari tahun 2000 sampai 2016,” ucap Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia dr. Radityo Prakoso, SpJP (K) dalam kegiatan Hari Jantung Sedunia, Rabu (28/9/2022).

Salah satu penyakit jantung yang mengalami lonjakan kasus pada mereka yang berusia muda adalah penyakit jantung koroner. 

Penyakit jantung koroner terjadi karena ada sumbatan pada pembuluh koroner baik akibat deposit kolesterol atau inflamasi (peradangan).

Baca juga: Beredar Anggapan Rokok Elektrik Tidak Berbahaya Bagi Perokok Pasif, Benarkah?

Gaya hidup tidak sehat menjadi penyebab paling umum dari penyakit jantung koroner di usia muda. 

Masyarakat diimbau untuk menerapkan pola hidup bersih dan sehat, berhenti merokok, berhenti makan makanan berlemak, berhenti konsumsi alkohol, dan rajin olah raga minimal 30 menit sehari.

Di kegiatan yang sama, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Eva Susanti mengatakan faktor risiko lain adalah konsumsi gula, garam, dan lemak yang tidak terkontrol.

Serta terjadi peningkatan prevalensi perokok pada kisaran umur 10 hingga 18 tahun.

“Terjadi peningkatan hampir 200 persen untuk yang merokok menggunakan rokok elektrik,” katanya.

Hari Jantung Sedunia jatuh setiap tanggal 29 september. Tema yang diusung tahun ini adalah ‘Use Heart for Every Heart’.

Hari Jantung Sedunia merupakan momentum bagi masyarakat untuk meningkatkan kepedulian terkait kesehatan kardiovaskular yaitu penyakit jantung dan pencegahannya.

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com

Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved