3 Tanda Penyebab Hate Speech Sering Terjadi di Media Sosial Menurut Pakar Psikolog Internet UGM

Kebebasan dalam menggunakan media sosial membuat hate speech atau ujaran kebencian sering ditemui di berbagai platform media sosial

Editor: Erlina Langi
Istimewa
3 tanda penyebab hate speech sering terjadi di media sosial menurut pakar Psikolog Internet UGM 

Haidar menjelaskan bahwa pelaku-pelaku ujaran kebencian dari kategori trolling ini tidak didorong oleh perasaan benci kepada kelompok tertentu.

Melainkan, mereka melontarkan ujaran kebencian malah untuk mendapatkan kenikmatan atau kesenangan pribadi.

“Jadi mereka itu memperoleh kenikmatan dengan membuat orang lain susah. Trolling ini, mereka melakukan itu karena itu menyenangkan, itu menghibur bagi mereka. Jadi bukan karena mereka ingin memperoleh status yang lebih tinggi, bukan masalah uang atau bukan masalah apapun, niatnya itu murni untuk menghibur diri mereka sendiri,” jelas Haidar.

Mengacu kepada keilmuan psikologi, Haidar menjelaskan para pelaku trolling tersebut diklasifikasikan kepada bentuk kepribadian sadism, di mana mereka memperoleh kesenangan dari kegiatan membuat orang menderita.

Misalnya ketika seseorang mem-posting hari bahagia mereka layaknya ulang tahun dan lain sebagainya, lalu tiba-tiba saja ada yang berkomentar negatif seperti menjelek-jelekkan bentuk tubuh dan lain sebagainya.

Oleh karena komentar menjelek-jelekkan tersebut, orang yang membuat posting kemudian merasa kesal atau marah.

Ketika sang pembuat posting tersebut kesal, marah, atau jengkel, maka pelaku trolling mendapatkan kesenangannya.

“Semakin emosi kita, itu membuat mereka semakin senang,” tutur Haidar.

Baca juga: 5 Zodiak Paling Julid yang Pernah Ada, Sebaiknya Jangan Terlalu Dekat Dengan Mereka

3. Tanpa identitas

Haidar juga mengungkapkan bahwa ujaran kebencian juga didorong oleh kondisi dalam dunia internet itu sendiri.

Haidar menjelaskan dunia internet atau maya memungkinkan seorang untuk mendapati anonimitas alias tidak diketahui langsung identitasnya.

Dengan kondisi anonimitas tersebut, seseorang akan menjadi lebih berani dan leluasa melontarkan ujaran kebencian.

“Oleh karena dapat anonim, maka para netizen lebih berani untuk dan lebih mungkin untuk menyampaikan pandangan dan perasaan mereka,” pungkas Haidar.

Telah terbit di Kompas.com

Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved