Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

3 Tanda Penyebab Hate Speech Sering Terjadi di Media Sosial Menurut Pakar Psikolog Internet UGM

Kebebasan dalam menggunakan media sosial membuat hate speech atau ujaran kebencian sering ditemui di berbagai platform media sosial

Editor: Erlina Langi
Istimewa
3 tanda penyebab hate speech sering terjadi di media sosial menurut pakar Psikolog Internet UGM 

TRIBUNMANADO.CO.ID - 3 tanda penyebab hate speech sering terjadi di media sosial menurut pakar Psikolog Internet UGM

Kebebasan dalam menggunakan media sosial, nampaknya perkataan yang diucapkan juga mulai tak terkontrol pada beberapa orang.

Berbagai platform sering digunakan oleh sebagian orang dengan menggunakan akun-akun tak dikenal untuk memprofokasi seseorang atau komunitas tertentu.

Hal tersebut membuat hate speech atau ujaran kebencian masih kerap ditemui di berbagai platform media sosial, seperti facebook, instagram, twitter dan lainnya.

Diketahui pada tahun 2021 lalu, topik soal "Microsoft" menjadi trending di Twitter setelah perusahaan itu merilis laporan terbaru Digital Civility Index (DCI) yang mengukur tingkat kesopanan digital pengguna internet dunia saat berkomunikasi di dunia maya.

Dalam riset tersebut, warganet Indonesia menempati urutan terbawah se-Asia Tenggara atau bisa disebut paling tidak sopan di wilayah tersebut.

Lantas mengapa ujaran kebencian kian marak terjadi di internet?

tanda penyebab hate speech sering terjadi di media sosial menurut pakar Psikolog Internet UGM
3 tanda penyebab hate speech sering terjadi di media sosial menurut pakar Psikolog Internet UGM

Baca juga: 11 Penyebab Mengapa Seseorang Tetap Bertahan Walau Dalam Toxic Relationship dan Susah Melepaskannya

Pakar Psikolog Internet yang merupakan dosen Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Haidar Buldan Tantowi mengatakan bahwa ujaran kebencian dapat didorong oleh berbagai faktor.

1. Ada prasangka negatif

Haidar menjelaskan, faktor pertama pemicu ujaran kebencian karena dalam pribadi netizen ada prasangka negatif kepada kelompok tertentu, misalnya ada penilaian bahwa sebuah kelompok, agama, atau etnis tertentu tidak beradab, pelit, sangat eksklusif dan lain sebagainya.

Oleh karena adanya prasangka tersebut, terang dia, para netizen mendapati perasaan tidak suka terhadap kelompok lainnya, kondisi ini senantiasa mendorong mereka melontarkan ujaran kebencian.

“Kalau dia (seseorang) memang memiliki prasangka yang tinggi terhadap kelompok atau agama tertentu, ya dia bisa (saja) melakukan hate speech,” tutur Haidar dikutip dari laman Universitas Gadjah Mada.

2. Senang membuat orang lain susah

Ujaran kebencian juga bisa jadi terjadi dari perilaku trolling. Orang yang berprilaku trolling ini berbeda dengan orang dengan prasangka buruk.

Haidar menjelaskan bahwa pelaku-pelaku ujaran kebencian dari kategori trolling ini tidak didorong oleh perasaan benci kepada kelompok tertentu.

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved