Jumat, 24 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Brigadir J Tewas

Terungkap Rapat Kecil Sebelum Pembunuhan Brigadir J, Bharada E Hanya Terima Perintah, Putri Menangis

Rapat kecil sempat berlangsung sekitar 20 menit sebelum Irjen Ferdy Sambo mengeksekusi Brigadir J. Dalam rapat tersebut Ferdy Sambo tampak marah.

Editor: Isvara Savitri
Dok. Kompas.com
Bharada E Lihat Putri Menangis di Lantai Tiga, Rapat Kilat untuk Bunuh Brigadir J di Rumah Dinas Komplek Polri, Duren Tiga. 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Sebelum Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J ditembak, beberapa orang melakukan rapat kecil di rumah pribadi mantan Kadiv Propam Polri, Irjen Ferdy Sambo.

Rumah pribadi Ferdy Sambo terletak di Jalan Saguling III, Kompleks Pertambangan, Duren Tiga, Jakarta Selatan, atau sekitar 500 meter dari rumah dinas yang menjadi lokasi pembunuhan Brigadir J.

Rapat kecil tersebut berlangsung selama kurang lebih 20 menit.

Rapat tersebut dihadiri para eksekutor Brigadir J, yaitu Ferdy Sambo, Putri Candrawathi, Bripka Ricky Rizal atau Bripka RR dan Bharada Richard Eliezer atau Bharada E.

"Jadi memang, ada proses waktu di lantai 3, ketika klien saya dipanggil ke dalam suatu ruangan meeting, ruangan rapat, bahwa ternyata memang sudah ada Ibu PC ini membicarakan mengenai tentang almarhum Yosua," ucap Ronny Talapessy dikutip dari YouTube TV One.

Putri Candrawathi (PC) dan rombongan ajudan termasuk sopir Kuat Maruf baru pulang dari Magelang.

Rapat, menurut Ronny berlangsung sangat singkat bagi Bharada E.

Ronny menyebut kliennya tanpa motif.

Dalam hal rapat persiapan eksekusi Brigadir J itu, Bharada E hanya menerima perintah eksekusi.

Ia tidak ikut dalam perbincangan perencanaannya.

Di dalam ruangan di lantai tiga itu ada Putri Candrawathi, Ferdy Sambo dan Bripka Ricky Rizal (RR), sesama ajudan seperti Bharada E.

"Jadi perlu saya sampaikan, klien saya tidak berbicara, tetapi klien saya melihat bahwa ibu PC itu ada di ruangan lantai 3. Jadi pertemuannya itu Ibu PC, Pak FS, kemudian saudara RR. Kemudian yang terakhir dipanggil adalah Bharada E ini. Yang panggil itu saudara RR," ujar Ronny.

Bharada E tidak mengetahui banyak perangai kedua bosnya itu.

Namun dalam situasi pembahasan ekesekusi Brigadir J, ia melihat Putri Candrawathi menangis.

Baca juga: Ingat Puspa Dewi? Dulu Viral Nenek Tercantik, Kabarnya Kini Usia 50 Tahun, Lihat Wajahnya

Baca juga: Kasus Pertama Cacar Monyet Muncul di Indonesia, Masyarakat Diminta Tak Panik Namun Waspada

Sedangkan Ferdy Sambo dalam keadaan marah.

"Klien saya menyampaikan bahwa waktu kejadian itu Ibu PC dalam keadaan menangis. Kemudian Bapak FS ini dalam keadaan marah. Nanti detailnya, ini kan nanti menjadi pembelaan di pengadilan," beber Ronny.

Seperti diketahui, yang terjadi setelahnya adalah Brigadir J benar-benar dieksekusi di rumah dinas Kompleks Polri Duren Tiga, jakarta Selatan, yang jaraknya sekira 500 meter dari Saguling III.

Bharada E melaksanakan tugasnya sebagai eksekutor.

Hampir satu tahun dinas bersama sebagai ajudan, Bharada E meletuskan beberapa tembakan ke Brigadir J.

Sementara Ferdy Sambo membuat rekayasa baku tembak dengan menembakkan peluru ke dinding memberikan efek.

Soal kabar Ferdy Sambo turut menembak Brigadir J masih harus dibuktikan.

Bharada E Lihat Putri Menangis di Lantai Tiga, Rapat Kilat untuk Bunuh Brigadir J di Rumah Dinas Komplek Polri, Duren Tiga.
Bharada E Lihat Putri Menangis di Lantai Tiga, Rapat Kilat untuk Bunuh Brigadir J di Rumah Dinas Komplek Polri, Duren Tiga. (Warta Kota/ Ramadhan LQ)

Setelah sebulan lebih penyidikan, Bharada E diumumkan sebagai tersangka pembunuhan dengan pasal 338 KUHP juncto 55 dan 56 KUHP.

Sedangkan, Ferdy Sambo bersama Bripka RR dan Kuat Maruf tersangka pembunuhan berencana. Mereka dijerat pasal 340 KUHP subsider 338 KUHP juncto 55 dan 56 KUHP.

Terbaru, Putri Candrawathi juga ditetapkan sebagai tersangka pembunuhan berencana pada Jumat (19/8/2022).

Penjelasan Terbaru Bareskrim Polri

Putri Candrawathi ada di lantai 3 saat Brigadir Yosua Hutabarat alias Brigadir J tewas ditembak mati di rumah dinas suaminya di Kompleks Polri Duren Tiga, Jakarta Selatan.

"(Putri) Ada di lantai 3 saat Ricky dan Ricard saat ditanya kesanggupan untuk menembak almarhum Josua," kata Kabareskrim Polri Komjen Agus Andrianto saat dikonfirmasi, Sabtu (20/8/2022).

Di sisi lain, Agus menyatakan Putri diduga menjadi salah satu orang yang menggiring Brigadir J ke Tempat Kejadian Perkara (TKP).

Baca juga: Rudal Rusia Hantam Perumahan di Dekat Pembangkit Nuklir, 12 Orang Terluka

Baca juga: Sosok Rasiman, Pelatih Persis Solo Ganti Jacksen F Tiago, Langsung Siapkan Skuad Jamu Madura United

Brigadir J diminta ke rumah dinas bersama Bripka Ricky Rizal, Bharada Richard Eliezer dan Kuat Maruf.

"(Perannya) mengajak berangkat ke Duren tiga bersama RE, RR, KM, Alm J," jelasnya.

Tak hanya itu, Agus menuturkan bahwa Putri Candrawathi juga diduga turut mengikuti skenario yang dibangun oleh suaminya, Ferdy Sambo terkait kematian Brigadir J.

Termasuk, kata Agus, Putri juga turut menjanjikan sejumlah uang kepada tiga tersangka lainnya.

Uang itu diberikan terkait rangkaian kematian Brigadir J.

"Mengikuti skenario yang dibangun oleh FS, bersama FS saat menjanjikan uang kepada RE, RR dan KM," pungkasnya.

Deolipa Yumara Sebut Ferdy Sambo Psikopat

Deolipa Yumara, mantan Kuasa Hukum Bharada Richard Eliezer atau Bharada E disebut ikut menembak Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat (Brigadir J).
Deolipa Yumara, mantan Kuasa Hukum Bharada Richard Eliezer atau Bharada E disebut ikut menembak Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat (Brigadir J). (Istimewa/Internet/HO)

Sebelumnya, mantan pengacara Bharada Richard Eliezer Pudihang Lumiu alias Bharada E, Deolipa Yumara, menyebut sosok eks Kadiv Propam Polri, Irjen Ferdy Sambo seorang psikopat.

Menurutnya, Ferdy Sambo berkeinginan menjadi Kapolri dan presiden RI.

"Psikopat Ferdy Sambo, ini psikopat ini, sudah kita deteksi lama dia ingin jadi Kapolri, kita deteksi juga sejak lama dia ingin jadi presiden," ujar Deolipa di kediamannya, Depok, Jawa Barat, Sabtu (20/8/2022).

Deolipa juga mengatakan Ferdy Sambo seorang biseksual.

Dia berpendapat seperti itu berdasarkan ilmu psikologi yang dipelajarinya.

"Dia adalah biseksual. Biseksual ini suka sama wanita, suka juga sama pria, tingkat cemburunya tinggi. Karena dia bisa bercinta dengan beberapa orang. Orang biseksual ini, menurut ilmu psikologi yang sudah lama saya pelajari di psikologi UI sejak lama, orang biseksual ini punya tingkat cemburu yang tinggi ke arah psikopatik, ke arah panik dan gila. Untung saja kami deteksi orang ini sudah sejak 2 tahun kemarin," katanya.

Ia pun memastikan bahwa Brigadir Nopriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J dan Bharada E bukanlah LGBT atau biseksual seperti dugaan sejumlah pihak.

Baca juga: Pantas Farel Prayoga Tak Mau Pindah ke Jakarta Meski Sudah Tenar, Ternyata Cuaca Jadi Alasannya

Baca juga: Penasihat Ahli Kapolri Sebut Ada Penumpang Gelap Pada Kasus Pembunuhan Brigadir J, Gagasannya Bahaya

Deolipa bilang Brigadir J maupun Bharada E merupakan korban Ferdy Sambo.

"Dari perkara ini saya sampaikan saudara Eliezer bukan seorang LGBT, saudara Yosua bukanlah LGBT, karena mereka mempunyai pacar masing-masing dan dalam komunikasi dalam kamar masing-masing mereka menyayangi kekasihya dan taat akan Tuhan," kata Deolipa.

"Saya sampaikan saudara Eliezer adalah korban kekejaman seorang psikopat. Saya sampaikan saudara Yosua adalah korban seorang psikopat," tambahnya.(*)

 

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Tegang, 20 Menit Jelang Eksekusi Brigadir J: Bharada E Terima Perintah, Putri Candrawathi Menangis.

Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved