Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Nasional

Kisah Petrus Penembak Misterius Era Soeharto yang Habisi Kutu-kutu Bangsa Indonesia, 713 Orang Tewas

Cerita tentang Pasukan Penembak Misterius atau Petrus yang dikenal sebagai pembasmi para pelaku kriminalitas di era orde baru. Ratusan orang tewas.

Editor: Frandi Piring
Kolase Foto Dok. Merdeka.com/Tribunnews
Kisah Petrus Penembak Misterius Era Soeharto yang Habisi Kutu-kutu Bangsa Indonesia, yakni premanisme dan perampok di era Orde Baru. Dalam medio 1983-1985 tercatat total ada 713 orang yang tewas. 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Sebuah kisah sejarah Indonesia, pasukan Petrus ( Penembak Misterius ) di era pemerintahan Presiden Soeharto, pemburu para 'kutu-kutu' bangsa Indonesia kala itu.

Pasukan Petrus dikenal sebagai pembasmi para pelaku kriminalitas di era orde baru.

Di antara lain, pelaku kriminal premanisme hingga perampokan.

Pasukan Petrus ini menjadi mesin efektif menekan kriminalitas di nusantara di rezim Soeharto.

Bahakan, semua preman dan yang memiliki catatan hitam, ketakutan setengah mati menunggu giliran kapan dihabisi.

Melansir dari berbagai sumber, Presiden Soeharto disebut menjadi orang paling bertanggung jawab atas fenomena ngeri tersebut.

Dalam dokumen yang dimiliki Kon­­tras (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan), Petrus berawal dari operasi pe­nang­gulangan kejahatan di Jakarta.

Takut Ditembak, Petrus Kabur ke Jambi Setelah Bunuh Mardianto

Pada tahun 1982, Soeharto memberikan peng­har­gaan kepada Kapolda Metro Jaya, Mayjen Pol Anton Soedjarwo atas keber­ha­silan membongkar perampokan yang meresahkan masyarakat.

Pada Maret tahun yang sama, di hadap­an Rapim ABRI (sekarang TNI), Soehar­to meminta polisi dan ABRI mengambil lang­kah pemberantasan yang efektif me­ne­kan angka kriminalitas.

Hal yang sama diulangi Soeharto dalam pidatonya tanggal 16 Agustus 1982.

Permintaannya ini disambut oleh Pang­­­kopkamtib Laksamana Soedomo da­lam rapat koordinasi dengan Pangdam Ja­ya, Kapolri, Kapolda Metro Jaya dan Wagub DKI Jakarta di Markas Kodam Metro Ja­ya tanggal 19 Januari 1983.

Dalam rapat itu diputuskan untuk melakukan Operasi Clurit di Jakarta, langkah ini kemudian diikuti oleh kepolisian dan ABRI di ma­sing-masing kota dan provinsi lainnya.

Operasi Clurit yang notabene sama de­ngan Petrus ini memang signifikan, untuk tahun 1983 saja tercatat 532 orang tewas, 367 orang di antaranya tewas akibat luka tembakan.

Halaman
1234
Sumber: Sriwijaya Post
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved