Human Interest Story
Rabi Yaakov Baruch, Keturunan Yahudi Belanda yang Tumbuh di Keluarga Beda Agama
Mengenal Sosok Rabi Yaakov Baruch, Keturunan Yahudi Belanda yang Tumbuh di Keluarga Beda Agama.
Penulis: Rizali Posumah | Editor: Rizali Posumah
Manado, TRIBUNMANADO.CO.ID - Jalan Raya di Kelurahan Rerewokan, Kecamatan Tondano Barat, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, menjadi patokan Tribun Manado menuju komplek Sinagoge Shaar Hasyamayim.
Kami datang pada hari Sabtu (12/2/2022) pagi.
Maksud kedatangan kami ingin bertemu Rabi Yaakov Baruch (40), pemimpin Komunitas Yahudi di Sulawesi Utara.
Tiba di sana, kami menunggu sejenak di samping Sinagoge.
Tak berapa lama, sesosok pria dengan setelan jas hitam datang menyambangi kami. Dialah Yaakov Baruch.
Ia mempersilahkan kami masuk ke dalam Sinagoge, melihat langsung prosesi ibadah Sabat umat Yahudi.
Ada belasan orang yang hadir. Sepuluh pria, empat wanita dewasa dan tiga anak-anak.
Usai ibadah, Rabi Yaakov Baruch mengajak kami mengunjungi Museum Holocaust, berada persis di dekat Sinagoge.
Museum ini diresmikan pada tanggal 27 Januari 2022, dan menjadi Museum Holocaust pertama di Indonesia dan Asia Tenggara. Nama resminya Indonesia Holocaust Museum.
Sembari menuturkan sejarah Holocaust, Rabi Yaakov Baruch menunjukan 19 koleksi gambar yang menampilkan adegan kekejaman Nazi terhadap umat Yahudi Eropa di masa Perang Dunia II (1939 – 1945).
Ada banyak hal yang kami tanyakan kepada Rabi Yaakov Baruch. Terutama soal keputusannya kembali ke agama nenek moyangnya, Yahudi.
Awal mula menemukan Keyahudian
Rabi Yaakov Baruch dilahirkan pada tanggal 14 November 1982 di Jakarta dari keluarga beda keyakinan.
Hidup dalam keluarga yang menjunjung tinggi toleransi membuat Yaakov tumbuh sebagai pribadi yang open minded.
Ia bergaul dan dekat dengan siapa saja.
Keputusannya untuk kembali ke agama nenek moyangnya, Yahudi, muncul pertama kali saat ia bercerita dengan nenek sebelah ibunya, Sylvia Van Beugen.
Waktu itu, Yaakov masih duduk di bangku SMP. Neneknya memberitahukan kepada Yaakov bahwa ia adalah keturunan Yahudi.
Dari cerita nenek itulah ia kemudian serius menelusuri silsilah keluarganya.
Ia lantas mendapati kenyataan, bahwa kakek buyut dari garis keturunan ibunya yakni Elias van Beugen adalah imigran Yahudi Belanda.
Namun sudah sejak lama keluarga ibunya berpindah dari agama Yahudi.
Yaakov Baruch kemudian mendalami Yahudi di Singapura dan memutuskan untuk memimpin Sinagoge di Sulawesi Utara pada tahun 2004.
"Dari beliau (Sylvia Van Beugen) sehingga saya menjalani kehidupan sebagai Rabi Yahudi seperti sekarang ini," ujar Yaakov kepada Tribun Manado, Sabtu (12/2/2022) lalu.
Meski sebagai keturunan Yahudi, ia bisa saja memilih agama lain selain Yahudi.
Namun Rabi Yaakov Baruch yakin, sebagai orang yang dilahirkan dari keturunan Yahudi, ia percaya Tuhan punya rencana untuk memakai dirinya melestarikan keyahudian di Indonesia.
"Saya meminjam quotes dari Rabbi Hillel: kalau bukan kita siapa lagi, kalau bukan sekarang kapan. Jadi harus kita sendiri," ujar dosen Hukum Humaniter dan Hukum Internasional di Fakultas Hukum Universitas Sam Ratulangi Manado ini.
Yahudi bagi Yaakoov Baruch
“Yahudi bukanlah agama misionari atau dakwah. Masuk boleh tapi lewat proses yang sulit,” ujar Rabi Yaakov Baruch.
Rabi Yaakov bercerita tentang komunitas Yahudi di Sulawesi Utara.
Kata dia, keturunan Yahudi di Sulawesi Utara itu sebenarnya banyak sekali.
Keturunan ini berasal dari Yahudi Belanda yang datang ke Indonesia termasuk di Sulawesi Utara pada masa kolonial.
"Beberapa persen dari orang Belanda (yang datang ke Indonesia) itu adalah orang Yahudi. Cuma angka estimasi pasti saya tidak punya. Saya tidak berani berspekulasi ya, karena seorang akdemis," ujar dia.
Tidak semua dari para keturunan Yahudi ini menganut agama Yahudi.
Hanya beberapa yang merasa terpanggil.
Rabi Yaakov termasuk di antara mereka yang merasa terpanggil untuk kembali ke Yahudi.
Namun di Sulut ada beberapa orang yang bukan keturunan Yahudi yang konversi atau memeluk agama Yahudi.
"Kurang lebih umat Yahudi di Sulawesi Utara itu ada sekitar 30-an orang," ujar dia.
Proses masuk agama Yahudi tidak mudah.
Siapa yang ingin masuk agama Yahudi akan ditolak tiga kali, dan penolakan itu berlangsung selama 6 tahun.
"Kalau dia serius, dia bisa dipertimbangkan untuk masuk Yahudi," ujar dia.
Yaakov menuturkan, dalam konsep agama Yahudi, semua orang di luar Yahudi bisa masuk surga tanpa harus masuk agama Yahudi.
"Siapa saja. Orang Kristen relijius, orang Islam relijius, mereka bisa masuk surga dengan jalan mereka sendiri" ujar dia.
Umat Yahudi, kata dia, percaya Tuhan menciptakan manusia dengan visi yang berbeda-beda.
Orang Yahudi dengan Taurat, orang non Yahudi di luar Taurat.
"Keseimbangan ini sudah dijaga oleh Tuhan. Jadi kita tidak mencari pengikut," terang dia.
Meski begitu, kata Yaakov, Yudaisme sendiri tidak membolehkan perkawinan beda agama.
Pasangan seorang Yahudi harus juga orang Yahudi.
Apabila ada orang yang sudah berkeluarga dan ingin konversi ke Yahudi, maka dia harus mengajak serta pasangan dan anak-anaknya masuk Yahudi.
Perbedaan agama dalam keluarga Yahudi dibolehkan apabila seorang anak berumur di atas 12 tahun dari keluarga yang bukan Yahudi memilih konversi sendiri ke Yahudi sementara orang tuanya tetap dalam agama mereka.
Sebagai orang tua, Yaakov mengaku akan membimbing anak-anaknya sesuai dengan ajaran Taurat agar mereka kelak tidak menikahi pasangan di luar Yahudi.
“Seandainya mereka (anak-anak Yaakov) ingin menikah dengan non-Yahudi maka tidak ada pilihan lain bagi pasangan mereka, selain konversi terlebih dahulu ke Yudaisme supaya bisa dinikahkan secara Yahudi,” terang dia.
Toleransi bagi Yaakoov Baruch
Yaakov memandang toleransi sebagai bentuk saling menghormati dengan batasan-batasan tertentu.
Menurutnya orang sering salah kaprah dengan tolenrasi.
Baginya, inti dari toleransi adalah menerima keberagaman, menerima orang yang berbeda. Namun jangan atas nama toleransi lalu melanggar aturan agama (sendiri).
“Misalnya dalam perayaan sebuah agama, ada agama yang melarang menggunakan atribut agama lain. Sehingga jangan atas nama toleransi, lalu kita pakai atribut itu, padahal tidak boleh,” ujar dia kepada tribunmanado.co.id.
Kata dia, toleransi itu harus proporsional dan objektif.
“Jangan berkoar-koar toleransi, di saat yang sama menunjukkan sikap intoleransi,” katanya.
Yaacov menilai, toleransi di Indonesia masih sangat dangkal. Karena masih banyak yang gagal paham dengan kata Toleransi.
“Mereka terjebak dengan istilah rukun dan damai padahal Toleransi itu berbicara sikap dewasa kita dalam menerima perbedaan pandangan atau keyakinan dari orang lain yang tidak seiman dengan kita.
Kenapa saya katakan dangkal? Karena masih banyak yang suka menilai agama lain dari kacamata agamanya sendiri,” terang dia.
Keluarga beda agama.
Keputusan Yaacov Baruch menganut Yahudi tidak membuat ayahnya, Toar Palilingan kaget.
Karena sejak awal, keluarga ini tidak mempermasalahkan perbedaan agama.
Toar Palilingan adalah penganut Kristen Protestan dan bersuku Minahasa.
Sementara ibunya Almarhumah Cilia Damopolii adalah penganut Islam dan bersuku Mongondow.
Sejak kecil Yaakov Baruch sudah diperkenalkan dengan nilai-nilai agama.
"Betapa jahatnya orang tua jika menanamkan sikap sinisme pada anaknya.
Orang-orang pada waktu itu mungkin berprasangka kalau dia memiliki dua kepribadian karena perbedaan agama orang tua,” ujar Toar Palilingan saat diwawancarai Tribunmanado.co.id, awal November 2018 lalu di ruang kerjanya.
Sebagai orang tua, Toar Palilingan menyiapkan pemondokan, menyekolahkan, hingga memenuhi kebutuhan Yaakov Baruch.
Meski begitu, dirinya tidak bisa mengatur pikiran anaknya.
Toar Palilingan dan istrinya menilai, keputusan Yaakov Baruch menganut Yahudi justru merupakan hal yang positif.
Yaakov mencari Tuhan dengan jalan spiritualnya sendiri.
“Undang-undang mengatur secara detail tentang hak asasi manusia dalam memeluk agama.
Dengan perspektif itu kami hidup dengan pemaknaan itu. Namun bukan semata-mata sebagai orangtua kami lepas kendali.
Dia kan saat itu juga tak meminta untuk menjadi penjahat,” terang ahli Hukum Tata Negara ini.
Sebagaimana didikan yang dia terapkan kepada Yaakov Baruch, begitu pula yang dia lakukan untuk kedua cucunya, anak Yaakov Baruch.
Cucu pertama Toar Palilingan sudah mulai mengerti, ia banyak bertanya soal agama pada kakek, nenek, serta ibu dan ayahnya.
Di hari Sabtu anak-anak ini ikut ayahnya beribadah di Sinagoge. Pada Minggu mereka ikut kakeknya di gereja. Mereka pun belajar Muslim dari mama dan nenek mereka.
Selain ketiga agama ini, dua anak ini juga mendapat pengetahuan agama lainnya di Indonesia seperti Budha Hindu dan Konghucu.
Namun keluarga ini tak mengenalkan secara mendalam seperti tiga agama dalam keluarga mereka, yakni Islam, Kristen dan Yahudi.
“Dulu keluarga saya malah lebih beragam. Saya punya anak angkat, dia Katolik. Sekarang sudah Sarjana Hukum dan menikah.
Waktu saya adopsi, dia dari keluarga tak mampu. Sementara itu, orang yang bantu-bantu di keluarga saya dari Advent,” kata Toar Palilingan.
Setiap tahun, ada tiga perayaan besar agama yang dirayakan keluargaa ini.
Mereka tinggal serumah, apalagi Yaakov Baruch memang anak tunggal dari istri pertama Toar Palilingan.
Saat natal, sanak saudara dan kerabat datang mengunjungi Toar Palilingan.
Saat Idul Fitri, mereka mengunjungi istrinya.
Sementara saat perayaan Yahudi tiba mereka mengunjungi Yaakov Baruch di Sinagoge.
Silahturahmi keluarga Toar Palilingan dan almarhumah istrinya masih terjalin baik hingga kini.
Ia kerap pula mengunjungi keluarga almarhumah istrinya di Kotamobagu.
Bagi Toar Palilingan kunci harmonisnya keluarga mereka adalah pemahaman untuk saling mengerti dan memahami perbedaan.
Menurutnya, butuh wawasan untuk memiliki cara pandang soal perbedaan, khususnya agama.
Pemahaman itu kemudian menimbulkan kekuataan untuk menjalankan toleransi tak hanya di kulit luar, tapi menelusup hingga ke jiwa.
Meski berbeda, agama yang mereka anut masih agama Samawi atau agama Abrahamik, agama yang dipercaya berakar dari Ibrahim atau Abraham, yakni Yahudi, Kristen dan Islam.
Agama ini memiliki definisi akan Tuhan yang jelas, punya penyampai risalah seperti nabi atau rasul dan mempunyai wahyu dari Tuhan yang diwujudkan dalam kitab suci.
Kesamaan ini pun membuat Toar Palilingan dan keluarganya tak sulit menemukan banyak titik temu.
Meski begitu, keluarga ini memandang semua agama mengajarkan hal-hal baik.
Mereka pun saling belajar memahami dan menghormati ajaran agama masing-masing.
Tak hanya itu, mereka juga saling mengingatkan dan saling menegur satu dengan lainnya. Misalnya ketika ada konflik agama yang menjadi isu hangat.
Dalam suasana kekeluargaan, pertanyaan sering muncul, “Apa agama kamu memang mengajarkan itu?” Dengan gaya bercanda, namun tetap berisi pesan teguran dan mengingatkan.
“Pertanyaan seperti itu akan ditanggapi berbeda jika disampaikan di luar suasana kekeluargaan. Karena kami sudah saling mengerti sehingga hal seperti itu sering dibawa bercanda,” ujarnya.
****
Liputan ini merupakan bagian dari Program Workshop dan Story Grant Pers Mainstream yang digelar oleh Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) atas dukungan The Netherlands Embassy.
• Pelaku Perjalanan di Bitung Sulawesi Utara yang Belum Vaksin Booster Wajib Rapid Test dan PCR
• Ramalan Zodiak Jumat 15 Juli 2022, Aries Bakal Tersesat, Cancer Cari Pelarian
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/Foto-Rabi-Yaakov-Baruch-40-pemimpin-Komunitas-Yahudi-di-Sulawesi-Utara.jpg)