Human Interest Story
Rabi Yaakov Baruch, Keturunan Yahudi Belanda yang Tumbuh di Keluarga Beda Agama
Mengenal Sosok Rabi Yaakov Baruch, Keturunan Yahudi Belanda yang Tumbuh di Keluarga Beda Agama.
Penulis: Rizali Posumah | Editor: Rizali Posumah
"Beberapa persen dari orang Belanda (yang datang ke Indonesia) itu adalah orang Yahudi. Cuma angka estimasi pasti saya tidak punya. Saya tidak berani berspekulasi ya, karena seorang akdemis," ujar dia.
Tidak semua dari para keturunan Yahudi ini menganut agama Yahudi.
Hanya beberapa yang merasa terpanggil.
Rabi Yaakov termasuk di antara mereka yang merasa terpanggil untuk kembali ke Yahudi.
Namun di Sulut ada beberapa orang yang bukan keturunan Yahudi yang konversi atau memeluk agama Yahudi.
"Kurang lebih umat Yahudi di Sulawesi Utara itu ada sekitar 30-an orang," ujar dia.
Proses masuk agama Yahudi tidak mudah.
Siapa yang ingin masuk agama Yahudi akan ditolak tiga kali, dan penolakan itu berlangsung selama 6 tahun.
"Kalau dia serius, dia bisa dipertimbangkan untuk masuk Yahudi," ujar dia.
Yaakov menuturkan, dalam konsep agama Yahudi, semua orang di luar Yahudi bisa masuk surga tanpa harus masuk agama Yahudi.
"Siapa saja. Orang Kristen relijius, orang Islam relijius, mereka bisa masuk surga dengan jalan mereka sendiri" ujar dia.
Umat Yahudi, kata dia, percaya Tuhan menciptakan manusia dengan visi yang berbeda-beda.
Orang Yahudi dengan Taurat, orang non Yahudi di luar Taurat.
"Keseimbangan ini sudah dijaga oleh Tuhan. Jadi kita tidak mencari pengikut," terang dia.
Meski begitu, kata Yaakov, Yudaisme sendiri tidak membolehkan perkawinan beda agama.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/Foto-Rabi-Yaakov-Baruch-40-pemimpin-Komunitas-Yahudi-di-Sulawesi-Utara.jpg)