Liputan Khusus Kelelawar Hitam
Hilangnya Kelelawar Hitam Mengancam Kepunahan Buah
Kelelawar diketahui memiliki peranan penting dalam proses penyerbukan, pemencar biji-bijian, pupuk organik, serta pengendali hama
Penulis: Isvara Savitri | Editor: Finneke Wolajan
Shera menyebut, produksi buah durian di Sulut saat ini, kemungkinan dipengaruhi oleh penyerbukan lebah atau kelelawar fajar yang tidak diburu masyarakat. Jika dibandingkan dengan daerah lain, produksi buah durian di Minahasa minim karena baik lebah maupun kelelawar fajar tidak mampu terbang sejauh kelelawar hitam.
Minimnya produksi durian di Minahasa juga mempengaruhi harga pasaran durian lokal. Harga durian lokal dianggap lebih mahal dibanding durian dari Sulteng. Olviani menyebut, harga durian lokal berkisar Rp 35.000-Rp 200.000 per buah. “Sedangkan kalau dari Sulteng karena harga borongannya murah, saya jual merata Rp 35.000-Rp 100.000 per buah,” tutur Olviani.
Padahal, harga durian lokal seharusnya bisa lebih murah karena tidak membutuhkan biaya transportasi yang besar dibanding buah durian dari daerah lain yang harus menempuh waktu distribusi selama berhari-hari.
Selain membantu penyerbukan tanaman bernilai ekonomi tinggi seperti durian, kelelawar juga memiliki peran ekologi dalam menjaga keanekaragaman hutan karena fungsinya sebagai penyebar benih (Ransaleleh et al. 2021; Seltzer et al. 2013; Deshpande and Kelkar 2015; Lartey et al. 2016). Founder Konservasi Kelelawar Sulawesi (KKS), Jusuf Kalengkongan, menyebut keberadaan kelelawar hitam dibutuhkan mengingat deforestasi di Sulawesi semakin parah. Hal ini berkaitan dengan peran kelelawar hitam yang juga sebagai pemencar biji-bijian.
“Kalau ada kelelawar kita tidak perlu repot-repot menanam pohon di hutan,” ucap Jusuf. Lewat peran kelelawar, biji-bijian yang ditebar kelelawar selama penjelajahannya, akan tumbuh dengan sendirinya. Itulah kondisi alami terbentuknya hutan. (Tribunmanado.co.id/Isvara Savitri)
Liputan ini merupakan program Fellowship "Meliput Kepunahan Senyap" kerjasama The Society of Indonesian Science Journalists (SISJ) dan Earth Journalism Network (EJN).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/Seorang-warga-memegang-kelelawar-hitam-Pteropus-alecto-dfbgfgfgfh.jpg)