Liputan Khusus Kelelawar Hitam

Hilangnya Kelelawar Hitam Mengancam Kepunahan Buah

Kelelawar diketahui memiliki peranan penting dalam proses penyerbukan, pemencar biji-bijian, pupuk organik, serta pengendali hama

Penulis: Isvara Savitri | Editor: Finneke Wolajan
Peneliti BP2LHK Manado, Diah Irawati Dwi Arini
Seorang warga memegang kelelawar hitam (Pteropus alecto). Kelelawar hitam diketahui sebagai salah satu penyerbuk utama bunga durian. 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Perburuan dan perdagangan masif kelelawar hitam (Pteropus alecto) tak hanya memicu kepunahan satwa tersebut melainkan juga biodiversitas di Sulawesi. Beragam jenis buah-buahan kini turut terancam punah, di antaranya durian.

Tingginya konsumsi masyarakat Manado akan durian terekam dari data Badan Pusat Statistik. Tahun 2021, permintaan buah durian di Indonesia mencapai 217.100 ton, sebagaimana dikutip dari Lokadata. Secara khusus di Sulawesi Utara (Sulut), diperkirakan setiap orang mengkonsumsi minimal 1 buah durian per bulan.

Kebutuhan akan buah durian tak mampu dipenuhi oleh produksi lokal sehingga banyak didatangkan dari luar daerah. Pedagang durian di Manado, Cicin (45), menceritakan durian yang ia jajakan kebanyakan datang dari Toli-toli, Poso, dan Palu. Dalam sepekan, masuk 1.200 buah dari wilayah Sulteng. Sedangkan dari Minahasa masuk 1.000 buah setiap pekan.

Baca juga: Kelelawar Hitam: Tersaji di Meja Makan, Nyaris Punah di Alam

Buah durian yang dijajakan Olviani Mamonto (29) kebanyakan berasal dari Sulawesi Tengah, Selasa (24/5/2022).
Buah durian yang dijajakan Olviani Mamonto (29) kebanyakan berasal dari Sulawesi Tengah, Selasa (24/5/2022). (Tribunmanado.co.id/Isvara Savitri)

Meski permintaan konsumen cukup besar, pedagang durian lainnya, Olviani Mamonto (29), menyebut pasokannya kerap tersendat. Petani membatasi pasokan durian maksimal 2 bulan sekali per pedagang. Kalau di satu daerah terjadi gagal panen, pedagang harus berjuang mencari pasokan baru dari tempat lain. Padahal, ia harus memenuhi 150-350 permintaan buah durian per hari.

Kelelawar Hitam Sebagai Penyerbuk Utama Bunga Durian

Berdasarkan data BPS tahun 2020, Sulteng yang merupakan pemasok utama buah durian ke Sulut. Produksi dari daerah itu mencapai 19.382 ton. Bandingkan dengan Sulut yang hanya memproduksi 6.849 ton durian.

Terbatasnya jumlah durian di Sulut diduga terkait menghilangnya kelelawar hitam di sana. Kelelawar diketahui memiliki peranan penting dalam proses penyerbukan, pemencar biji-bijian, pupuk organik, serta pengendali hama. Tanpa kehadiran kelelawar hitam inilah, berbagai jenis tanaman buah termasuk durian, takkan menghasilkan.

Penelitian Sheherazade, Co Executive Director Prakarsa Konservasi Ekologi Regional Sulawesi (PROGRES) Sulawesi, membuktikan kelelawar sebagai penyerbuk utama bunga durian. Ia melakukan serangkaian penelitian di Sulawesi Barat (Sulbar) terhadap proses penyerbukan bunga durian dengan melibatkan kelelawar, lebah, dan bunga durian yang tidak mendapat penyerbukan sama sekali. Pengamatan dilakukan dengan memasang kamera sembunyi (camera trap) untuk mengetahui binatang yang paling berpengaruh terhadap penyerbukan bunga durian.

Kelelawar hitam (Pteropus alecto) yang banyak mendiami beberapa daerah di Sulawesi. (Sumber:
Kelelawar hitam (Pteropus alecto) yang banyak mendiami beberapa daerah di Sulawesi. (Sumber: (Co Executive Director PROGRES Sulawesi dan Peneliti Kelelawar, Sheherazade)

“Dalam penelitian kami, ada bunga durian yang ditutup menggunakan jaring sehingga tidak bisa diakses siapapun, ada yang ditutup menggunakan jaring tetapi diberi lubang agar bisa diakses lebah, dan ada yang tidak ditutup sama sekali sehingga bisa diakses kelelawar,” terang Shera.

Dalam penelitiannya yang berjudul Contributions of bats to the local economy through durian pollination in Sulawesi, Indonesia (2019), Shera menyebut bunga durian mekar di malam hari sehingga penyerbukan membutuhkan binatang yang juga aktif di malam hari (nokturnal) seperti kelelawar. Saat penyerbukan, kelelawar menyentuh kepala sari dan kepala putik tanpa merusak bunga durian. Sebaliknya, satwa lainnya merusak bunga atau tidak menyentuh kepala sari dan kepala putik.

Dari penelitian tersebut, kelelawar hitam juga terbukti menduduki posisi kedua sebagai penyerbuk paling berpengaruh terhadap bunga durian setelah kelelawar fajar (Eonycteris spelaea). Kelelawar hitam mampu membantu penyerbukan tujuh bunga durian pada pohon yang berbeda dengan total 15 kali kunjungan selama 3 menit. Kemampuan terbang hingga sejauh 50 kilometer juga mendorong tingginya daya jangkau penyebaran serbuk sari ke kepala putik pohon durian.

“Kelelawar fajar hanya bisa terbang sejauh 38 kilometer, sedangkan kelelawar hitam bisa sampai 50 kilometer. Kemampuan kelelawar hitam lebih signifikan, bisa membantu penyerbukan pohon durian yang letaknya berjauhan. Lebih bagus karena bisa menciptakan keragaman genetik karena pohonnya tidak berkerabat dekat,” jelas Shera.

Daging kelelawar yang dijual di Pasar Tomohon, Kota Tomohon, Sulawesi Utara, Sabtu (14/5/2022).
Daging kelelawar yang dijual di Pasar Tomohon, Kota Tomohon, Sulawesi Utara, Sabtu (14/5/2022). (Tribunmanado.co.id/Isvara Savitri)

Apalagi, pohon durian di Sulawesi biasanya ditanam tidak dalam satu wilayah, melainkan berdampingan dengan perkebunan buah lainnya atau justru berada di sela-sela hutan sekunder yang tentunya membutuhkan binatang dengan kemampuan terbang jarak jauh seperti kelelawar. Paling dekat, buah durian ditanam dengan jarak 20-50 meter antara pohon durian satu dengan pohon durian lainnya.

Produksi Buah Durian di Sulut Menurun Seiring Punahnya Koloni Kelelawar Hitam

Halaman
12
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved