Breaking News:

Hari Lahir Pancasila

Momen Presiden Soekarno saat Membedah Pancasila di Sidang Umum PBB: Keadilan Asli dari Manusia

Pancasila yang menjadi dasar negara Republik Indonesia pertama kali diperkenalkan kepada dunia melalui forum Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa

Istimewa
Momen Presiden Soekarno saat Membedah Pancasila di Sidang Umum PBB: Keadilan Asli dari Manusia 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Seluruh masyarakat Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila pada hari ini, Rabu (1/6/2022).

'Bangkit Bersama Membangun Peradaban Dunia' dipilih sebagai tema peringatan Hari Lahir Pancasila 2022.

Pancasila merupakan dasar negara serta falsafah bangsa Indonesia.

Baca juga: Masih Ingat Raline Shah? Pernah Tak Diajak Liburan Keluarga di Hawai, Karena Tak Juara 1 di Sekolah

Pancasila yang menjadi dasar negara Republik Indonesia pertama kali diperkenalkan kepada dunia melalui forum Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Peristiwa itu terjadi pada 30 September 1960.

Saat itu Presiden Sukarno diberi kesempatan menyampaikan pidato di Sidang Umum PBB yang berjudul Membangun Dunia Kembali (To Build The World A New).

Dikutip dari situs Kepustakaan Presiden Perpustakaan Nasional Indonesia, teks pidato Sukarno di Sidang Umum PBB itu sepanjang 28 halaman.

Sedangkan di dalam pidato itu dia menyinggung Pancasila sebanyak 23 kali.

Menurut Bung Karno, sapaan Sukarno, Pancasila adalah lima sendi negara yang tidak berpangkal kepada gagasan Manifesto Komunis atau Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat.

"Memang, gagasan-gagasan dan cita-cita itu, mungkin sudah ada sejak berabad-abad telah terkandung dalam bangsa kami. Dan memang tidak mengherankan bahwa faham-faham mengenai kekuatan yang besar dan kejantanan itu telah timbul dalam bangsa kami selama dua ribu tahun peradaban kami dan selama berabad-abad kejayaan bangsa, sebelum imperialisme menenggelamkan kami pada suatu saat kelemahan nasional," kata Sukarno dalam pidato.

Sukarno lantas membedah makna setiap sila dalam Pancasila

. Pertama adalah soal Ketuhanan Yang Maha Esa.

Dalam pidato itu, Sukarno menyampaikan bangsa Indonesia terdiri dari beragam pemeluk agama.

Maka dari itu, kata Sukarno, walau memeluk keyakinan yang berbeda tetapi rakyat tetap menempatkan Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai falsafah yang paling utama dalam hidup.

Halaman
123
Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved