Berita Sulut
Menilik Pembuatan Gula Aren di Minahasa Utara
Agustina bersama sang suami, Yundri Goni, diketahui memproduksi gula aren di wilayahnya sejak dua tahun lalu.
Penulis: Isvara Savitri | Editor: Rizali Posumah
Manado, TRIBUNMANADO.CO.ID - Agustina Pandoli, seorang perempuan asal Poso, Sulawesi Tengah (Sulteng) telah memproduksi gula aren sejak tahun 1998.
Profesi tersebut tak ia tinggalkan meski sudah pindah ke Talawaan, Minahasa Utara (Minut), Sulawesi Utara (Sulut).
Agustina bersama sang suami, Yundri Goni, diketahui memproduksi gula aren di wilayahnya sejak dua tahun lalu.
Sebagai pemain tunggal di wilayahnya, Agustina dan Yundri mendapat banyak permintaan baik dari toko kelontong maupun pedagang pasar setiap harinya.
Bahkan, kini gula aren buatan mereka bahkan sudah menembus pasar ekspor ke tiga negara di Asia yaitu Hongkong, Jepang, dan Singapura.
Dalam sehari, Agustina dan Yundri bisa memproduksi 20 biji gula aren yang membutuhkan sekitar lima liter air nira sebagai bahan dasar.
Agustina mulai memproduksi gula aren sejak pukul 08.00 Wita setiap harinya.
Sebelumnya, Yundri menyadap pohon nira selama 10-12 jam untuk mendapatkan airnya.
Proses menyadap pohon nira harus dilakukan sehari sebelumnya agar keesokan paginya bisa langsung produksi gula aren.
"Prosesnya dilakukan kurang lebih selama delapan jam. Air nira yang didapat langsung direbus di dalam wajan yang besar dan dipanaskan menggunakan tungku," terang Agustina, Kamis (21/4/2022).
Agustina dan Yundri menggunakan kayu bakar untuk memasak air nira menjadi gula aren.
Keduanya menyebut, penggunaan kayu bakar juga memiliki kekurangan yang berkaitan dengan faktor cuaca.
"Kalau musim hujan susah mau cari kayu bakar kering. Biasanya harus dipanaskan dulu supaya kayu bakar yang basah menjadi kering," tambah Yundri.
Gula aren yang direbus dalam panci besar terus diaduk hingga mengental dan dicetak menggunakan batok kelapa.
Gula aren Agustina memiliki dua ukuran, yaitu ukuran besar dan ukuran kecil.