Manado
Cerita Nelayan Bahu yang Bertahun-tahun Merindukan Tambatan Perahu
Ombak menghantam ketika Melky hendak berusaha masuk muara sebelum menambatkan perahu.
Penulis: Fernando_Lumowa | Editor: Handhika Dawangi
TRIBUNMANADO.CO.ID, Manado - Melky Mangantara tak menyangka bakal apes, Rabu (06/04/2022).
Warga Kelurahan Bahu lingkungan I, Kecamatan Malalayang, Manado ini tak beruntung ketika pulang melaut.
Harapan meraih rupiah untuk nafkahi keluarga pupus. Melaut sejak Selasa malam, ia datang datang dengan enam ember 'ikang putih' (teri).
Baca juga: Stunting di Sulut Tembus Ribuan Kasus, Gubernur Olly Dondokambey Prioritaskan Penanganan
Baca juga: Brigjen TNI Mukhlis dan Okti Nuzufa Mukhlis Peduli Anggota, Selalu Ingin Tahu Kesulitan Prajurit
Baca juga: Akhirnya Terungkap Alasan Miyabi Sengaja Rahasiakan Kedatangannya dari Vicky Prasetyo, Ketakutan?

Dantje Paiman menunjukkan tempat puluhan perahu nelayan Bahu ditambatkan di sisi muara Sungai Bahu, Kelurahan Bahu lingkungan I, Manado, Rabu (06/04/2022). (Tribun Manado/Fernando Lumowa)
Harapan tinggal harapan. Perahunya terbalik ketika hendak masuk muara Sungai Bahu.
Ombak menghantam ketika Melky hendak berusaha masuk muara sebelum menambatkan perahu.
Perahu terbalik, bahateng (penyeimbang cadik) depan dan belakang patah. Motor tempel dan genset terendam.
Enam ember ikang putih raib bersama gulungan ombak di muara.
Biasanya, seember ikang putih dijual Rp 600 ribu ke pedagang perantara.
Melky tinggal meratap. Tatapannya kosong. Ia bersyukur selamat. Tak ada luka dan cidera. "Syukur tidak apa-apa," katanya lirih.
Musibah yang menimpa Melky bukan pertama kali. Perahu nelayan terbalik di mulut muara Sungai Bahu saat cuaca kurang bersahabat tak dapat dihitung dengan jari.
Nelayan Bahu punya banyak cerita tentang perahu digulung ombak. "Bukan baru satu dua," kata Dantje Paiman, Ketua Kelompok Nelayan Goropa Bahu.
Katanya, tidak adanya tambatan perahu membuat nelayan sering berhadapan dengan risiko kecelakaan ketika hendak masuk muara.
Selama ini, bertahun-tahun, nelayan Bahu menambatkan perahu di tempat seadanya. Di ceruk sisi kanan mulut Sungai Bahu. Di situ, puluhan perahu berjejal.
Dantje bilang, jika ada tambatan perahu, nelayan aman. Ketika cuaca kurang bersahabat, perahu bisa ditambatkan di tempat aman.
"Karena tidak ada tambatan, harus masuk melawan arus. Sementara arus kencang, bertemu dengan ombak, itu yang bikin perahu tabobale (terbalik)," katanya.
Dantje bilang, kerinduan itu sudah sering disampaikan ke pemerintah. Ia pernah menyampaikan langsung ke Gubernur Sulut, Olly Dondokambey ketika meninjau lokasi mereka menambatkan perahu.
"Itu sekitar awal periode kedua Pak Gub," kata pria yang aktif melayani di GMIM Imanuel Bahu ini.
Selain ke Gubernur, nelayan Bahu juga menyampaikan aspirasi ke Wali Kota Manado.
"Pernah juga ke Kepala Dinas Kelautan Perikanan Sulut dan Manado tapi sampai saat ini belum realisasi," katanya.
Dantje mewakili puluhan kepala keluarga nelayan di Bahu lingkungan I. Bahkan, sebagian nelayan di LOS (Lorong Orang Sanger) Malalayang juga menambatkan perahu di muara Sungai Bahu.
Katanya, tambatan perahu yang dibutuhkan standar saja. Panjang ke arah laut 70 meter dan lebarnya 50 meter.
"Tidak perlu besar. Itu sudah cukup untuk melindungi perahu ketika musim barat seperti ini," kata pria yang sudah 40 tahun lebih jadi nelayan.
Katanya, di tengah kondisi cuaca yang tak menentu seperti saat ini, sebagian besar nelayan tak melaut.
Kalaupun ada yang nekat, harus berhadapan dengan risiko tadi.
"Ombak di sini kalau berangin bisa satu sampai satu setengah meter," katanya.
Menurutnya, ada sekitar 70-an kepala keluarga yang berprofesi nelayan di Kelurahan Bahu. 30-an di antaranya punya profesi nelayan sekaligus tukang.
Mereka tergabung di empat kelompok nelayan. Selain Goropa yang dipimpin Dantje, ada kelompok Flying Fish, Clown Fish dan Kakap.
"Ada hampir 500 jiwa yang menggantungkan hidup di laut," kata Dantje. (ndo)