Manado
Cerita Nelayan Bahu yang Bertahun-tahun Merindukan Tambatan Perahu
Ombak menghantam ketika Melky hendak berusaha masuk muara sebelum menambatkan perahu.
Penulis: Fernando_Lumowa | Editor: Handhika Dawangi
Dantje bilang, kerinduan itu sudah sering disampaikan ke pemerintah. Ia pernah menyampaikan langsung ke Gubernur Sulut, Olly Dondokambey ketika meninjau lokasi mereka menambatkan perahu.
"Itu sekitar awal periode kedua Pak Gub," kata pria yang aktif melayani di GMIM Imanuel Bahu ini.
Selain ke Gubernur, nelayan Bahu juga menyampaikan aspirasi ke Wali Kota Manado.
"Pernah juga ke Kepala Dinas Kelautan Perikanan Sulut dan Manado tapi sampai saat ini belum realisasi," katanya.
Dantje mewakili puluhan kepala keluarga nelayan di Bahu lingkungan I. Bahkan, sebagian nelayan di LOS (Lorong Orang Sanger) Malalayang juga menambatkan perahu di muara Sungai Bahu.
Katanya, tambatan perahu yang dibutuhkan standar saja. Panjang ke arah laut 70 meter dan lebarnya 50 meter.
"Tidak perlu besar. Itu sudah cukup untuk melindungi perahu ketika musim barat seperti ini," kata pria yang sudah 40 tahun lebih jadi nelayan.
Katanya, di tengah kondisi cuaca yang tak menentu seperti saat ini, sebagian besar nelayan tak melaut.
Kalaupun ada yang nekat, harus berhadapan dengan risiko tadi.
"Ombak di sini kalau berangin bisa satu sampai satu setengah meter," katanya.
Menurutnya, ada sekitar 70-an kepala keluarga yang berprofesi nelayan di Kelurahan Bahu. 30-an di antaranya punya profesi nelayan sekaligus tukang.
Mereka tergabung di empat kelompok nelayan. Selain Goropa yang dipimpin Dantje, ada kelompok Flying Fish, Clown Fish dan Kakap.
"Ada hampir 500 jiwa yang menggantungkan hidup di laut," kata Dantje. (ndo)